29 Sep 2010

Posong Sagotrah (5)


Penelusuran Trah Selar (Sulung) & Trah Tambeng
Penelusuran Posong Sagotrah pada Trah Selar dan Trah Tambeng kuranglebih  sama dengan Petunjuk penelusuran Trah Kartowiryo yang sebagian besar berdomisili di dusun Magowangsan. Trah Selar berasal dari Jalur Induk Posong yang merupakan anak sulung dan Trah Tambeng adalah anak bungsu dari 6 (enam) orang anak Mbah Setro Saiman.

Saya tulis ulang, generasi pertama Jalur Induk Posong :
Jalur Kerabat mBah Setro Saiman (Margowangsan/Gangsan)
(1)      mBah Selar (Gangsan) : Keluarga mbah Isah, Pak Guru Tris (Gangsan)
(2)     mBah Darmin (Gondang Lor) : Keluarga Mbah Guru Suharto (Gondang Lor), Pak Darsono (Wonolobo)
(3)     mBah Sri (Talaman) : Keluarga mBah Sri Help (Margowangsan) dari suami kedua Rambianak dan (pm, Kiyudan) dari suami pertama.
(4)     mBah Kartowirya (Gangsan) : Keluarga Pak Guru Samidi (Gangsan)
(5)     mBah Rus (Gangsan) : Hilang pada jaman perang kemerdekaan
(6)     mBah Tambeng/Isteri Mabh Supo Taruno (Gangsan) : Keluarga mBah Supo/mBah Minem (Gangsan)

  1. Trah Selar :
Trah Selar menempati keluarga paling besar di Kec. Sawangan. Mbah Selar mempunyai 3 (tiga) orang anak dan 18 (delapan belas) cucu, meliputi :

a)    Famili Mbah Ali/Isah, mempunyai 10 orang anak meliputi :
1.     Isah (Talaman), tidak ada anak
2.    Dulsujak (Talaman), 7 anak (Jilin, Trimah, Tinah, Sarno, Ning, Heru, Kun)
3.    Nah (Sukorini), Pm
4.    Yaminah (Dukun), Pm
5.    Suparto (Gangsan), 4 anak (Haryanto, Sri, Tutik, Tari)
6.    Sutrisno (Gangsan), 4 anak (Heny, Yanjono, Agus, Rahmat)
7.    Marsidah (Gangsan), 2 anak (Sis, Sus)
8.    Sadiyah (Gngsan, almh), anak tunggal (Kantri)
9.    Sukasah (Gangsan), 2 anak (Gunawan, Rini)
10. Marisah (Sawangan), 3 anak (Anto, Wawan, Uut)

b)   Famili Mbah Marjono, mempunyai anak tunggal yaitu Pak Suwito (Bdg).

c)    Famili Mbah Marsan, mempunyai 7 orang anak meliputi :
1.     Ahmad (Gangsan), 6 anak (Waliyah, Bitri, Budi, Wiwin, Ambar, Agus)
2.    Turmudi (Gangsan), 5 anak (Widaryadi/Ti, Budi, Junaedi, Ning, Joko)
3.    Sumadi/Sadiyah (Gangsan), anak tunggal (Kantri)
4.    Din (Sumbar), anak tunggal (Sumi)
5.    Dulrahman (Bendan), 3 anak (Arif, Nia, Rahman)
6.    Sumrihati (Kiyudan), 3 anak (Ita, Agus, Risa)
7.    Ari (Banjengan), 3 anak (Rin, Nanang, Andi)

Periksa pohon keturunan (Silsilah Trah Selar).
Silsilah Keluarga Mbah Selar
 Keluarga Mbah Selar dengan 3 anaknya ini sekarang sudah sangat banyak dan ntersebar mulai dari Dusun Gangsan sendiri, Talaman, Kiyudan, Banjengan (Dukun) dan Jakarta.


B. Trah Tambeng/Supo Taruno
Nama Tambeng diambil dari anak sulung yang bernama “Said” tetapi keluarga menyebutnya “Tambeng”, sehingga orangtuanya dipanggil Mbah Tambeng.

Anak bungsu Mbah Setro Saiman ini mempunyai 6 (enam) anak dan sebagian besar merantau keluar dari Dusun Margowangsan, meliputi :

a)    Famili Mbah Said atau Tambeng (Lampung) mempunyai 3 anak (Surti, Semarang), Sir (Semarang), Surahmat (Purwokerto), Siti (Semarang)
Keluarga Mbah Said, jarang menengok kampong halamannya di Gangsan, sehingga dalam tulisan ini belum tertulis.
b)   Famili Mbah Hilal (Muntilan), 2 anak (Din, Jumrodah) keduanya di Muntilan.
c)    Famili Mbah Minem (Gangsan), anak tunggal (Teguh) di Madiun
d)   Famili Mbah Tamyis (Salatiga), 3 anak yaitu Sumi (Gangsan), Tamyis (Salatiga), Dalmini (Gangsan).
e)   Famili Nap (Madiun), 3 anak yaitu Tatik/Teguh (Madiun), Agus (Madiun), Singgih (Muntilan).

Periksa pohon keturunan (Silsilah Trah Tambeng).

Demikian penampilan Posong Sagotrah (5), kepada pemirsa yang secara kebetulan membaca dan ada sesuatu yang kurang sempurna pada tulisan dan Diagram Pohon Keturunan tersebut diatas, mohon koreksi untuk kesempurnaan tulisan. 


Dari diagram Trah diatas, kami sangat berharap ada tanggapan yang bisa jadi salah tulis, kurang lengkap, dan lain-lain untuk menyempurnakan tulisan lebih lanjut.

Kepada Bapak saya (Pak Guru Samidi), Pakde Turmudi di Tangerang, Mbah Minem di Gangsan dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penyusunan diagram silsilah, saya dan keluarga menyampaikan apresiasi yang tinggi dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

Semoga bermanfaat.
Jakarta, September 2010 


27 Sep 2010

Posong Sagotrah (4)

PENELUSURAN TRAH SELAR

Penelusuran Posong Sagotrah pada Trah Selar sama dengan Petunjuk penelusuran Trah Kartowiryo yang sebagian besar berdomisili di Dusun Magowangsan. Trah Selar berasal dari Jalur Induk Posong yang merupakan anak sulung dari 6 (enam) orang anak Mbah Setro Saiman.

