14 Sep 2010

Nyadran

Nyadran di samping areal pekuburan Dusun Gelap
Jika di dalam masyarakat Dayak dikenal Tiwah, maka di masyarakat Jawa dikenal “Nyadran” berasal dari kata Sraddha, mendapat awalan Nya+ dan akhiran +an menjadi “nyadran” yang berarti melaksanakan Sraddha. Persamaan kedua istilah tersebut bermaksud untuk mengenang arwah leluhur yang sudah meninggal. Perbedaannya, upacara Tiwah dilakukan sekali untuk selamanya oleh keluarga yang masih hidup terhadap jasad yang telah meninggal dan dikubur beberapa tahun dan Tiwah merupakan penghormatan kepada arwah terakhir untuk meninggalkan dunia fana. Sedangkan Sraddha dilakukan setiap tahun sekali menjelang bulan puasa Romadhon untuk mendoakan kepada seluruh arwah yang telah mendahului kita "leluhur". Kegiatan Tiwah masih dilaksanakan aslinya dan belum tercampur oleh unsur budaya lain, sedangkan sraddha yang dilakukan saat ini sudah disusupi ajaran Islam yaitu khotbah siraman rohani diantara rangkaian ritual. Acara pengiriman do'a kepada leluhur dalan ritual Tiwah masih mengenal harumnya wewangian alami dari asap dupa kemenyan, sedangkan pada ritual nyadran saat sekarang sudah tidak ada lagi harumnya asap dupa kemenyan, bunga mawar, kenanga, kanthil dan daun pandan. 

Bentuk reminisensi (persamaan pelaksanaan) upacara sraddha ini masih ada hingga sekarang dan untuk memudahkan pengucapan disebut sadran dengan bentuk verbal aktif nyadran.
Upacara sraddha aslinya adalah upacara umat Hindu di pulau Jawa zaman dahulu kala untuk mengenang arwah seseorang yang sudah meninggal. Datangnya Islam di Tanah Jawa, Sunan Kalijogo dalam dakwahnya kepada masayrakat Jawa Hindu tidak serta merta membumihanguskan ritual Hindu tetapi dalam upacara Sraddha diselipkan pesan-pesan Syiar Islam. Faham Hindu dan Animisme semakin lama semakin dikurangi dari sedikit demi sedikit, agar ajaran Islam tidak ditolak mentah-mentah oleh masyarakat setempat, mengingat karakter masyarakat Jawa yang sangat kuat memegang teguh komitmen spiritualnya.
Upacara Sraddha dilakukan setiap tahun sekali menjelang hari-hari “Sakral” bagi umat muslim yaitu menjelang bulan Romadhon. Pada awalnya peralatan upacara yang berbasis Hindu selalu tidak ketinggalan “bau harum” dari pembakaran upa dalam rangka mengundang arwah untuk datang di tempat itu, berikut Nasi Tumpeng, jajan pasar dan beraneka lauk pauk, buah-buahan serta kue basah. Namun, dalam perkembangannya setelah ajaran Islam masuk, maka sarana ritual yang berfaham Hindu mulai dihilangkan, digantikan dengan lauk-pauk dan jajanan yang mudah dikerjakan atau dibeli di sekitarnya. Penyajian nasi tumpeng pun mulai disisipkan unsur keindahan. Nampan bambu, Tedo atau Tampah sebagai alas untuk menempatkan nasi tumpeng berikut lauk-pauknya sudah diganti dengan Lengser. Pinggiran Lengser dikasih aksesoris daun pisang agar lebih menarik, dan lain sebagainya.




Pelaksanaan Nyadran Ditinjau Secara Sosiokultural
Dakwah syiar Islam memerlukan media dan sarana untuk mengumpulkan massa. Kultur masyarakat Jawa masa Wali Songo masih lekat dengan faham Hindu. Media pengumpulan massa terjadi pada ritual-ritual Hindu seperti "wayangan pada saat ngruwat", ritual sembahyang kubur, selamatan setiap bulan-bulan tertentu menjadi inspirasi Wali Songo untuk menyusup dan memasukkan ajaran Islam di dalamnya.


