30 Sep 2010

Pasar Ngangkruk & Gunung Kuli






Pasar Dasaran, barang dagangan ditaruh terhampar
Pasar Ngangkruk, berarti Pasar yang "ngangkruk-angkruk" berarti pasar yang terletak di dataran yang lebih tinggi daripada dataran di sekitarnya. Posisinya persis di bagian barat kaki Bukit Kuli (baca : ngGunung Kuli) di Desa Podosoko, Kec. Sawangan - Kab. Magelang - Jawa Tengah. Di sekitarnya memang datarannya terlihat lebih rendah. Lokasi Pasar di perempatan dari arah Tampir Kec. Candimulyo menuju Soronalan Kec. Sawangan dan arah Pager Kec. Candimulyo menuju Jambon Kec. Sawangan.

 Pasar ini tidak seperti pasar pada umumnya. Pada tahun 1970-an saya masih ingat, bahwa Pasar Nangkruk hanya berupa perempatan jalan yang mirip pelataran sekitar 0,5 Ha yang dibatasi dengan bangunan 2 warung sederhana.  Tidak ada bangunan Los Pasar, pagar, atau bangunan fasilitas sebagaimana Pasar pada umumnya. Masyarakat datang ke pasar hanya secara naluri bahwa lokasi tersebut adalah tempat transaksi jual beli bahan kebutuhan sehari-hari. Jenis transaksi didominasi oleh penjualan hasil bumi kepada tengkulak (bakul) yang akan memasarkan barang pembeliannya ke Pasar yang lebih besar di sekitarnya. Uniknya, Pasar ini mulai ramai pada jam 01.00 wib dan puncak keramaian pada jam 04.00 wib. Setelah jam 04.00 sedikit demi sedikit pengunjung yang sebagian besar adalah Pedagang/Bakul transit mulai meninggalkan lokasi Pasar dan pergi menuju Pasar Transit yang lebih besar di sekitarnya, seperti Pasar Bulu di bagian barat Desa Podosoko, pasar Ngesengan (Gangsan), Pasar Banyu Temumpang (Desa Krogowanan) dan Pasar Talun di Kec. Dukun. Jam 06.00 wib Pasar sudah kembali kosong melompong. Istilah populernya "Pasar Krempyeng".
Kirab Gunungan

Pasar Transit di Tlatar, 12 Km dari Psr Ngangkruk
Menurut cerita Mbah Ali putri (Mbah saya dari Dsn. Gelap), pada jaman Belanda Pasar Ngangkruk menjadi pusat perhatian bagi tentara Belanda, karena menjadi lokasi berkumpulnya pedagang transit, sekaligus tempat pengungsian bagi Penduduk yang bermukim di sekitar Gunung Kuli jika suatu saat Belanda melancarkan agresi militer dengan menembakkan meriam dari Alun-alun Magelang yang jaraknya ± 10 Km. Penduduk sekitar Gunung Kuli mempercayai, kalau Gunung Kuli adalah tempat keramat, merupakan "paku bumi" dan umurnya lebih tua daripada G. Merapi dan G. Merbabu. Masyarakat (pada waktu itu) mempercayai bahwa G. Kuli juga dipercaya mempunyai hubungan dengan kekuasaan Nyi Roro Kidul yang kadang-kadang bertandang dari Laut Selatan menuju G. Kuli. Kuatnya kepercayaan itu, warga sekitar memanfaatkan lokasi G. Kuli sebagai tempat pengungsian pada saat diserbu tentara Belanda.

Cerita lain sekitar hiruk pikuk keramaian Pasar Ngangkruk pada jaman Belanda melancarkan serangan pada malam hari pas ramai-ramianya orang di pasar menyusuri jalan rintisan dari Magelang menuju Desa-desa Kec. Candimulyo melintas ke arah selatan menuju Kec. Sawangan, maka penduduk di pasar lari tunggang langgang, sampai banyak pedagang bubur dan makanan terinjak-injak kualinya karena semua orang tidak begitu jelas pandangan pad malam hari dan penerangan hanya menggunakan "oncor" atau pelita bambu.