Saya tulis ulang, generasi pertama Jalur Induk Posong :
Jalur Kerabat mBah Setro Saiman (Margowangsan/Gangsan)
(1)      mBah Selar (Gangsan) : Keluarga mbah Isah, Pak Guru Tris (Gangsan)
(2)     mBah Darmin (Gondang Lor) : Keluarga Sarmadi bapaknya Hermanto (Wonolobo)
(3)     mBah Sri (Talaman) : Keluarga mBah Jamal  (Talaman)
(4)     mBah Kartowiryo (Gangsan) : Keluarga Pak Guru Samidi (Gangsan)
(5)     mBah Rus (Gangsan) : Hilang pada jaman perang kemerdekaan
(6)     mBah Tambeng (Gangsan) : Keluarga mBah Supo/mBah Minem (Gangsan)

Trah Selar menempati keluarga paling besar di dusun Margowangsan dan Kecamatan Sawangan, yaitu Famili Mbah Ali/Isah adalah Keluarga Pak Guru Sutrisno, Bu Guru Sadiyah (almh), Bu Saidah (almh), Pak Guru Sukasah, Pak Sarno, Pak Suparto, periksa pohon keturunan (silsilah). Dari Famili Mbah Marsan adalah Pak Guru Sumadi, Pak Turmudi (Jkt), Pak Rahmat (alm) dan Nedi. Dari Famili Mbah Marjono adalah Pak Suwito (Bdg). Lainnya, berdomisili di Kiyudan, Talaman, Banjengan (Dukun).

Keluarga Mbah Isah (Gangsan)


Di Jakarta, Trah Selar meliputi brayat Mbah Marsan yaitu keluarga Pak Dulrahman (alm) di Bintaro, famili Pak Turmudi di Komplek Merpati Mas, Tangerang. Famili dari Mbah Ali adalah Tri Yanjono (Guru SMA Kemurnian, Cengkareng).

Bersambung ke tulisan berikutnya.

23 Sep 2010

Kemiskinan, Sebuah Tinjauan Akademik & Fakta Lapangan


Miskin, dalam pengamatan saya yang dibesarkan sebagai warga Wong nDeso ngGunung Merbabu (Merbabu Hill Tribes) pada masa kecil seumuran SMP dan SMA tahun 1970-an, masyarakat pedesaan kayaknya "tabu" mengatakan kata-kata miskin. Benar-benar fakta nih,  padahal  miskin bin menderita kondisinya. Salah satu ilustrasi kemiskinan tahun 1970-an kebawah, saya sering mendengar radio atau suratkabar, bahwa di dataran kritis sebelah selatan P. Jawa ada yang gantung diri atau sengaja ditabrak kereta karena kesulitan hidup yang tak tertahankan. Diskusi-diskusi di Pos Ronda sangat-sangat menghindari pembicaraan "miskin" . Mungkin takut menyinggung perasaan masyarakat Indonesia yang sudah lama menderita kemiskinan barangkali. Setelah Pelita III tahun 1980-an, mulai terdengar dari Presiden RI adanya Program Pengentasan Kemiskinan melalui pemerataan pembangunan. Istilah pengentasan sangat tepat karena bener-bener masyarakat terendam dalam kemiskinan berpuluh-puluh tahun lamanya. 
 
Kemiskinan sudah sejak lama menjadi masalah bangsa Indonesia, dan hingga sekarang masih belum menunjukkan tanda tanda menghilang. Angka statistik terus saja memberikan informasi masih banyaknya jumlah penduduk miskin tahun 2008 yaitu sekitar 18 persen atau lebih-kurang 30 juta jiwaberada di bawah garis kemiskinan dan Tahun 2010 diperkirakan mencapai 17 % atau sekitar 50 juta jiwa. Angka fantastis untuk Negara super kaya bahan mineral dan lumbung biomass kekayaan alam yang bernilai ekonomi tinggi. Jika dibandingkan dengan Jepang yang serba terbatas sumber kekayaan alam ternyata Pemerintahnya mampu membuat sejahtera rakyatnya.

Harus diakui, pemerintah mempunyai perhatian besar terhadap masalah  ini terbukti telah menjalankan berbagai program penanggulangan kemiskinan. Karena itu bukan berarti berprasangka buruk terhadap pemerintah, jika kitaberbicara mengenai masalah kemiskinan. Terlepas dari soal setuju atau tidak, kita tidak bisa memungkiri bahwa masalah kemiskinan memang ada di sekitar kita. Setiap mata pemirsa TV tiap kali timbul bencana alam yang terjadi, senantiasa terbelalak terbuka tabir masih adanya kemiskinan di kampung-kampung perkotaan maupun desa-desa yang terkena bencana. Taraf hidup di bawah garis kemiskinan, kondisi gizi yang rendah, pendidikan yang serba memprihatinkan, perikehidupan yang dilingkari kemelaratan, sering mewarnai daerah-daerah yang terkena bencana.
 
Dalam dinamika pembangunan memang pada satu sisi telah mampu  men i ng katkan pendapatan sebagian penduduk, tetapi bersamaan dengan itu jugaterdapat penduduk miskin yang absolut. Ini berarti menjadi indicator bahwa pendapatan
Nasional masih belum terdistribusi secara merata. Menurut Bank Dunia, proporsi pembagian pendapatan nasional di negara-negara berkembang senantiasa menunjukan ketidakberimbangan antara yang terbagi pada warga miskin yang jumlahnya banyak dengan yang terbagi pada penduduk kaya.

Komposisinya adalah: 40 persen  rakyat dengan pendapatan terendah memperoleh hanya 15 persen dari pendapatan nasional; 40 persen dengan pendapatan di atasnya, memperoleh 32 persen dari pendapatan nasional; dan 20 persen dari golongan pendapatan tertinggi memperoleh 53 persen dari pendapatan nasional.