Secara sosiologis, ritual nyadran untuk syiar Islam adalah sangat efektif. Dari aspek “timing” waktunya bersamaan dengan kekhidmatannya menjelang bulan sakral puasa Romadhon, maka settiap orang akan merasa khidmad untuk mendengarkan. Yang kedua dari aspek “komunikasi massa” sangat tepat bahwa emosional setiap orang tua, muda dan anak-anak merasa terpanggil untuk datang dan berkumpul bersama di suatu tempat yang ditentukan tanpa membuat undangan formal.


Peralatan atau ubo-rampe upacara ritual nyadran ala Sunan Kalijogo masih tetap dilakukan di Pinggir Areal Pekuburan di beberapa Dusun tetapi sudah tidak mengenal “dupa kemenyan”. Doa-doa puji-pujian berbahasa Arab bercampur Jawa yang mengiringi asap dupa untuk mengiringi do'a sudah diganti dengan Tahlil dan khotbah siraman rohani dan doa-doa untuk mendoakan arwah leluhur.
Nyadran menjadi sarana komunikasi dan silaturahmi warga setempat untuk saling menghormati, mempererat tali persaudaraan dan menambah wawasan melalui siraman rohani dari Tokoh Spiritual sekaligus Tokoh Panutan warga setempat.
Secara kultural, nyadran merupakan hasil kreasi spiritual yang menakjubkan bagi setiap orang yang datang untuk datang, duduk, berkumpul, berdoa secara khidmat, meluapkan emosional untuk saling berkontribusi terhadap sesama ahli waris dari para leluhur yang dimakamkan di areal pekuburan, suatu tempat dimana para hadirin duduk bersama. Nyadran juga merupakan forum komunikasi temporal untuk saling mengenal, saling memahami diantara setiap orang yang hadir.
Bentuk dan pola penyajian makanan dalam bentuk tumpeng berikut lauk-pauk diatas "ancak" (anyaman bambu persegi empat tempat tumpeng diletakkan) dan "takir" (piring kecil dibuat dari daun pisang tempat sayur dan lauk-pauk) merupakan buah karya seni kuliner. Pada saat ini penyajian makanan ini menjadi inspirasi bagi Ahli-ahli kuliner untuk meniru gaya penyajian ritual tradisional Jawa ke dalam penyajian di Restoran Modern sebagai daya tarik pengunjung untuk menikmatinya.  

Kronologis Pelaksanaan Nyadran Dusun Margowangsan :
  • Pada masa sebelum tahun 1960 ritual Nyadran dilaksanakan di areal depan pekuburan sebelah timur, di depan pintu masuk areal pekuburan sekarang. Peralanan "ubo rampe" ritual berupa nasi tumpeng, "ontho-ontho" bregedel bulat kecil berbahan baku beras, lauk-pauk, jajan pasar, lengkap dengan kue-kue basah yang dilaksanakan di pagi hari, pada saat 7 hari sebelum hari pertama puasa Romadhon.
  • Mulai tahun 1960 hingga tahun 2000 ritual nyadran dilaksanakan di Masjid dengan ubo rampe nasi tumpeng, onto-onto dan lauk-pauk. Kue-kue untuk para tamu dari luar Dusun sudah ditinggalkan. Pelaksanaan nyadran pada malam hari bertepatan 7 hari sebelum hari pertama puasa Romadhon.
  • Mulai tahun 2000 hingga sekarang ritual nyadran tumpengan sudah hilang tinggal cerita si buyung digantikan dengan "Pengajian berjudul Nyadran". Pelaksanaan tetap pada saat 7 hari sebelum hari pertama puasa Romadhon. Lokasi nyadran dibuat "tratak" tenda, para hadirin disediakan kursi, disediakan snack pada kotak kardus dan makan menggunakan piring. Acara sangat formal pengajian pada umumnya, tidak ada basa-basi sebagai forum tradisional kekeluargaan.   
Nostalgia Ritual Tradisional Bagaimana acara Ritual Nyadran dan Ritual lainnya seperti Suran, Saparan, Muludan, Ruwahan dilaksanakan, berikut diketengahkan rekaman saya 40 tahun yang lalu  yang sempat saya ingat yang terjadi di Dusun Margowangsan - Sawangan - Magelang a.l :  