Festival Gunungan, Podo Ds Podosoko, Agustus 2017
Sekarang tahun 2010, selama 40 tahun sejak saya lihat pertama kali, kondisi pasar Pasar Ngangkruk belum banyak berubah baik fisik lokasi Pasar maupun fasilitas selayaknya Pasar. Perempatan jalan masih kurang lebih sama. Nama Pasar Ngangkruk masih melekat pada lokasi ini. Justru hiruk-pikuk penduduk sekitar untuk berdatangan ke pasar pada pagi dini hari sudah tidak nampak sama sekali. Jaringan akses jalan aspal antar Kecamatan (Candimulyo -  Sawangan) yang melewati Pasar Ngangkruk belum juga terwujud. Karakter Pasar sudah hilang. Penduduk sekitar lebih memilih memasarkan hasil bumi langsung ke Pasar Bulu dengan angkutan yang relatif murah ongkosnya yaitu sekitar Rp.5000,- sekali jalan. Kalau ke Pasar Talun atau Muntilan, maka hasil bumi yang dijual dengan jumlah terbatas, tidak akan menguntungkan para petani karena ongkos sudah mahal, sementara kenaikan harga pasaran hasil bumi yang berupa jagung, singkong, kelapa, daun pisang, sirih (inflasi nilai barang) tetap saja tidak bisa mengejar tingginya inflasi nilai rupiah.


Akankah Pasar Ngangkruk hidup kembali?
Mari kita belajar membaca fenomena yang terjadi di sekitar kita, untuk melihat prospek kedepan. Sekilas kita cermati tanpa menggunakan data-data hasil analisis qoestionair.
Kondisi Pasar menunjukkan identitas masyarakat di sekitarnya. Bisa kita lihat, barang-barang yang diperdagangkan, tindak-tanduk pedagang dan peristiwa keseharian yang menyertai pasar,  itulah karakter dan kemakmuran masyarakat termasuk di dalamnya kondisi kesuburan tanah di sekitarnya.  Kita perhatikan, barang dagangan pasar yang terlihat di pasar Soko, Talun, Bulu, sungguh suatu karakter barang dagangan (hasil bumi) yang sudah dimasuki teknologi. Sayur mayur yang hijau kehitaman, ranum, beraneka rupa dan jenis serta dalam jumlah melimpah, itulah karakter masyarakat sekitarnya yang rajin bekerja, tanah subur, gethol menerima masukan teknologi dan pekerja yang tahan banting terhadap gejolak pasar secara luas bertaraf nasional. 
Kebalikan karakter pasar di Tampir Wetan dan Klirip Kec. Candimulyo, barang dagangan yang terlihat di pasar adalah barang peralatan dari kota seperti bahan pangan awetan. Hasil bumi kurang segar, hijau agak kekuningan, tetapi singkongnya kekar-kekar, hiruk-pikuk agak kurang. Hal ini menunjukkan karakter masyarakat taninya secara umum menempati tanah yang kurang subur, kurang masukan teknologi atau permodalannya terkendala, sehingga hasil bumi yang diperdagangkan didominasi oleh barang-barang yang kurang diminati oleh masyarakat dari luar daerah. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk alih profesi dari petani menjadi peternak atau profesi non bahan pangan. Kondisi paling ekstrim, jika hasil pertanian sudah tidak mendukung kehidupannya bahkan cenderung untuk migrasi atau urbanisasi. 
Contoh lain dengan karakter yang berbeda, Pasar Ngrajek didominasi dengan ikan dengan segala bentuk dan jenis yang diperjual belikan. Dominasi barang dagangannya adalah ikan-ikan yang terlihat gemuk-gemuk, bermacam-macam obat dan makanan ikan dipasarkan. Kondisi demikian menunjukkan bahwa masyarakat di sekitranya menampati tanah-tanah dengan aliran air sepanjang masa, masyarakat yang mudah menerima masukan teknologi perikanan. Perikanan sudah membudaya di kalangan masyarakkat pada umumnya. Wergul berkepala hitam (pencuri ikan) pun bisa dikatakan sangat minimal terjadi. Kemakmuran masyarakat tani perikanan cenderung lebih cepat maju baik secara materi maupun tingkat pengetahuannya dibandingkan dengan masyarakat tani bahan pangan, disebabkan siklus panen dan jenis kegiatan di bidang perikanan lebih gesit dan lebih cepat dibandingkan pertanian bahan pangan. Masih banyak lagi karakter-karakter pasar yang menunjukkan karakter masyarakat di sekitarnya.
Prospek Pasar Ngangkruk.
Pasar Ngangkruk bisa menjadi pusat perdagangan di kawasan Gunung Kuli dan sekitarnya, jika dikelola secara profesional dan masayrakat memiliki produk unggulan yang berbeda dengan kawasan lain dan dikembangkan secara luas, dibimbing secara khusus oleh Tenaga Ahli yang profesional di bidangnya.
Contoh : Katakanlah Telo Piji yang terkenal "mempur" bisa menjadi "ikon" magnet daya tarik bagi pedagang dan masyarakat dari luar untuk berduyun-duyun datang ke Ngangkruk, jika dikelola secara profesional. Apa sih bedanya telo pendem "Cilembu" dengan "Telo Nyonya Kunir" yang bisa menembus super market? Karena Cilembu dikembangkan secara besar-besaran, walaupun tidak dari kampung Cilembu.
Kalau Pemerintah Desa/Kecamatan ingin daerahnya terkenal dan banyak devisa masuk ke Ngangkruk, bisa dicoba mengirim tenaga berpendidikan ke sentra-sentra produk pertanian terkenal khusus dari dataran tinggi seperti karalter tanah di sekitar Gunung Kuli. Introduksi tanaman baru pun bisa dijajagi dengan mempelajari dan mengirim tenaga magang di lokasi-lokasi yang memproduksi hasil bumi terkenal, mis : anggur, jeruk, dll. Jalan masih terbentang luas untuk mendulang devisa dari luar daerah demi kemakmuran rakyat di sekitar Gunung Kuli.
Terbukanya jalur pariwisata "Solo-Selo-Borobudur" dengan ikon Ketep Pass adalah peluang yang sangat-sangat besar untuk meningkatkan produktifitas masyarakat melalui pemasaran hasil produk unggulan.  