Tinjauan akademik,  suatu factor penentu pemerataan bukan rate dari growth dan dengan demikian pula bagi masalah kemiskinan, namun pattern dari growth-lah yang relevan. Dengan kata lain, bukan kecepatan pertumbuhan yang menentukan pemerataan, melainkan pola pertumbuhannya. Maksudnya memacu pertumbuhan ekonomi, tanpa dibarengi dengan upaya menciptakan struktur sosial yang egaliter, hanya akan menampilkan fakta kesenjangan sosial yang kian melebar. Secara populer, sering terdengar ungkapan dalam pergaulan sosial: ”yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Dalam studi akademik, penyebab kemiskinan meliputi tiga unsur:
(1)     kemiskinan yang disebabkan oleh hambatan badaniah atau mental seseorang;
(2)     kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam  dan
(3)     kemiskinan buatan.

Oscar Lewis menggambarkan suatu kebudayaan kemiskinan. Kemiskinan yang membudaya itu menurut Lewis disebabkan oleh perubahan social secara fundamental seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme, perubahan teknologi yang cepat, kolonialisme, detribalisme, system social dan politik Negara.

Kemiskinan buatan  ini sering dikenal sebagai kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh manusia, dari manusia, dan terhadap manusia pula. Artinya, kemiskinan yang timbul oleh dan dari struktur-struktur buatan manusia,
baik struktur ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kemiskinan buatan itu timbul dan dimantapkan oleh berkembangnya sikap nrimo, sebagai nasib, dan sikap neglect, atau sikap tidak menghiraukan, menganggap enteng dan tidak penting.
Sikap nrimo memandang kemiskinan sebagai nasib, bahkan sebagai takdir Tuhan, sehingga menimbulkan struktur ekonomi, politik dan sosial dan sebagainya.

Kondisi tersebut diatas  telah menjadi komoditas politik Penguasa dalam penyajian jani-janji politik pada saat kampanye Pemilu Presiden, Gubernur, Bupati bahkan Pilkades sekalipun.  Tidal bisa dipungkiri bahwa arah kebijakan penanggulangan kemiskinan di Indonesiabanyak dipengaruhi politik pemerintah mayoritas dan masyarakat donor.
Akan tetapi hasilnya masih belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah bahwa konsekuensi strategi penanggulangan
kemiskinan yang ada saat ini adalah tidak focus dan mempersamar substansi penanggulangan kemiskinan sehingga kurang membawahasil.

 Meski  tidak melihat bahwa penyebab kemiskinan bukan saja dari factor tingkat pendidikan, akan tetapi diakuinya bahwa interelasi kemiskinan dan pendidikan sangat penting dikaji secara mendalam. Sejauh diletakkan hanya dalam koridor linear (dengan mengabaikan peran variabel-variabel lain seperti budaya), di sana tercermin masalah saling-keterkaitan pada konteks yang lebih besar, yakni hubungan timbal-balik antara pendidikan dan masyarakat.

Fakta bahwa pendidikan merupakan objek politik kekuasaan sedang mengemuka, hal ini ditandai ketika pendidikan menjadi semakin mahal sehingga warga miskin tidak dapat bersekolah, atau ketika banyak gedung sekolah ambruk, dana dari masyarakat yang seharusnya masuk lewat pajak ternyata nyangkut di Oknum tertentu sehingga menurunkan pendapatan Negara cukup besar,  kurikulum sarat beban dan mutu guru rendah. Konteks hubungan pendidikan dan masyarakat itu, interrelasi persoalan kemiskinan dan pendidikan dapat membuka tabir posisi ganda pendidikan, yakni sebagai driving force atau daya penggebrak transformasi masyarakat, dan sebagai objek politik kekuasaan. Pendidikan tidak mendorong mobilitas sosial dan kadang-kadang justru menjadi bagian dari proses pemiskinan maka hal ini sebenarnya sedang terjadi persoalan pada fungsi pendidikan sebagai driving force transformasi sosial masyarakat.

Proses pendidikan sebaiknya tidak menitikberatkan pada pemerolehan ilmu pengetahuan, tetapi pemerolehan cara-cara dan sikap untuk memeroleh ilmu pengetahuan. Gampangnya, merujuk misi pendidikan global abad ke-21 yang digariskan UNESCO, proses pendidikan perlu diarahkan pada tiga prinsip: learning to learn, learning to do, learning to live together (Unesco,2008).
Hanya dengan demikian daya gebrak pendidikan dapat dihidupkan untuk memutus rantai struktur-struktur sosial dan ketidakadilan yang masih membelenggu sebagian (besar) warga bangsa kita hingga hari ini (Depkominfo, 2008).

Definisi ukuran miskin secara fisik seharusnya sudah direvisi. Pakar dari BPS ternyata mengukur angka kemiskinan menggunakan perhitungan ala Bangladesh, Vietnam, Gambia yang kondisi alam dan struktur masyarakatnya jauh berbeda dengan RI.  Perhatikan Harian Jakarta yang baru-baru ini menerbitkan judul "Berpendapatan Rp7.000 per Hari Dianggap Orang Mampu" (Media Indonesia 21 Sep 2010).
Rata-rata nasional pendapatan penduduk yang tidak masuk kategori miskin yakni Rp211.726 per orang per bulan. Artinya, setiap orang yang penghasilannya sekitar Rp7.000 per hari sudah masuk kategori masyarakat mampu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan (2010), mengungkapkan, untuk mengukur angka kemiskinan, pihaknya menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, penduduk miskin memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Garis kemiskinan makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori per orang per hari. Jika dikonversi terhadap nilai uang, angka tersebut setara dengan Rp.155.615 per orang per bulan.

Namun, itu juga masih ditambah dengan kebutuhan dasar nonmakanan senilai Rp.56.111 per orang per bulan. Artinya, total kebutuhan pokok rata-rata nasional sekitar Rp7.057.

"Yang penghasilannya berada di bawah itu masuk dalam kategori masyarakat miskin," tukasnya.

