18 Jun 2011

“Lever” Sembuh dengan Daun Paliasa (Bugis) atau Katimaha (Jawa)

Daun & Bunga Paliasa
 Paliasa (Bugis) atau Katimaha (Jawa) dalam istilah bahasa Inggeris-nya Kleinhovia hospita (Latin : Kleinhovia serrata Blanco, Grewia meyeniana Walp.) adalah tanaman evergreen, tanaman tropis asli Indonesia, Malaysia dan beberapa lokasi di dataran tropis Asia.

K. hospita dapat tumbuh lebat sampai 20 m tinggi, dengan kanopi membulat padat dan bunga merah muda. Daun sederhana dan stipula ensiform linier, sekitar 8 mm; petiola adalah 2,5-30 cm; daun-lancip bulat telur/membentuk ke jantung, rata di kedua sisi, dengan puncaknya runcing. Jari-jari tulang daun sekunder terjadi pada 6-8 pasang.

Bunga K. hospita adalah terminal, dalam malai longgar menonjol dari mahkota; bunga sekitar 5 mm lebar, berwarna merah muda pucat, berbunga sepanjang tahun.

Tanaman ini mulai berbuah mulai dari tahun ketiga setelah penanaman. Buah dari K. hospita bulat, 5-lobed, berdinding tipis, kapsul membranosa, 2-2.5 cm, loculicidally pecah, masing-masing memiliki 1-2 biji locule. Biji bulat, berwarna keputihan.

Morfologi daun dan Bunga Paliasa


K. hospita digunakan sebagai obat tradisional di Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini untuk mengobati kudis. Kulit dan daun digunakan sebagai pencuci rambut atau shampo (hair-wash) pembunuh kutu, sementara cairan daun digunakan sebagai pencuci mata. Daun muda bisa dimakan sebagai bahan sayuran.

Serat pohon digunakan untuk membuat tali digunakan untuk mengikat atau menarik ternak.
Kayu paliasa berwarna merah muda dan cukup baik tekstur, lembut, ringan dan mudah dikerjakan untuk kayu pertukangan. Jika untuk bahan bakar, nilai energi sekitar 19000 kJ /kg. Daun dan kulit kayu mengandung senyawa “cyanogenic” yang diasumsikan untuk membantu membunuh ektoparasit seperti kutu.

Dalam dunia medis, ekstrak daun Paliasa telah menunjukkan adanya aktivitas anti-tumor terhadap sarkoma pada tikus. Sejumlah asam lemak cyclopropenylic (scopoletin, kaempferol, dan quercetin) telah diisolasi dari daun.

Sachet & Kapsul Paliasa,
Ilustrasi Foto dari Anak UNHAS, 2011
Di beberapa tempat di India, tanaman Paliasa digunakan untuk tanaman ornamental di kiri-kana jalan atau taman karena mempunyai malai bunga berwarna pink menyala yang menarik.

Akhir-akhir ini Peneliti dari UNHAS Makasar telah memanfaatkan daun Paliasa sebagai obat lever. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Laboratorium MIPA Kimia Universitas Hasanuddin kepada The Jakarta Post (Gemini Alam, 2011), bahwa Pakar MIPA Kimia UNHAS telah mempelajari penggunaan paliasa sebagai jamu untuk mengobati penyakit kuning atau atau lever sejak tahun 1990. Mereka menemukan senyawa efektif dalam daun.

"Kami telah menemukan dua senyawa penting dalam daun paliasa, yang flavonoid, umumnya melayani sebagai antioksidan atau anti-inflamasi obat, dan triterpenoid cycloartane, menormalkan fungsi hati in vitro," jelas Gemini Alam.

Menurut kepala pharmacognosy / fitokimia laboratorium universitas, paliasa jarang ditemukan di daerah perkotaan. Kebanyakan masyarakat memilih obat di Apotek yang lebih praktis.

Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan TPM Biotech ketika Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Abdul Razak mengunjungi kampus pada tahun 2009.  Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Idrus Paturusi mengatakan kepada Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Abdul Razak (anak mantan Perdana Menteri Tun Abdul Razak yang konon katanya berdarah Bugis), bahwa UNHAS sedang melakukan penelitian terutama pada obat tradisional. Tim peneliti UNHAS yang terlibat dalam proyek paliasa bekerja sama dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Makassar untuk memastikan jamu memenuhi standar untuk ekstrak herbal Indonesia.

Selamat mencoba.

Referensi Buku dan Bacaan :

  1. Anonim, 2011, Wikipedia, Kleinhovia hospita (syn. Kleinhovia serrata Blanco, Grewia meyeniana Walp.)
  2. Gemini Alam, 2011, Kepala Tim Riset Universitas Hasanuddin ttg Paliasa, The Jakarta Post, 18th June 2011/
  3. http://www.anakunhas%20dot%20com/, Daun Paliasa sudah Ada Dalam Bentuk Kapsul, Maret, 2011.
  4. Philippine medicinal Herbs, "Tan-ag / Kleinhovia hospita Linn , guest tree, Alternative Medicine in the Philippines, retrieved on 01 Jan., 2010.
  5. Latiff, A., 1997. Kleinhovia hospita L. in Faridah Hanum, I. & van der Maesen, L.J.G. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia No. 11. Auxiliary Plants. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia; url source: Species Information, retrieved on 29 June, 2007
Produk-produk paliasa, sekarang diproduksi dalam jumlah besar, diluncurkan pada April 2011 di kampus Universitas Hasanuddin. (UNHAS) Makasar. Obat herbal Paliasa akan dipasarkan secara massal di Malaysia dan Indonesia, khususnya sebagai obat tradisional sangat efektif untuk menyembuhkan lever.