Tumpeng Modern dengan Sentuhan Artistik
Acara Ritual Nyadran atau Ritual lainnya seperti Suran, Saparan, Muludan dan Ruwahan. Pada awalnya Bapak Kebayan (Kepala Kampung) Mbah Karjo mendahului acara dengan menabuh Kentongan Mesjid dengan irama khusus, ditabuh berulang kali agar warga pada datang dengan membawa Nasi Tumpeng dan makanan pelengkap lainnya. Setelah Warga berdatangan dan mengepung tumpeng, maka Kebayan memulai acara sbb : 

  • Pengantar maksud dan tujuan kenduri oleh Kebayan

  • Pesan-pesan Pemerintahan terkait pembayaran PBB, bersih desa, rencana pembangunan Desa, dll

  • Sekelumit sejarah ritual kenduri yang dilaksanakan secara turun-temurun dari leluhur Pendiri Pedukuhan (Kyai Soro bersama Kyai Margowongso) sampai saat itu yang disampaikan oleh Mbah Mariyah sebagai Tetua Adat sekaligus Kaum (Kepala Agama tingkat Pedukuhan)

  • Pengantar doa oleh Mbah Mariyah yang ditujukan kepada seluruh penduduk pedusunan Margowangsan, Bendan, Mudal dan dilanjutkan Doa Keselamatan.

  • Dahar Kembul, makan bersama

  • Sisa tumpeng dibawa pulang untuk dimakan Keluarga di rumah. Sisa makanan ini tidak dianggap sebagai “makanan sisa” tetapi justru menjadi rebutan bagi Ibu-ibu dan anak-anak perempuan yang memang tidak boleh mengikuti acara ritual. Nasi tumpeng yang dibawa dari Mesjid diyakini membawa berkah bahwa makanan yang sudah mendapat do'a akan memudahkan mendapatkan rizki.
Yang menarik dan saya catat dalam ingatan pada acara ritual 40 tahun yang lalu (1970-an) adalah ungkapan Tetua Spiritual kepada Warga yang sudah mengepung tumpeng dalam upacara ritual Suran, Saparan, Muludan, Nyadran, dengan suara parau magis-nya kurang-lebih sbb :


Ritual Nyadran Tumpengan seperti ini di Dusunku 
tinggal kenangan (Mengibung, Bali, Antara Foto, 2010)
Para rawuh sedaya ingkang kawula kurmati, Assalamu'alaikum wa Rohmatullahi wa barokaatu :
Wonten ing ndalu menika kita sedaya kempal wonten ing Mesjid saperlu :
Ingkang sepindah kita Ngaturaken Agunging raos syukur dumateng Ingkang Kuwaos, Allah subkhanahu wa ta'ala bilih dumugi ing wekdal menika kita sedaya khususipun wargo ing Padusunan Margowangsan, Bendan lan Mudal pinaringan wilujeng sarto pikantuk katentreman, kerta raharjo, Alhamdulillah.


Ingkang ongko kalih, Bapak Bayan ingkang minangka Pamong Dusun wonten ing wicoro ngajeng sampun ngendikaaken bilih kita sedaya kedah ngugemi sedaya “parintahipun Negari" langkung Bapak Lurah ing antawisipun bab “PAOS” (pajak) ingkang kedah kita lunasi lan sanes-sanesipun.


Ingkang ongko tigo utawi toto wicoro ingkang utami inggih punika kita sedaya badhe ngaturaken do'a dumateng Allah SWT lumantar do'a menika mugi kita sedaya, wargo ing Pedusunan Margowangsan, Bendan lan Mudal dipun paringana wilujeng, lir ing sambekala, Amin.