Kebutuhan pokok non-makanan merupakan kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Konsep ini tidak hanya digunakan oleh BPS tetapi juga oleh negara-negara lain seperti Armenia, Senegal, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Sierra Leone, dan Gambia. (ST/OL-5)

Ok, beralih kepada fakta Kemiskinan Relatif di masyarakat, mereka melakukan itu sejak lahir. Kesempatan bekerja dan berusaha pada usia kerja sudah bersaing dengaan kelompok masyarakat yang lebih beruntung, dan lain-lain keterbatasan yang ada. Sikap fatalistik (menerima takdir) sudah membudaya di dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, mereka tetap tabah menjalankan hidupnya dengan berbagai alternatif upaya yang ia lakukan. Pengukuran tingkat kemiskinan pada kehidupan masyarakat pedesaan pada umumnya sulit untuk mendefinisikannya. Riilnya, ukuran  materi yang terlihat tidak serta-merta menggambarkan tingkat penghasilannya yang mengakibatkan penyimpangan  dalam perhitungan kemiskinan secara akademik. Sebagai contoh, petani dengan tanah garapan 0,3 Ha bahkan buruh mencangkul sekalipun  sekaligus karyawan honorer dengan gaji Rp.600.000,-/bulan, bisa memiliki rumah tembok kokoh berikut sepeda motor 2 unit. Identifikasi unit kemiskinan seharusnya meliputi keompok jiwa, bukannya jiwa. Sebagai contoh, Seorang kakek bersama 1 orang anaknya pengangguran di daerah Gunung Kidul misalnya, pekerjaan riilnya adalah menampung devisa sebesar Rp.20 juta/bulan dari 4 anak-anak lainnya yang menjadi pedagang bakso di Ambon dan TKI di Irak (misalnya), maka tidak bisa 2 jiwa tsb secara akademik dikategorikan sebagai penderita miskin. Dan masih banyak contoh kasus yang lain perkecualian kesalahan perhitungan. Beberapa kasus tersebut diatas disebabkan adanya sifat masyarakat pedesaan yang super efisien dalam mengelola keuangan dan kemampuannya memproduksi segala kebutuhan primer yang berdampak mudah dan murah mendapatkannya. Dalam kalimat singkatnya masyarakat (Jawa) dengan tingkat produktifitas tinggi dan mampu menghindari hal-hal yang bersifat kontra produktif.  

Masyarakat pedesaan lebih memilih kemapanan walaupun dalam kesehariannya dilakoni dengan sangat efisien dan  irit  daripada berpenghasilan besar tetapi diperoleh tidak setiap hari seperti halnya kehidupan Pedagang. Make tidak heran jika pembekalan perjuangan hidup sebagai Pedagang sangat tidak populer di masyarakat pada umumnya. Para orang tua lebih gigih memperjuangkan anaknya untuk menjadi “Amtenar” di Lembaga Pemerintah ketimbang jadi pedagang yang penuh tantangan untuk berhadapan dengan situasi “pasar bebas”.

Wang Sinawang
Filosofi  muncul dalam diskusi-diskusi kala snggang  diantara mereka. Yang pedagang memperhatikan petani hidupnya lebih enak ketimbang pedagang karena setiap hari bekerja dari jam 05.30 wib s/d 11.00 sudah beres. Si petani memperhatikan kehidupan karyawan perusahaan kayaknya lebih enak, ketimbang Pegawai Pemerintah karena setiap bulan membawa uang gajian lebih gede, dls. Celakanya yang tidak mendapatkan kesempatan berusaha dimanapun berada, sementara pola kehidupannya sudah terlanjur lebih mewah, sementara keterampilan dan agamanya sangat minimal, maka kesempatan ada kecenderungan untuk tindak kejahatan.

Kembali kepada materi “gerundelan” adalah kemiskinan, dari pengamatan saya di India bagian Selatan (Keralla) , India Timur (Orissa) dan Tengah (Madya Pradesh), kondisi masyarakat disana jaauh lebih menderita dibandingkan dengan masyarakat miskin di Indonesia. Sesulit apapun kehidupan di Indonesia, apa lagi di Jawa, Kalimantan, Sumatera bisa digolongkan masyarakat (mendekati) Negara Maju ‘near to be advanced country” dalam arti mudahnya kesempatan memperoleh bahan pangan dan akses kesempatan berusahanya cukup besar dan mungkin.

Satu hal yang harus menjadi komitmen bersama “HILANGKAN KORUPSI DI BUMI PERTIWI DAN BIMBINGLAH SETIAP WARGA MISKIN MEMILIKI AKSES USAHA”.   

Modal harapan cerah untuk mencapai Pemerataan Kesempatan memperoleh kesejahteraan, masih ada yaitu  KETAQWAAN, dan KESABARAN rakyat miskin tetapi kaya keimanan. Program-program pengentasan kemiskinan harus mengarah ke alamat pendidikan keterampilan dan bersaing mendapatkan kualitas pribadi yang mampu bersaing di ajang penghidupan “pasar bebas” dalam lingkungan tradisional yang tetap terjaga filosofi peri kehidupan yang efisien, murah dan dapat dilaksanakan oleh mereka (applicable).  Rebutlah hati masyarakat miskin dengan berbagai program pe-ringan-an beban hidup dan jangan biarkan mereka masuk dalam perangkap Hegemoni Bangsa-bangsa lain yang menmperkenalkan “terorisme” sebagai salah satu bentuk alternatif “Kekecewaan peri Kehidupan" dengan dalih membela agama.



Referensi :
Tim Redaksi, Prof.DR. Musa Asy'arie, dkk, 2008, Mengurai Benang Kusut Kemiskinan di Indonesia, Jurnal Dialog Kebijakan Publik, ISSN 1979 -3499, Edisi-3, DepKominfo, Jakarta 


17 Sep 2010

Sajak WS Rendra "SEBATANG LISONG"

Sejenak kita menikmati sajak Sang Maestro Sastrawan WS Rendra dalam menatap kondisi sosial kemasyarakatan dewasa ini. Memilukan.......menatap masa depan kanak – kanak, Menghadapi satu jalan panjang, Tanpa pilihan, Tanpa pepohonan, Tanpa dangau persinggahan, Tanpa ada bayangan ujungnya. Apalah artinya para Pemikir jauh dari masalah kehidupan nyata.


