11 Okt 2011

Gelar Dalam Masyarakat Jawa



Artikel ini saya kutip 100 % dari http://www.wikipedia.org/. Sebelumnya memang saya dapat tulisan dari sepuh.blogspot, tetapi disana tidak mencantumkan sumber tulisan sehingga secara etika penulisan naskah tidak valid terkesan subjektif dan  legitimasinya sangat rendah. Penasaran terhadap judul artikel, saya coba membuka wikipedia, ternyata sudah tertulis disana. 
Berikut saya tulis Pengantar untuk mengarahkan pemikiran secara garis besar tentang perolehan gelar "kebangsawanan" dan status sosial. Kebangsawanan dalam masyarakat di Indonesia umumnya dan masyarakat Jawa khususnya adalah mitos harga diri yang melekat pada seseorang dan diakui sebagai status sosial seseorang. Masyarakat umum menganggap bahwa kebangsawanan adalah keturunan atau genetis dari orangtuanya yang memang dianggap oleh masyarakat sekitarnya sebagai tokoh mitos. Di masyarakat Jawa kebangsawanan dianggap sebagai mitos "berdarah biru", sehingga muncul dalam kehidupan budaya khususnya dalam memilih calon pasangannya perlu melihat "bobot, bibit, bebet". Dalam hal ini bibit maksudnya adalah faktor genetis yang konon jika seseorang adalah keturunan bangsawan maka keturunannya juga akan jadi bangsawan atau disebut "legi rembesing madu". Benarkah kebangsawanan adalah kodrat? Mitos, atau genetis?. 
Fakta yang berkembang di masyarakat sudah sedikit berubah. Status sosial ternyata terkait dengan kepemilikan materi dan adat kebiasaan serta kontribusinya terhadap masyarakat yang melekat pada seseorang. Justru, perasaan dan sikap pembawaan diri untuk mempertahankan status sosial, sementara faktor eksternalitas seperti pendidikan, keiamanan, sikap dan kontribusinya yang tidak mumpuni, hal ini akan membawa bencana bagi yang bersangkutan.

Kita kembali membahas Gelar Kebangsawanan Raja-raja di Tanah Jawa. Secara garis besar Gelar kebangsawanan masyarkat Jawa diberikan oleh Kerajaan kepada seorang Raja berikut keturunannya dan Gelar kepada warga diluar Kerajaan karena pengabdiannya terhadap kerajaan. Pemberian gelar diberikan Raja kepada seseorang yang ditunjuk berdasarkan kriteria kerajaan, diberikan sertifikat dan stempel kerajaan melalui prosesi "wisudan" yang dilakukan di lingkungan kerajaan "Keraton".

Namun, diluar keraton ada pemberian gelar oleh masyarakat terhadap seseorang karena jasa, kontribusi, kesaktian dan manfaatnya bagi masyarakat sekitarnya, seperti halnya : Kyai, Raden Mas, Bendoro, Romo, dll. Perolehan Gelar Sosial tersebut diperoleh secara otomatis, tidak melalui prosesi dan tanpa sertifikat dari Petinggi Kerjaaan dan Pemerintahan. Untuk gelar sosial ini tidak dibahas disini.
 
Gelar-gelar di lingkungan Kerajaan
Seorang raja di kerajaan Mataram biasanya memiliki beberapa orang istri / selir (garwa ampeyan) dan seorang permaisuri / ratu (garwa padmi). Dari beberapa istrinya inilah raja tersebut memperoleh banyak anak lelaki dan perempuan dimana salah satu anak lelakinya akan meneruskan tahtanya dan diberi gelar putra mahkota. Sistem pergantian kekuasaan yang diterapkan biasanya adalah primogenitur lelaki (bahasa Inggris: male primogeniture) dimana anak lelaki tertua dari permaisuri berada di urutan teratas disusul kemudian oleh anak lelaki permaisuri lainnya dan setelah itu anak lelaki para selir.