Kepala Desa Podosoko Edi Susilo dan Cita-citanya
Kepala Desa Edi Susilo punya cita-cita ingin memajukan desanya dengan mencanangkan Desa Wisata, Budaya dan  Centra Peternakan. Pada tahun 2017 Edi Susilo memulai memunculkan identitas budaya yang sudah lama tersimpan yaitu Festival Gunung Kuli dengan icon "Supit Manggar" atau memotong malai bunga kelapa untuk ditoreh (deres) sebagai rasa sukur masyarakat semoga malai bunga kelapa akan mengeluarkan "nira" yang melimpah sehingga produksi gula kelapa di daerah Gunung Kuli dan sekitarnya melimpah atas ijin Tuhan Sang Penguasa Jagad Raya.

Festival Supit Manggar diramaikan dengan Festival Gunungan Hasil Bumi untuk diperebutkan oleh masyarakat yang hadir sebagai ungkapan rasa sukur atas panen hasil bumi di daerah tersebut. Festival pun dihadiri oleh penampilan Seni Tradisional dari beberapa daerah sekitarnya a.l Jathilan Campur, Topeng Ireng.

Potensi Devisa yang Belum Tergali


Tegalan dengan pola tumpangsari Sengon - Palawija
Ada beberapa potensi wisata yang perlu dipelajari lebih dalam untuk meningkatkan produktifitas masyarakat dalam rangka mendongkrak devisa desa seperti halnya : 
  1. Wisata Religi di sekitar petilasan Kyai Dipokusumo puncak Bukit Gunung Kuli. Wisata ini bisa dikembangkan kearah yang lebih profesional yang dikaitkan dengan usaha penginapan, pemasaran cenderamata, dll.
  2. Wisata Lingkungan dengan mengembangkan "Agroforestry" hutan pertanian. Wisatawan bisa disuguhi cara menanam pohon Sengon, memanen hasil kayu Sengon dan hasil ikutan seperti jahe, kapulaga, laos, dll.
  3.  Wisata Olahraga dengan mengembangkan penderes nira "badeg" menjadi kegiatan tambahan sebagai olahraga panjat kelapa atau "out bond" dengan dilengkapi sarana kelengkapan keselamatan memanjat. Kegiatan ini bisa dikaitkan dengan mensosialisasikan "budaya minum badeg" dan makanan "sego jagung" menjelang kegiatan dimulai.
  4. Wisata Kuliner. 
  • Masyarakat Bukit Gunung Kuli menyimpan budaya kuliner yang unik dan tidak ada di daerah lain. Hal ini terkait dengan industri "tempe benguk" yang sekarang sudah tidak pernah dikerjakan masyarakat, misalnya : "Sego Jagung dengan lauk Tempe Benguk", tentunya kuliner ini citarasanya perlu di-upgrade dengan campuran bahan-bahan yang lebih menarik dan bumbu yang lebih terasa, agar wisatawan lebih tertarik baik dari sisi warna, rasa dan penampilannya.  
  • Masih banyak jenis kuliner yang bisa diangkat, misalnya budaya makan sirih. Dalam hal ini bukan makan sirihnya tetapi memperkenalkan khasiat sirih yang sangat bermanfaat bagi kesehaan gigi dan gangguan kesehatan lambung. Daun sirih diekstrak dijadikan semacam kapsul atau minuman atau daun sirih goreng. Jika budaya mengkonsumsi sudah memasyarakat, maka penanaman sirih masyarakat pun akan membantu peningkatan pendapatan warga Podosoko. 
  • Singkong Piji sudah terkenal sampai keluar daerah bisa diperkenalkan kepada wisatawan betapa lezat "mempur"nya "Singkong Piji". Aneka jenis olahan singkong pun akan berkembang dengan sendirinya.  
Bagaimana agar Industri Wisata Segera Terwujud dan Menghasilkan :