Sajak Sebatang Lisong
karya WS Rendra
Menghisap sebatang lisong
Melihat Indonesia Raya
Mendengar 130 juta rakyat
Dan di langit
Dua tiga cukong mengangkang
Berak di atas kepala mereka

Matahari terbit
Fajar tiba
Dan aku melihat delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan

Aku bertanya
Tetapi pertanyaan – pertanyaanku
Membentur meja kekuasaan yang macet
Dan papan tulis – papan tulis para pendidik
Yang terlepas dari persoalan kehidupan

Delapan juta kanak – kanak
Menghadapi satu jalan panjang
Tanpa pilihan
Tanpa pepohonan
Tanpa dangau persinggahan
Tanpa ada bayangan ujungnya

Menghisap udara
Yang disemprot deodorant
Aku melihat sarjana – sarjana menganggur
Berpeluh di jalan raya
Aku melihat wanita bunting
Antri uang pensiunan

Dan di langit
Para teknokrat berkata :

Bahwa bangsa kita adalah malas
Bahwa bangsa mesti dibangun
Mesti di up-grade

Disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung – gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
Protes – protes yang terpendam
Terhimpit di bawah tilam

Aku bertanya
Tetapi pertanyaanku
Membentur jidat penyair – penyair salon
Yang bersajak tentang anggur dan rembulan
Sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
Dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
Termangu – mangu di kaki dewi kesenian


Bunga – bunga bangsa tahun depan
Berkunang – kunang pandang matanya
Di bawah iklan berlampu neon
Berjuta – juta harapan ibu dan bapak
Menjadi gemalau suara yang kacau
Menjadi karang di bawah muka samodra

Kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
Diktat – diktat hanya boleh memberi metode
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
Kita mesti keluar ke jalan raya
Keluar ke desa – desa
Mencatat sendiri semua gejala
Dan menghayati persoalan yang nyata

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat
Apakah artinya kesenian
Bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
Bila terpisah dari masalah kehidupan

14 Sep 2010

Nyadran

Nyadran di samping areal pekuburan Dusun Gelap
Jika di dalam masyarakat Dayak dikenal Tiwah, maka di masyarakat Jawa dikenal “Nyadran” berasal dari kata Sraddha, mendapat awalan Nya+ dan akhiran +an menjadi “nyadran” yang berarti melaksanakan Sraddha. Persamaan kedua istilah tersebut bermaksud untuk mengenang arwah leluhur yang sudah meninggal. Perbedaannya, upacara Tiwah dilakukan sekali untuk selamanya oleh keluarga yang masih hidup terhadap jasad yang telah meninggal dan dikubur beberapa tahun dan Tiwah merupakan penghormatan kepada arwah terakhir untuk meninggalkan dunia fana. Sedangkan Sraddha dilakukan setiap tahun sekali menjelang bulan puasa Romadhon untuk mendoakan kepada seluruh arwah yang telah mendahului kita "leluhur". Kegiatan Tiwah masih dilaksanakan aslinya dan belum tercampur oleh unsur budaya lain, sedangkan sraddha yang dilakukan saat ini sudah disusupi ajaran Islam yaitu khotbah siraman rohani diantara rangkaian ritual. Acara pengiriman do'a kepada leluhur dalan ritual Tiwah masih mengenal harumnya wewangian alami dari asap dupa kemenyan, sedangkan pada ritual nyadran saat sekarang sudah tidak ada lagi harumnya asap dupa kemenyan, bunga mawar, kenanga, kanthil dan daun pandan. 

Bentuk reminisensi (persamaan pelaksanaan) upacara sraddha ini masih ada hingga sekarang dan untuk memudahkan pengucapan disebut sadran dengan bentuk verbal aktif nyadran.
Upacara sraddha aslinya adalah upacara umat Hindu di pulau Jawa zaman dahulu kala untuk mengenang arwah seseorang yang sudah meninggal. Datangnya Islam di Tanah Jawa, Sunan Kalijogo dalam dakwahnya kepada masayrakat Jawa Hindu tidak serta merta membumihanguskan ritual Hindu tetapi dalam upacara Sraddha diselipkan pesan-pesan Syiar Islam. Faham Hindu dan Animisme semakin lama semakin dikurangi dari sedikit demi sedikit, agar ajaran Islam tidak ditolak mentah-mentah oleh masyarakat setempat, mengingat karakter masyarakat Jawa yang sangat kuat memegang teguh komitmen spiritualnya.
Upacara Sraddha dilakukan setiap tahun sekali menjelang hari-hari “Sakral” bagi umat muslim yaitu menjelang bulan Romadhon. Pada awalnya peralatan upacara yang berbasis Hindu selalu tidak ketinggalan “bau harum” dari pembakaran upa dalam rangka mengundang arwah untuk datang di tempat itu, berikut Nasi Tumpeng, jajan pasar dan beraneka lauk pauk, buah-buahan serta kue basah. Namun, dalam perkembangannya setelah ajaran Islam masuk, maka sarana ritual yang berfaham Hindu mulai dihilangkan, digantikan dengan lauk-pauk dan jajanan yang mudah dikerjakan atau dibeli di sekitarnya. Penyajian nasi tumpeng pun mulai disisipkan unsur keindahan. Nampan bambu, Tedo atau Tampah sebagai alas untuk menempatkan nasi tumpeng berikut lauk-pauknya sudah diganti dengan Lengser. Pinggiran Lengser dikasih aksesoris daun pisang agar lebih menarik, dan lain sebagainya.




Pelaksanaan Nyadran Ditinjau Secara Sosiokultural
Dakwah syiar Islam memerlukan media dan sarana untuk mengumpulkan massa. Kultur masyarakat Jawa masa Wali Songo masih lekat dengan faham Hindu. Media pengumpulan massa terjadi pada ritual-ritual Hindu seperti "wayangan pada saat ngruwat", ritual sembahyang kubur, selamatan setiap bulan-bulan tertentu menjadi inspirasi Wali Songo untuk menyusup dan memasukkan ajaran Islam di dalamnya.


Secara sosiologis, ritual nyadran untuk syiar Islam adalah sangat efektif. Dari aspek “timing” waktunya bersamaan dengan kekhidmatannya menjelang bulan sakral puasa Romadhon, maka settiap orang akan merasa khidmad untuk mendengarkan. Yang kedua dari aspek “komunikasi massa” sangat tepat bahwa emosional setiap orang tua, muda dan anak-anak merasa terpanggil untuk datang dan berkumpul bersama di suatu tempat yang ditentukan tanpa membuat undangan formal.