Oleh karena itu, muncul ide kemasan paliasa ke dalam kapsul. Gemini Alam yakin bahwa kualitas kapsul paliasa lebih manjur dari hasil proses ekstrak daun dengan berkonsentrasi tertentu.

Sebelum paliasa kapsul dan minuman suplemen yang diproduksi, telah dilakukan tes berkali-kali dilakukan pada hewan dengan hasil tanpa menyebabkan efek samping dan membuktikan ramuan itu aman untuk dikonsumsi.

Testimoni beberapa orang dengan keluhan hati mengakui bahwa efek kapsul paliasa sbb :
 "SGPT saya [serum transaminase glumat piruvat] dan SGOT [serum transaminase glumat oksaloasetat] sekali naik menjadi 60. Dengan kapsul paliasa, hanya butuh dua hari untuk mengembalikan fungsi hati saya normal".

Paliasa diyakini dapat menurunkan hipertensi dan menormalkan hipotensi, sambil mempertahankan kesehatan seseorang.

Dalam desertasi penerimaan Guru Besar bidang kimia organik bahan alam, di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar (Nunuk Hariani Soekamto, Prof.Dr.MS, 2010), dijelaskan bahwa daun paliasa dapat dimanfaatkan untuk obat hepatitis atau lever atau sakit kuning.






10 komentar:

Abihira Herba Center mengatakan...

Alhamdulillah saya ketemu blog ini setelah searching Kleinhovia...di kalimantan Timur Kleinhovia bernama Tahongai, atau sebagian masyarakat Kutai menyebutnya dengan Tongai" di Kalimantan Timur telah diproduksi dengan brand "Teh Tahongai, Solusi Sehat dari kalimantan Timur, " Telah diuji preklinis Lab.Kimia hasil Hutan Unmul terbukti menghambat pertumbuhan selkanker, dan mengandung anti oksidan yang tinggi...infonya bisa lihat di www.tahongai.blogspot.com......mudah-mudahan infonya bermanfaat pak...

Merbabu NingraT mengatakan...

Terimakasih anda telang mengunjungi Blog kami. Kami memperkenalkan tanaman hutan "Paliasa" sekedar sharing saja dan ternyata mereka yg mencoba mengkonsumsi dapat sembuh dari sakit kuning (lever) yg dideritanya, Alhamdulillah. Kalau di Kaltim sudah diproduksi dg branded Teh Tahongai, semoga konsumennya tidak hanya sembuh dari kanker tetapi juga gejala levernya dapat sembuh, amin. Ok akan saya coba blog anda.

wawan pisano mengatakan...

Terima kasih infonya, saya akan coba cari di Makassar, smga saya dapat...
Tapi orang Makasssar menyebutnya apa ya?

vira mengatakan...

kalau disekitar BSD,tangerangselatan.. daun paliasa berbentuk kapsul dijual dimana ya pak? terima kasih

Khey mengatakan...

Kapsulnya bisa dibeli dimana ?

Khey mengatakan...

Pak kapsulnya ada d jual dmana ?

agus prasodjo mengatakan...

Khey, Terimakasih anda telah mengunjungi Blog kami. Setahu saya daun Katimaha (Jw) atau Paliasa (Bugis) atau Thahongai (Dayak-Kaltim) memang tumbuh liar di alam, tidak dipelihara layaknya pohon buah-buahan. Yang telah mencoba menjual dalam kapsul dari Makasar, mungkin kurang terkenal, shg tidak sampai ke pasaran. Coba browsing di google siapa tahu jodoh, anda dapat menemukan.

Khey mengatakan...

Makasih banyak pak, Alhamdulillah sy sudah dapat daunnya walaupun tak berbentuk kapsul
Mau nanya pak utk merebus daunnya sekali minum berapa lembar dan takaran airnya utk merebus berapa pak ?

agus prasodjo mengatakan...

Mengingat daun tsb mengandung alkaloid, lebih baik jangan terlalu banyak cukup 3 lembar direbus di cawan tanah agar tdk bereaksi dg logam kalau direbus menggunakan panci aluminium. Dari 3 lembar direbus dengan 2 gelas, hingga tinggal 2/3 dari volume air semula. Diminum pagi, siang dan malam hari, sekali minum cukup satu sendok makan. Ulangi terus ditelateni sambil berdo'a bahwa daun ini adalah perantara kesembuha. Jika sudah sembuh, lebih baik hentikan sama sekali. Kalau untuk menjaga kekebalan harus jarang-jarang paling intensif seminggu sekali, karena justru bisa merusak ginjal. Lebih canggih lagi untuk mengetahui kandungan zat kimianya bisa konsultasikan dengan "apoteker" yg bertugas di apotek-apotek.

Khey mengatakan...

Makasih banyak pak atas sarannya