  1. Infrastrukur jalan untuk mengakses Kawasan Gunung Kuli harus bagus, layak dilalui kendaraan roda 2 dan roda 4 baik dari arah Selatan (Sawangan dan sekitarnya), Barat (Blabak, Tampir, Magelang), Utara (Candimulyo) dan dari arah Timur (Gerdu, Ketep, Soronalan)
  2. Penataan kembali Lokasi-lokasi tujuan wisata dan lokasi atraksi wisata dengan mengedepankan estetika (keindahan) dan kenyamanan wisatawan.
  3. Penunjukan Desk Khusus (Komisi) di Tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten yeng khusus mengembangkan Wisata Gunung Kuli.
  4. Masyarakat setempat harus dipersiapkan untuk mendukung berbagai atraksi wisata. Perlu dilatih Pembicara untuk keperluan pemandu wisata religi Puncak Gunung Kuli, acara ritual Nyadran, Grebeg Sunatan Manggar dan Nderes Badeg.
  5. Pelatihan kreatifitas pengolahan berbagai bahan makanan untuk penyediaan makanan tradisional sebagai bagian dari akomodasi wisatawan.
  6. Pelatihan kreatifitas seni buah tangan (oleh-oleh) yang bahan bakunya dari daerah setempat dan nuansa seninya khas daerah setempat, misalnya Slepen (dompet) tikar pandan, Topi tikar pandan, Boneka mini penari Ndolalak berbahan tanah liat atau kayu sengon, Boneka mini penderes Badeg, dls.
  7. Menggandeng Pengelola Kelompok Seni atraksi budaya (Topeng Ireng, Kubrosiswo, Jathilan, Reog, dll).
  8. Berkolaborasi (minta gendong) dengan Lokasi-lokasi Wisata yang sudah lebih dahulu berkembang, mis : Pengelola Ketep Pass, Blondo Elo Tubing, Dadar Tubing, Borobudur dan Festival Durian Candimulyo.  
  9. Berkolaborasi dengan Tempat-tempat penginapan terdekat (Magelang, Blabak, Muntilan, Borobudur) untuk melakukan promosi, mengingat lokasi Gunung Kuli belum terbangun penginapan sekelas "Home Stay".
  10. Pendanaan :
  • Industri Wisata tidak bisa tumbuh dengan sendirinya sesuai dengan yang diharapkan yang memberikan banyak pemasukan devisa Desa setempat dan menjadi peluang kerja dan peluang berusaha. Diperlukan dana yang cukup untuk sarana pendukung dan prekondisi keterampilan dan kesadaran masyarakat. Kontribusi masyarakatsetempat akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, manakala arus investasi Pemerintah Daerah mulai mengalir dan Wisatawan mulai berdatangan.
  • Diperlukan pendampingan Lembaga profesional yang secara tidak langsung mendanai Proyek Wisata Gunung Kuli dengan memanfaatkan Dana Desa dan Dana-dana lain dari Pemerintah Kabupaten/Provinsi/Pusat.

Demikian sekilas konsep Pengembangan Wisata Gunung Kuli, semoga bermanfaat.

Jakarta, September 2010 dan diupdate Juni 2018.

2 komentar:

Lucianus Sugiyarto mengatakan...

Di pasar ngangkruk itu dulu ada warung yang saya kenal, pemiliknya bernama Mbah Muji, terus dilanjutkan oleh cucunya yang bernama mbak Tayem.
Hidangan di warung itu dari dulu sampai saya dewasa adalah TAHU SUSUR dan KETAN.
Sugeng pepanggihan
Suwun

agusprasodjo.blogspot.com mengatakan...

Mas Sugiarto kok tahu Pasar Ngangkruk, daleme mana Mas Sugi. Nenek saya asli ngGelap, besar di Gangsan-Swg. Saya banyak di Jakarta tdk tahu perkembangan pasar Ngangkruk.