Peralatan atau ubo-rampe upacara ritual nyadran ala Sunan Kalijogo masih tetap dilakukan di Pinggir Areal Pekuburan di beberapa Dusun tetapi sudah tidak mengenal “dupa kemenyan”. Doa-doa puji-pujian berbahasa Arab bercampur Jawa yang mengiringi asap dupa untuk mengiringi do'a sudah diganti dengan Tahlil dan khotbah siraman rohani dan doa-doa untuk mendoakan arwah leluhur.
Nyadran menjadi sarana komunikasi dan silaturahmi warga setempat untuk saling menghormati, mempererat tali persaudaraan dan menambah wawasan melalui siraman rohani dari Tokoh Spiritual sekaligus Tokoh Panutan warga setempat.
Secara kultural, nyadran merupakan hasil kreasi spiritual yang menakjubkan bagi setiap orang yang datang untuk datang, duduk, berkumpul, berdoa secara khidmat, meluapkan emosional untuk saling berkontribusi terhadap sesama ahli waris dari para leluhur yang dimakamkan di areal pekuburan, suatu tempat dimana para hadirin duduk bersama. Nyadran juga merupakan forum komunikasi temporal untuk saling mengenal, saling memahami diantara setiap orang yang hadir.
Bentuk dan pola penyajian makanan dalam bentuk tumpeng berikut lauk-pauk diatas "ancak" (anyaman bambu persegi empat tempat tumpeng diletakkan) dan "takir" (piring kecil dibuat dari daun pisang tempat sayur dan lauk-pauk) merupakan buah karya seni kuliner. Pada saat ini penyajian makanan ini menjadi inspirasi bagi Ahli-ahli kuliner untuk meniru gaya penyajian ritual tradisional Jawa ke dalam penyajian di Restoran Modern sebagai daya tarik pengunjung untuk menikmatinya.  

Kronologis Pelaksanaan Nyadran Dusun Margowangsan :
  • Pada masa sebelum tahun 1960 ritual Nyadran dilaksanakan di areal depan pekuburan sebelah timur, di depan pintu masuk areal pekuburan sekarang. Peralanan "ubo rampe" ritual berupa nasi tumpeng, "ontho-ontho" bregedel bulat kecil berbahan baku beras, lauk-pauk, jajan pasar, lengkap dengan kue-kue basah yang dilaksanakan di pagi hari, pada saat 7 hari sebelum hari pertama puasa Romadhon.
  • Mulai tahun 1960 hingga tahun 2000 ritual nyadran dilaksanakan di Masjid dengan ubo rampe nasi tumpeng, onto-onto dan lauk-pauk. Kue-kue untuk para tamu dari luar Dusun sudah ditinggalkan. Pelaksanaan nyadran pada malam hari bertepatan 7 hari sebelum hari pertama puasa Romadhon.
  • Mulai tahun 2000 hingga sekarang ritual nyadran tumpengan sudah hilang tinggal cerita si buyung digantikan dengan "Pengajian berjudul Nyadran". Pelaksanaan tetap pada saat 7 hari sebelum hari pertama puasa Romadhon. Lokasi nyadran dibuat "tratak" tenda, para hadirin disediakan kursi, disediakan snack pada kotak kardus dan makan menggunakan piring. Acara sangat formal pengajian pada umumnya, tidak ada basa-basi sebagai forum tradisional kekeluargaan.   
Nostalgia Ritual Tradisional Bagaimana acara Ritual Nyadran dan Ritual lainnya seperti Suran, Saparan, Muludan, Ruwahan dilaksanakan, berikut diketengahkan rekaman saya 40 tahun yang lalu  yang sempat saya ingat yang terjadi di Dusun Margowangsan - Sawangan - Magelang a.l :  




Tumpeng Modern dengan Sentuhan Artistik
Acara Ritual Nyadran atau Ritual lainnya seperti Suran, Saparan, Muludan dan Ruwahan. Pada awalnya Bapak Kebayan (Kepala Kampung) Mbah Karjo mendahului acara dengan menabuh Kentongan Mesjid dengan irama khusus, ditabuh berulang kali agar warga pada datang dengan membawa Nasi Tumpeng dan makanan pelengkap lainnya. Setelah Warga berdatangan dan mengepung tumpeng, maka Kebayan memulai acara sbb : 

  • Pengantar maksud dan tujuan kenduri oleh Kebayan

  • Pesan-pesan Pemerintahan terkait pembayaran PBB, bersih desa, rencana pembangunan Desa, dll

  • Sekelumit sejarah ritual kenduri yang dilaksanakan secara turun-temurun dari leluhur Pendiri Pedukuhan (Kyai Soro bersama Kyai Margowongso) sampai saat itu yang disampaikan oleh Mbah Mariyah sebagai Tetua Adat sekaligus Kaum (Kepala Agama tingkat Pedukuhan)

  • Pengantar doa oleh Mbah Mariyah yang ditujukan kepada seluruh penduduk pedusunan Margowangsan, Bendan, Mudal dan dilanjutkan Doa Keselamatan.

  • Dahar Kembul, makan bersama

  • Sisa tumpeng dibawa pulang untuk dimakan Keluarga di rumah. Sisa makanan ini tidak dianggap sebagai “makanan sisa” tetapi justru menjadi rebutan bagi Ibu-ibu dan anak-anak perempuan yang memang tidak boleh mengikuti acara ritual. Nasi tumpeng yang dibawa dari Mesjid diyakini membawa berkah bahwa makanan yang sudah mendapat do'a akan memudahkan mendapatkan rizki.
Yang menarik dan saya catat dalam ingatan pada acara ritual 40 tahun yang lalu (1970-an) adalah ungkapan Tetua Spiritual kepada Warga yang sudah mengepung tumpeng dalam upacara ritual Suran, Saparan, Muludan, Nyadran, dengan suara parau magis-nya kurang-lebih sbb :


Ritual Nyadran Tumpengan seperti ini di Dusunku 
tinggal kenangan (Mengibung, Bali, Antara Foto, 2010)
Para rawuh sedaya ingkang kawula kurmati, Assalamu'alaikum wa Rohmatullahi wa barokaatu :
Wonten ing ndalu menika kita sedaya kempal wonten ing Mesjid saperlu :
Ingkang sepindah kita Ngaturaken Agunging raos syukur dumateng Ingkang Kuwaos, Allah subkhanahu wa ta'ala bilih dumugi ing wekdal menika kita sedaya khususipun wargo ing Padusunan Margowangsan, Bendan lan Mudal pinaringan wilujeng sarto pikantuk katentreman, kerta raharjo, Alhamdulillah.