Gelar Kasunanan
Gelar yang dipakai di Kasunanan Surakarta:
  • Penguasa Kasunanan: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kaping ... (SISKS)
  • Permaisuri Susuhunan Pakubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:
  1. Ratu Kilen (Ratu Barat)
  2. Ratu Wetan (Ratu Timur)
  • Selir Susuhunan Pakubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy), dengan urutan:
  1. Bandara Raden Ayu
  2. Raden
  3. Mas Ayu
  4. Mas Ajeng
  5. Mbok Ajeng
  • Pewaris tahta Kasunanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram.
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Raden Mas Gusti (RMG)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Gusti Pangeran (KGP), dengan urutan:
  1. Mangku Bumi
  2. Bumi Nata
  3. Purbaya
  4. Puger
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Kanjeng Pangeran (BKP)
  • Cucu lelaki dari garis pria: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Cicit lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:
  1. Sekar-Kedhaton.
  2. Pembayun.
  3. Maduratna.
  4. Bendara.
  5. Angger.
  6. Timur.
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Anak perempuan tertua dari selir ketika sudah dewasa: Ratu Alit
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

Gelar Kesultanan

Gelar yang dipakai di Kesultanan Yogyakarta
  • Penguasa Kesultanan: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping ... (yang berarti pemimpin yang menguasai dunia, komandan besar, pelayan Tuhan, Tuan semua orang yang percaya)
  • Permaisuri Sultan Hamengkubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)
  • Selir Sultan Hamengkubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Pewaris tahta Kesultanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Raden Mas (GRM)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH)
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Pangeran Harya (BPH)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

Gelar Paku Alaman

Gelar yang dipakai di Kadipaten Paku Alaman di Yogyakarta
  • Penguasa Paku Alaman: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Raja Paku Alam Kaping ...
  • Permaisuri Raja Paku Alam: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Selir Raja Paku Alam: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)
  • Pewaris tahta Paku Alaman (putra mahkota): Bandara Pangeran Harya Suryadilaga
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Bendara Raden Mas (GBRM)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Pangeran Harya (KPH)
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Raden Mas (RM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Raden Harya (BRH)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria: Raden
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ajeng (GBRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ayu (GBRAy)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

KPH Projonegoro (Ngayogjokarto Hadiningrat)


Gelar Mangkunagaran

Gelar yang dipakai di Praja Mangkunagaran di Surakarta
  • Penguasa Mangkunagaran: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Mangku Negara Senapati ing Ayuda Kaping ... (KGPAA)
  • Permaisuri Raja Mangkunagara: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Selir Raja Paku Mangkunagara: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)
  • Pewaris tahta Mangkunagaran (putra mahkota): Pangeran Adipati Harya Prabu Prangwadana
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri: Gusti Raden Mas (GRM)
  • Anak lelaki dari selir: Bendara Raden Mas (RM)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria: Raden
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • 
    Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