Kita sedaya sampun ngepung Tumpeng ingkang mawi angkah sarono ngemong-mongi anggenipun sami bale griyo sedoyo masyarakat padukuhan Margowangsan, Bendan lan Mudal, mugi–mmugi dipun paringana jejek pajek kukuh bakuh wilijeng sa lebeting griyo lan sak jawining bale griyo lan mugi–mugi anggenipun bebrayan wargo ing padukuhan sageto wilujeng dumugi ing samangke, Amin.


Kajawi saking meniko, Tumpeng kagema sarono nyumurupi bilih Allah ingkang jagi rumekso ing padusunan Margowangsan, Bendan lan Mudal, mugi–mugi songsong agungipun sagedo memayungi sedoyo wargo lan mugio babar prabowo katrenteman lan kawilujengan bade lumeber dumateng sedoyo wargo ing Pedusunan Margowangsan, Bendan lan Mudal, Amin


Tumpeng meniko ugi kagem nyumurupi, mugi mugi sedaya putro wayah Dusun Margowangsan, Bendan lan Mudal dipun tebihaken sangking godo rencono lan beboyo sahenggo sedaya manggihi ing karaharjan dumugi ing samangke, andadosno putro wayah sedaya ing samangke pinanggih kawontenan masyarakat ingkang tansah ayem–ayem, toto, titi, tentrem, kerto raharjo. Putra wayah ingkang piguna tumrapipun bebrayan ing wargo sakiwa-tengenipun lan dadosna priyagung sekaring bawono ingkang arum ganda asmanipun, Amin


Tumpeng sa-ubo-rampenipun meniko namung perlambang lumantaripun khidmat do'a mring Gusti Allah, kagem nyumurupi bilih ing wulan Suro/Sapar/Mulud/Ruwah/ (pilihan) meniko mugi-mugi para wargo Margowangsan, Bendan lan Mudal sagedo kaparingan panjang yuswa lan kacekapanipun boga turah ing pawingking lan kagem sak lajengipun, Amin


Monggo kita sedaya maos Al Fathihah,
(Selanjutnya acara tahlil yang dipimpin Kaum)

(Selanjutnya Doa Keselamatan : Allahhumma innanas aluuka salamatan, fiddiini wa 'afiatan ba'dal maut, firrizki wa taubatan 'indal maut, dst)


(Acara terakhir adalah dahar kembul, membagi-bagikan makanan kepada anak-anak yang datang dan masing-masing membawa makanan yang belum habis)

Perhatikan Pengantar doa yang dibacakan Mbah Mariyah terasa Indah, Sejuk dan Berkesan. Anak-cucu tidak terkecuali dido'akan agar di kemudian hari diharapkan menjadi manusia berguna bagi masyarakat, ketemu zaman tata, titi, tentrem, Amin. 

APA YANG SALAH DENGAN RITUAL TUMPENGAN ...jawabannya, jika pengamalannya sudah meminta berkah kepada sesuatu selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa atau syirik. Apakah ritual nostalgia tersebut diatas temasuk syirik?


Akankah Ritual Nyadran Tumpengan Dihapus Tanpa Kompromi?
Memperhatikan pelaksanaan syiar Islam melalui "nyadran" pada tahun 1960-an hingga 1980-an, di beberapa daerah di daerah Lereng Merbabu dan Merapi, upacara Nyadran meliputi 2 kegiatan yaitu : (1) Nyekar di pekuburan tempat para leluhur dimakamkan yang dilaksanakan sebelum ritual utama dan (2) acara siraman rohani, dilanjutkan dengan kenduri yang dilaksanakan di areal khuus di samping pekuburan, tempat dimana sudah disediakan oleh Para leluhur sejak zaman dahulu. 
Dalam perkembangannya, kedua acara tersebut diatas masih dilaksanakan di Dsn. Mudal, Sawangan, Butuh, Babadan, dll hingga sekarang dan khusus di Pedukuhan Margowangsan acara nyadran tinggal siraman rohani saja.