Ingkang ongko kalih, Bapak Bayan ingkang minangka Pamong Dusun wonten ing wicoro ngajeng sampun ngendikaaken bilih kita sedaya kedah ngugemi sedaya “parintahipun Negari" langkung Bapak Lurah ing antawisipun bab “PAOS” (pajak) ingkang kedah kita lunasi lan sanes-sanesipun.


Ingkang ongko tigo utawi toto wicoro ingkang utami inggih punika kita sedaya badhe ngaturaken do'a dumateng Allah SWT lumantar do'a menika mugi kita sedaya, wargo ing Pedusunan Margowangsan, Bendan lan Mudal dipun paringana wilujeng, lir ing sambekala, Amin.


Kita sedaya sampun ngepung Tumpeng ingkang mawi angkah sarono ngemong-mongi anggenipun sami bale griyo sedoyo masyarakat padukuhan Margowangsan, Bendan lan Mudal, mugi–mmugi dipun paringana jejek pajek kukuh bakuh wilijeng sa lebeting griyo lan sak jawining bale griyo lan mugi–mugi anggenipun bebrayan wargo ing padukuhan sageto wilujeng dumugi ing samangke, Amin.


Kajawi saking meniko, Tumpeng kagema sarono nyumurupi bilih Allah ingkang jagi rumekso ing padusunan Margowangsan, Bendan lan Mudal, mugi–mugi songsong agungipun sagedo memayungi sedoyo wargo lan mugio babar prabowo katrenteman lan kawilujengan bade lumeber dumateng sedoyo wargo ing Pedusunan Margowangsan, Bendan lan Mudal, Amin


Tumpeng meniko ugi kagem nyumurupi, mugi mugi sedaya putro wayah Dusun Margowangsan, Bendan lan Mudal dipun tebihaken sangking godo rencono lan beboyo sahenggo sedaya manggihi ing karaharjan dumugi ing samangke, andadosno putro wayah sedaya ing samangke pinanggih kawontenan masyarakat ingkang tansah ayem–ayem, toto, titi, tentrem, kerto raharjo. Putra wayah ingkang piguna tumrapipun bebrayan ing wargo sakiwa-tengenipun lan dadosna priyagung sekaring bawono ingkang arum ganda asmanipun, Amin


Tumpeng sa-ubo-rampenipun meniko namung perlambang lumantaripun khidmat do'a mring Gusti Allah, kagem nyumurupi bilih ing wulan Suro/Sapar/Mulud/Ruwah/ (pilihan) meniko mugi-mugi para wargo Margowangsan, Bendan lan Mudal sagedo kaparingan panjang yuswa lan kacekapanipun boga turah ing pawingking lan kagem sak lajengipun, Amin


Monggo kita sedaya maos Al Fathihah,
(Selanjutnya acara tahlil yang dipimpin Kaum)

(Selanjutnya Doa Keselamatan : Allahhumma innanas aluuka salamatan, fiddiini wa 'afiatan ba'dal maut, firrizki wa taubatan 'indal maut, dst)


(Acara terakhir adalah dahar kembul, membagi-bagikan makanan kepada anak-anak yang datang dan masing-masing membawa makanan yang belum habis)

Perhatikan Pengantar doa yang dibacakan Mbah Mariyah terasa Indah, Sejuk dan Berkesan. Anak-cucu tidak terkecuali dido'akan agar di kemudian hari diharapkan menjadi manusia berguna bagi masyarakat, ketemu zaman tata, titi, tentrem, Amin. 

APA YANG SALAH DENGAN RITUAL TUMPENGAN ...jawabannya, jika pengamalannya sudah meminta berkah kepada sesuatu selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa atau syirik. Apakah ritual nostalgia tersebut diatas temasuk syirik?


Akankah Ritual Nyadran Tumpengan Dihapus Tanpa Kompromi?
Memperhatikan pelaksanaan syiar Islam melalui "nyadran" pada tahun 1960-an hingga 1980-an, di beberapa daerah di daerah Lereng Merbabu dan Merapi, upacara Nyadran meliputi 2 kegiatan yaitu : (1) Nyekar di pekuburan tempat para leluhur dimakamkan yang dilaksanakan sebelum ritual utama dan (2) acara siraman rohani, dilanjutkan dengan kenduri yang dilaksanakan di areal khuus di samping pekuburan, tempat dimana sudah disediakan oleh Para leluhur sejak zaman dahulu. 
Dalam perkembangannya, kedua acara tersebut diatas masih dilaksanakan di Dsn. Mudal, Sawangan, Butuh, Babadan, dll hingga sekarang dan khusus di Pedukuhan Margowangsan acara nyadran tinggal siraman rohani saja.

Acara  nyekar dengan pembakaran dupa diatas pusara leluhur masih dilaksanakan. Sedangkan acara utama uborampe  atau peralatan  berupa : “tumpeng, ingkung, jajan pasar plus kue-kue lokal”. Masyarakat menyiapkan makanan berupa kue-kue basah, lauk-pauk beraneka warna untuk dimakan bersama di lokasi festifal. Sebagian dari makanan hasil olahan warga disiapkan untuk dikirim kepada sanak saudara yang tidak bisa hadir.
Meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat, wawasan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat serta kuatnya pengaruh faham pemurnian ajaran Islam, ritual nyadran yang berbau Hindu sedikit demi sedikit mulai terkikis. Di beberapa dusun bentuk asli ritual Nyadran sudah tidak ada lagi peralatan ritual seperti halnya tumpeng, ingkung, kue-kue basah, “takir” tempat lauk-lauk. Lokasi dipindah dari samping areal Pekuburan ke halaman Masjid, “tampah, takir dan tumpeng” yang ramah lingkungan diganti dengan piring dan kotak snack. Semua peralatan ritual sudah dihitung dengan banyak sedikitnya uang dan kepraktisan. Nasi Tumpeng sudah diganti dengan uang untuk diserahkan Panitia dan selanjutnya untuk menyiapkan Nasi dan Snack sesuai dana yang tersedia. "PRAKTIS & MURAH" tetapi banyak makna spiritual yang hilang baik dari sisi pesan moral, makna sosiologis, dan nilai-nilai budaya yang sulit untuk memulai kembali. Doa dari Tetua Adat Kampung sebagai Pemegang Garda Tradisional terdepan kepada seluruh warga dengan bahasa yang khas sudah tidak terdengar lagi.