Gelar lain

Selain beberapa gelar tersebut di atas, di lingkungan keraton sering juga dijumpai sebutan khusus seperti:
  • Sekarkedhaton (untuk menyebut putri sulung permaisuri)
  • Sekartaji (untuk putri kedua)
  • Candrakirana (untuk putri ketiga)
  • Putra tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendara Raden Mas Gusti dan akan berubah menjadi Gusti Pangeran setelah diangkat menjadi pangeran. Sedangkan putri tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendoro Raden Ajeng Gusti dan akan berubah menjadi Pembayun setelah menikah. Khusus untuk putri sulung (tertua) dari Garwa AmpĂ©yan mendapat gelar Kanjeng Ratu.
Beberapa gelar yang diberikan/dianugerahkan/diturunkan baik oleh trah Kesultanan, Kasunanan, Pakualaman atau Mangkunegaran memiliki beberapa karakteristik khas yang terdiri dari gelar turunan (darah) dan istimewa. Gelar-gelar yang telah anda baca di atas merupakan gelar-gelar turunan hanya sampai generasi ketujuh saja. Untuk generasi selanjutnya (8 sampai ...), bagi putra mendapatkan gelar Raden (R.) dan bagi putri gelarnya Rara (Rr.). Gelar tersebut berlaku sampai generasi ke berapapun dengan catatan berasal dari keturunan lelaki.
Dalam lingkup gelar kebangsawanan Mataram Islam, 4 praja nagari (Kesultanan, Kasunanan, Pakualaman, Mangkunegaraan) juga mengenal Gelar Istimewa. Gelar-gelar ini dibedakan menjadi 2 macam, yakni dapat diteruskan pada generasi berikutnya baik putra maupun putri dengan syarat sepengetahuan pihak keraton dan yang tidak dapat diturunkan pada generasi berikutnya dengan alasan merupakan gelar jabatan. Pada gelar istimewa yang dapat diturunkan, untuk keturunan dari lelaki dapat memperoleh gelar yang sama dengan generasi sebelumnya, khusus keturunan dari perempuan gelarnya akan diturunkan sesuai tingkatan gelar umum. Jika tingkatan gelar keturunan dari perempuan habis maka keturunan berikutnya tidak mendaptkan gelar lagi. Contoh gelar yang dapat diturunkan :
Putra :
  • Raden Mas (R.M.)
  • Raden (R.)
  • Raden Bagus (pernah digunakan dahulu: R.B.)
  • Raden Mas Ngabehi (R.MNg.)
  • Raden Ngabehi (R.Ng.)
  • Mas Ngabehi (M.Ng.)
  • Raden Panji (pernah digunakan dahulu : R.P.)
  • Mas / Mas Anom (merupakan gelar terakhir : ditulis lengkap)
Putri :
  • Raden Ayu (R.A.)
  • Rara (Rr.)
  • Raden Nganten (berlaku untuk 1-2 tingkat keturunan : R.Ngt.)
  • Mas Ayu
  • Nimas Ayu
  • Nimas / Putri / Ayu ((merupakan gelar terakhir : ditulis lengkap)
Perlu diperhatikan untuk poin ketiga dan seterusnya pada gelar putra & putri, gelar-gelar tersebut dapat diwisudakan pada generasi selanjutnya dengan beberapa pendapat :
1. jika keturunannya sudah dewasa, atau
2. jika sudah diketahui pihak keraton, atau
3. jika disetujui pihak keraton.

Polemik gelar itu masih simpang siur. Namun bagi keturunan yang telah yakin dengan gelar yang disandang, hendaklah arif menggunakan gelar tersebut karena menyangkut harkat dan martabat generasi di atasnya. Khusus untuk gelar putri apabila ada seorang putri dengan gelar RA. menikah dengan priyayi alit (masyarakat biasa) dan mempunyai anak putri maka gelar anaknya tersebut diturunkan menjadi Rr. dan seterusnya.
Contoh Gelar Istimewa karena Jabatan :

Kirab Grebeg Kyai Tuksongo

Biasa disandang oleh para Priyayi Anom, Adipati, Patih, Bupati, Wedana, Camat, Mantri dsb. (gelar ini dahulu disandangkan pada laki-laki, karena pemangku jabatan mayoritas adalah laki-laki, sedangkan istrinya juga mendapatkan gelar istimewa namun jarang)
  • Kanjeng Radèn Harya Tumenggung (KRHT)
  • Mas Radèn Harya Tumenggung (MRHT)
  • Kanjeng Radèn Mas Tumenggung (KRMT)
  • Radèn Mas Tumenggung (RMT)
  • Mas Tumenggung / Mas Adipati / Mas Anom Adipati
  • Kanjeng Mas Ayu Tumenggung
  • Mas Ayu Tumenggung
  • Nimas Ayu Tumenggung
  • Raden Ngabehi (RNg)
  • Radèn Ngantèn (RNgt)
  • Mas NgabĂ©i (MNg)
  • Mas Ayu