Acara  nyekar dengan pembakaran dupa diatas pusara leluhur masih dilaksanakan. Sedangkan acara utama uborampe  atau peralatan  berupa : “tumpeng, ingkung, jajan pasar plus kue-kue lokal”. Masyarakat menyiapkan makanan berupa kue-kue basah, lauk-pauk beraneka warna untuk dimakan bersama di lokasi festifal. Sebagian dari makanan hasil olahan warga disiapkan untuk dikirim kepada sanak saudara yang tidak bisa hadir.
Meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat, wawasan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat serta kuatnya pengaruh faham pemurnian ajaran Islam, ritual nyadran yang berbau Hindu sedikit demi sedikit mulai terkikis. Di beberapa dusun bentuk asli ritual Nyadran sudah tidak ada lagi peralatan ritual seperti halnya tumpeng, ingkung, kue-kue basah, “takir” tempat lauk-lauk. Lokasi dipindah dari samping areal Pekuburan ke halaman Masjid, “tampah, takir dan tumpeng” yang ramah lingkungan diganti dengan piring dan kotak snack. Semua peralatan ritual sudah dihitung dengan banyak sedikitnya uang dan kepraktisan. Nasi Tumpeng sudah diganti dengan uang untuk diserahkan Panitia dan selanjutnya untuk menyiapkan Nasi dan Snack sesuai dana yang tersedia. "PRAKTIS & MURAH" tetapi banyak makna spiritual yang hilang baik dari sisi pesan moral, makna sosiologis, dan nilai-nilai budaya yang sulit untuk memulai kembali. Doa dari Tetua Adat Kampung sebagai Pemegang Garda Tradisional terdepan kepada seluruh warga dengan bahasa yang khas sudah tidak terdengar lagi.

Budaya Arab juga mengenal kenduri tetapi yang
dikepung kue & buah, karena di Arab tidak makan
nasi dan sayur-mayur (Warga Keturunan Arab - 
Palu - Sulteng, Antara Foto, 2010)  
Petitah-petitih Tokoh Spiritual lokal yang menjadi panutan masyarkat diganti dengan Ustadz dari lain daerah yang tidak mengenal karakter masyarakat setempat. Kekhidmatan tahlil disamping areal pekuburan dan hingar bingar orang-orang tua, muda, besar, kecil melahap makanan dalam satu tampah serta haru-biru anak-anak berebut nasi tumpeng dan aneka kue sudah lenyap tergantikan dengan “acara formal” dari Pembawa Acara yang harus melaksanakan rencana program yang disusun sebelumnya.

Latah barangkali, opo tumon..?
Perhatikan foto di samping kanan, Budaya Arab mengepung makanan untuk disantap bersama, kok malah orang Jawa menghilangkan budayanya sendiri. Ritual Nyadran Tumpengan sudah hilang nyawanya kemudian berubah bentuk menjadi “Pengajian berjudul Nyadran” dengan acara pokok mendengarkan siraman rohani dari Ustadz dari luar daerah. Bersamaan dengan hilangnya ritual Nyadran ala zaman dulu, maka hilang juga    ritual selamatan “Suran, Saparan, Muludan dan Ruwahan”. 




Ritual Nyadran dengan Tumpengan Perlu Dipertimbangkan
Nuansa Nyadran berjalan dengan warna keparaktisan, ternyata masih menyimpan faham tradisional Hinduisme (tumpengan) yang dilakukan setahun sekali setelah sholat “Idul Fitri”. Acara tumpengan "Idul Fitri" telah membuat magnet kuat rasa kangen anak-anak perantau untuk berpartisipasi makan rebutan nasi tumpeng sederhana dengan lauk "urap teri" yang disebut  "megono".  

Fenomena baru telah menyeruak dalam kehidupan masyarakat pedusunan sebagai implikasi dari dampak hilangnya sarana komunikasi tradisional dan tidak adanya subtitusi wadah komunikasi semacam kenduri , yaitu :

  • Individualistis dan kecenderungan sifat mementingkan keuntungan dirinya sendiri (Selfishy ).

  • Hilangnya tata kehidupan bermasyarakat yang diturunkan oleh adat para leluhur (indigenous loss). 