Budaya Arab juga mengenal kenduri tetapi yang
dikepung kue & buah, karena di Arab tidak makan
nasi dan sayur-mayur (Warga Keturunan Arab - 
Palu - Sulteng, Antara Foto, 2010)  
Petitah-petitih Tokoh Spiritual lokal yang menjadi panutan masyarkat diganti dengan Ustadz dari lain daerah yang tidak mengenal karakter masyarakat setempat. Kekhidmatan tahlil disamping areal pekuburan dan hingar bingar orang-orang tua, muda, besar, kecil melahap makanan dalam satu tampah serta haru-biru anak-anak berebut nasi tumpeng dan aneka kue sudah lenyap tergantikan dengan “acara formal” dari Pembawa Acara yang harus melaksanakan rencana program yang disusun sebelumnya.

Latah barangkali, opo tumon..?
Perhatikan foto di samping kanan, Budaya Arab mengepung makanan untuk disantap bersama, kok malah orang Jawa menghilangkan budayanya sendiri. Ritual Nyadran Tumpengan sudah hilang nyawanya kemudian berubah bentuk menjadi “Pengajian berjudul Nyadran” dengan acara pokok mendengarkan siraman rohani dari Ustadz dari luar daerah. Bersamaan dengan hilangnya ritual Nyadran ala zaman dulu, maka hilang juga    ritual selamatan “Suran, Saparan, Muludan dan Ruwahan”. 




Ritual Nyadran dengan Tumpengan Perlu Dipertimbangkan
Nuansa Nyadran berjalan dengan warna keparaktisan, ternyata masih menyimpan faham tradisional Hinduisme (tumpengan) yang dilakukan setahun sekali setelah sholat “Idul Fitri”. Acara tumpengan "Idul Fitri" telah membuat magnet kuat rasa kangen anak-anak perantau untuk berpartisipasi makan rebutan nasi tumpeng sederhana dengan lauk "urap teri" yang disebut  "megono".  

Fenomena baru telah menyeruak dalam kehidupan masyarakat pedusunan sebagai implikasi dari dampak hilangnya sarana komunikasi tradisional dan tidak adanya subtitusi wadah komunikasi semacam kenduri , yaitu :

  • Individualistis dan kecenderungan sifat mementingkan keuntungan dirinya sendiri (Selfishy ).

  • Hilangnya tata kehidupan bermasyarakat yang diturunkan oleh adat para leluhur (indigenous loss). 

  • Kecenderungan membentuk kelompok kerabat yang masih satu faham (grouping)

  • Rivalitas dalam menempuh prestasi secara duniawiah semakin tajam yang berdampak pada semakin jauh perbedaan status prestasi duniawiah bagi yang mampu dengan yang lemah mengikuti persaingan pasar bebas (free trade).

  • Keamanan individual semakin terancam sebagai dampak lanjutan ketidakkompakan dalam menentukan arah massal dalam tata kehidupan bermasyarakat (poor secure warranty).



Jika fenomena tersebut diatas semakin nyata terlihat di masyarakat, maka opini sebagian warga semakin menyembul wacana dalam kehidupan warga yang menginginkan untuk mempertahankan "budaya Jawa" dengan faham pembersihan pengaruh Hindu yaitu “Jangan Hilangkan Ritual Nyadran Tumpengan” namun tetap menjunjung tinggi kemurnian ajaran Islam. Bisakah..??


Secara konseptual, "ajaran agama" dengan "budaya Arab" amatlah mudah diucapkan. Namun pelaksanaannya di tingkat grass-root (akar rumput), tidaklah mudah. Yang terjadi adalah generalisasi (digebyah uyah), pokoknya yang berbau tumpeng, dupa kemenyan, wewangian bunga untuk ritual adalah musyrik, maka harus dihapus....wah, salah kaprah nih..


Secara riil, wacana cita-cita yang diharapkan adalah menjalankan ajaran agama Islam secara murni dengan  tidak menghilangkan budaya Jawa, sbb :

  • Acara Tumpengan Nyadran -----(tetap dilaksanakan bagi yang berminat, bagi yang tidak berminat silahkan tidak apa-apa)

  • Lokasi Nyadran --------(tidak harus di sekitar areal pekuburan, paling praktis di masjid)

  • Kelengakapan peralatan adanya ingkung, kue basah, buah-buahan, dll ----(dikurangi, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga yang berminat)

  • Acara formal menggunakan tenda, kursi, piring, kotak snack ----(hilangkan.., kembali kepada nuansa tradisional nan murah, diganti lesehan, gunakan daun pisang, ancak (nampan bambu), makan bersama beberapa orang dalam satu ancak "dahar kembul")

  • Mengundang Ustadz dari luar daerah ----(ok, semakin lama semakin dihilangkan diganti Kyai lokal yang tahu karakter masyarakat setempat) Doronglah anak-anak untuk Nyantri di Pondok Pesantren dan dibiayai bersama-sama dari anggota Masjid untuk mencetak Kyai Lokal)

  • Pembakaran dupa kemenyan ----(mutlak dihapus, sudah lama ditinggalkan)

  • Penggunaan bunga mawar, kenanga, kanthil, daun pandan untuk nyekar ---- (silahkan bagi yang berminat)

  • Peserta yang hadir (orang-orang tua) ahli waris leluhur warga Margowangsan -----(libatkan sebanyak-banyaknya anak-anak para generasi penerus), agar mereka lebih memahami adat dan budaya leluhur yang adiluhung, efektif untuk wadah komunikasi.

  • Acara tahlil -----(mutlak dilakukan)

  • Acara formal -------(diarahkan menjadi acara kekeluargaan)
Demikian sekilas pengalaman dan wacana kehidupan.






Wassalam,
Agus Prasodjo