Sumber Pustaka :
  1. Anonim, Gelar bangsawan Jawa, Wikipedia, 2011






4 Okt 2011

Tips Mengendalikan Kutu Busuk atau Tinggi

Foto Mikroskopis (diperbesar 1600 x)
Kutu Busuk = Tinggi
Tulisan kali ini terinspirasi dari kejadian di rumah baru saya di bilangan Sangiang Tangerang, yang tidak diduga sebelumnya, spring-bed yang belum lama dipsang sudah penuh dengan kutu busuk. Anehnya, kutu tersebut sudah disemprot baygon, dimatikan setiap malam, tetapi jumlahnya malah semakin banyak. Yang mengerikan lagi, anak-anak kutu jumlahnya cukup banyak dan semakin merajalela sampai istri dan kedua anak saya meninggalkan springbed, tidurnya di ruangan di depan TV hingga 10 hari lebih, menunggu lenyapnya si kutu dari spring-bed. 

Bangsat atau kepinding atau kutu busuk disebut juga tinggi mempunyai nama latin Cimex lectularius. Kutu busuk adalah serangga parasit dari keluarga Cimicidae. Kalau kita menyebut kutu busuk, biasanya yang kita maksud adalah spesies yang meminum darah manusia dan hewan berdarah panas lainnya. Kutu busuk senang tinggal di rumah-rumah, khususnya yang dekat dengan tempat tidur. Kutu busuk bisa menggigit korbannya tanpa diketahui oleh korbannya. Serangga parasit ini bisa menimbulkan penyakit ruam-ruam, efek psikologis, dan gejala alergi.

Klasifikasi serangga ini adalah sbb :
Kerajaan:Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Famili : Cimcimidae (Latreille, 1802)
Genus : Afrocimex
Species : Cimex lectularius


Penelusuran Sifat Fisik Kutu Busuk
Kutu busuk atau istilah asingnya “Bed bugs” termasuk serangga hematophagous (pengisap darah). Sebagian besar spesies serupa memakan darah manusia atau binatang berdarah panas seperti ditemukan pada binatang ternak kerbau, anjing, kucing, dll. Kutu busuk tertarik terhadap mangsanya terutama yang mengandung karbon dioksida (CO2), suhu hangat dan sejenis bahan kimia tertentu.


Sejarah Kutu Busuk

Sebuah prasasti di Timur Tengah pada tahun 1860 telah ditemukan di gua-gua dan dihuni kelelawar tergambar bagian-bagian dari kutu busuk.


Kutu busuk juga sudah disebut-sebut pada zaman Yunani kuno pada 400 SM dan kemudian serangga ini juga telah disebut-sebut oleh Aristoteles. Sejarah Alam Pliny, pertama kali diterbitkan sekitar tahun 77 Masehi di Roma, mengklaim bahwa kutu busuk memiliki nilai penyembuhan sebagai obat dalam seperti gigitan ular dan infeksi telinga. (Kepercayaan bahwa kutu busuk dipercaya sebagai obat tidur bertahan sampai setidaknya abad ke-18, ketika Guettard direkomendasikan penggunaannya dalam pengobatan histeria). Kutu busuk pertama kali disebutkan di Jerman pada abad ke-11, di Perancis pada abad ke-13 dan di Inggris pada 1583, meskipun keberadaannya tetap langka di Inggris hingga 1670. Beberapa di abad ke-18 diyakini bahwa kutu busuk telah dibawa ke London melalui pasokan kayu untuk membangun kembali kota itu setelah Kebakaran Besar London (1666). Giovanni Antonio Scopoli mencatat kehadiran kutu busuk di Carniola (kira-kira setara untuk menyajikan-hari Slovenia) pada abad ke-18.