  • Kecenderungan membentuk kelompok kerabat yang masih satu faham (grouping)

  • Rivalitas dalam menempuh prestasi secara duniawiah semakin tajam yang berdampak pada semakin jauh perbedaan status prestasi duniawiah bagi yang mampu dengan yang lemah mengikuti persaingan pasar bebas (free trade).

  • Keamanan individual semakin terancam sebagai dampak lanjutan ketidakkompakan dalam menentukan arah massal dalam tata kehidupan bermasyarakat (poor secure warranty).



Jika fenomena tersebut diatas semakin nyata terlihat di masyarakat, maka opini sebagian warga semakin menyembul wacana dalam kehidupan warga yang menginginkan untuk mempertahankan "budaya Jawa" dengan faham pembersihan pengaruh Hindu yaitu “Jangan Hilangkan Ritual Nyadran Tumpengan” namun tetap menjunjung tinggi kemurnian ajaran Islam. Bisakah..??


Secara konseptual, "ajaran agama" dengan "budaya Arab" amatlah mudah diucapkan. Namun pelaksanaannya di tingkat grass-root (akar rumput), tidaklah mudah. Yang terjadi adalah generalisasi (digebyah uyah), pokoknya yang berbau tumpeng, dupa kemenyan, wewangian bunga untuk ritual adalah musyrik, maka harus dihapus....wah, salah kaprah nih..


Secara riil, wacana cita-cita yang diharapkan adalah menjalankan ajaran agama Islam secara murni dengan  tidak menghilangkan budaya Jawa, sbb :

  • Acara Tumpengan Nyadran -----(tetap dilaksanakan bagi yang berminat, bagi yang tidak berminat silahkan tidak apa-apa)

  • Lokasi Nyadran --------(tidak harus di sekitar areal pekuburan, paling praktis di masjid)

  • Kelengakapan peralatan adanya ingkung, kue basah, buah-buahan, dll ----(dikurangi, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga yang berminat)

  • Acara formal menggunakan tenda, kursi, piring, kotak snack ----(hilangkan.., kembali kepada nuansa tradisional nan murah, diganti lesehan, gunakan daun pisang, ancak (nampan bambu), makan bersama beberapa orang dalam satu ancak "dahar kembul")

  • Mengundang Ustadz dari luar daerah ----(ok, semakin lama semakin dihilangkan diganti Kyai lokal yang tahu karakter masyarakat setempat) Doronglah anak-anak untuk Nyantri di Pondok Pesantren dan dibiayai bersama-sama dari anggota Masjid untuk mencetak Kyai Lokal)

  • Pembakaran dupa kemenyan ----(mutlak dihapus, sudah lama ditinggalkan)

  • Penggunaan bunga mawar, kenanga, kanthil, daun pandan untuk nyekar ---- (silahkan bagi yang berminat)

  • Peserta yang hadir (orang-orang tua) ahli waris leluhur warga Margowangsan -----(libatkan sebanyak-banyaknya anak-anak para generasi penerus), agar mereka lebih memahami adat dan budaya leluhur yang adiluhung, efektif untuk wadah komunikasi.

  • Acara tahlil -----(mutlak dilakukan)

  • Acara formal -------(diarahkan menjadi acara kekeluargaan)
Demikian sekilas pengalaman dan wacana kehidupan.






Wassalam,
Agus Prasodjo

3 komentar:

bepe mengatakan...

Sayang, sudah tidak bisa ikut acara nyadran lagi di kampung...krn sudah hidup merantau ke borneo

agusprasodjo.blogspot.com mengatakan...

Sik, Bepe ki Budi pa? Atau nama lain? Tulisanku untuk mengenang nyadran di zaman dulu yg sudah ditinggalkan oleh warga kampung sekarang. Sangat sulit kembali ke kondisi seperti dulu wong yg jelas cara2 sekarang lbh murah & praktis, tetapi kehilangan makna aslinya "reuni spiritual".

bepe mengatakan...

betul..budi pranoto, m teweh