Pengendalian Kutu Busuk
Ada metode tradisional untuk mengendalikan atau membunuh kutu busuk termasuk penggunaan ekstrak tanaman, jamur, dan serangga, seperti penggunaan lada hitam, black cohosh (Actaea racemosa), Pseudarthria hookeri, Laggera alata (Cina yángmáo cǎo | 羊毛草), Minyak Eucalyptus saligna, daun pacar (Lawsonia inermis atau camphire), "minyak infus vulgaris Melolontha" (mungkin cockchafer), lalat agaric (Amanita muscaria), Actaea spp . (Misalnya black cohosh), tembakau, "minyak dipanaskan Terebinthina" (yaitu terpentin benar), liar mint (Mentha arvensis), berdaun sempit pepperwort (Lepidium ruderale), Myrica spp. (Misalnya bayberry), Robert geranium (Geranium robertianum), bugbane (Cimicifuga spp.), "Ramuan dan biji Cannabis", "opulus" berry (mungkin maple atau Eropa cranberrybush), pemburu bertopeng bug (Reduvius personatus), "dan banyak lain ".

Pada pertengahan abad ke-19, asap dari kebakaran gambut dianjurkan. Debu telah digunakan untuk menangkal serangga dari penyimpanan biji-bijian selama berabad-abad, termasuk "tanaman abu, kapur, dolomit, beberapa jenis tanah, dan tanah diatom (DE) atau kieselguhr". Dilihat kebangkitan sebagai beracun (bila dalam bentuk amorf) residu pestisida untuk pengurangan kutu busuk. Serangga yang terkena tanah diatom mungkin memakan waktu beberapa hari untuk akhirnya mati.
Keranjang-kerja panel yang diletakkan di sekitar tempat tidur dan terguncang keluar di pagi hari, di Inggris dan di Perancis pada abad ke-19. Hamburan daun tanaman dengan rambut bilamana dilihat secara mikroskopis di sekitar tempat tidur di malam hari, kemudian menyapu mereka di pagi hari dan membakar mereka, adalah teknik yang digunakan dilaporkan di selatan Rhodesia dan di Balkan.

Sebelum pertengahan abad kedua puluh, kutu busuk menjadi sangat umum diperbincangkan. Menurut sebuah laporan oleh Departemen Kesehatan Inggris, pada tahun 1933 ada banyak daerah di mana semua rumah memiliki beberapa tingkat hunian kutu busuk. Kutu busuk menjadi masalah serius selama Perang Dunia II. Jenderal MacArthur berkomentar bahwa kutu busuk adalah "masalah terbesar serangga pengganggu ... di pangkalan di AS"

Dengan kedatangan pestisida kuat, terkenal DDT dalam tahun 1940-an, kutu busuk hampir hilang di negara-negara Barat. Namun, tempat tidur menjadi hunian kutu dalam beberapa tahun terakhir dengan alasan yang tidak jelas, tapi faktor pendukung mungkin bisa terjadi dengan meningkatnya resistensi kutu busuk, larangan penggunaan pestisida dan meningkatnya perjalanan antar negara/internasional. Gelombang besar penularan kutu busuk di seluruh Amerika telah melahirkan sebuah industri untuk pencegahan kutu tsb, pemberantasan dan pelaporan penularannya.

Pemberantasan kutu busuk sering memerlukan kombinasi pendekatan pestisida dan non-pestisida. Pestisida yang secara historis telah ditemukan efektif meliputi:.. Piretroid, dichlorvos dan malathion. Perlawanan terhadap pestisida telah meningkat secara signifikan dari waktu ke waktu dan ada kekhawatiran efek negatif terhadap kesehatan dari penggunaan pestisida. Teknik pendekatan seperti menyedot serangga dan pengobatan panas atau membungkus kasur telah direkomendasikan..
Insektisida Para propoxur karbamat sangat beracun untuk kutu busuk, namun di Amerika Serikat Environmental Protection Agency (EPA) telah enggan untuk menyetujui seperti penggunaan indoor karena potensi toksisitas untuk anak-anak setelah paparan kronis.

Resistensi Pestisida
Kutu busuk secara alami mengembangkan resistensi terhadap pestisida DDT dan berbagai termasuk organofosfat. Beberapa populasi telah mengembangkan resistensi terhadap insektisida piretroid. Meskipun sekarang sering tidak efektif, resistensi terhadap piretroid memungkinkan untuk penggunaan bahan kimia baru yang bekerja dengan cara yang berbeda untuk diselidiki, sehingga manajemen kimia dapat terus menjadi salah satu bagian dalam menyelesaikan penularan kutu busuk. Meningkatnya minat di kedua piretroid sintetik dan insektisida pirol, chlorfenapyr. Pengatur pertumbuhan serangga, seperti hydroprene (Gentrol), juga kadang-kadang digunakan.

Populasi kutu busuk di Arkansas telah ditemukan sangat resisten terhadap DDT, dengan LD50 lebih dari 100.000 ppm. DDT terlihat membuat kutu busuk lebih aktif dalam penelitian yang dilakukan di Afrika.
Kutu busuk resistensi terhadap pestisida tampak meningkat secara dramatis. Sampel populasi kutu busuk di seluruh AS menunjukkan toleransi bagi ribuan piretroid beberapa kali lebih besar dari laboratorium tempat kutu busuk di New York City. Tempat kutu busuk telah ditemukan untuk menjadi 264 kali lebih tahan terhadap deltametrin dari tempat kutu busuk di Florida karena mutasi dan evolusi.
Sebuah studi genetika populasi kutu busuk di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia menggunakan penanda DNA mitokondria menemukan tingkat variasi genetik yang tinggi. Hal ini menunjukkan populasi kutu busuk yang dipelajari tidak mengalami hambatan genetik sebagai salah satu harapan dari insektisida kontrol selama tahun 1940-an dan 1950-an, tetapi sebaliknya, bahwa populasi mungkin telah dipertahankan pada tempat hidup kutu busuk lain seperti burung dan kelelawar. Variasi genetik berbeda dengan jumlah tinggi yang diamati dengan penanda DNA mitokondria, tidak ada variasi genetik dalam penanda RNA nuklir diamati. Hal ini menunjukkan peningkatan aliran gen dari populasi kutu busuk yang sebelumnya terisolasi dan mengingat tidak adanya hambatan aliran gen, penyebaran resistensi insektisida dapat cepat.

Musuh Alami Predator Kutu Busuk
Musuh alami dari bug tidur termasuk pemburu bertopeng (juga dikenal sebagai "pemburu kutu busuk bertopeng"), kecoa, semut, laba-laba (terutama Thanatus flavidus), tungau dan kelabang. (Monomorium pharaonis) racun semut Fir'aun adalah mematikan untuk kutu busuk. Pengendalian hama secara biologis sangat tidak praktis untuk menghilangkan kutu busuk dari tempat tinggal manusia.

Epidemiologi
Epidemiologi kutu busuk atau Bed bugs terjadi di lingkungan kita dengan tingkat penularan signifikan di negara maju, sementara menurun dari tahun 1930-an hingga 1980-an, telah meningkat secara dramatis sejak 1980-an.. Sebelumnya, kutu busuk berkembangbiak secara umum di negara berkembang, tetapi jarang di negara maju. Peningkatan di negara maju mungkin telah disebabkan oleh perjalanan internasional meningkat, resistensi terhadap insektisida, dan penggunaan yang baru metode pengendalian hama yang tidak mempengaruhi kutu busuk. Penurunan populasi kutu busuk setelah tahun 1930-an di negara maju diyakini sebagian karena penggunaan DDT untuk membunuh kecoa. Penemuan vacuum cleaner dan penyederhanaan desain furnitur mungkin juga memainkan Peranan penting. Yang lain percaya itu hanya mungkin sifat siklus organisme.

Kutu busuk (Cimex lectularius) adalah spesies dengan tingkat adaptasi terbaik di lingkungan manusia. Hal ini ditemukan di daerah beriklim sedang di seluruh dunia. Spesies lainnya termasuk Cimex hemipterus, ditemukan di daerah tropis, yang juga burung dan unggas dan kelelawar, dan Leptocimex boueti, ditemukan di daerah tropis Afrika Barat dan Selatan Amerika, yang infests kelelawar dan manusia. Cimex pilosellus dan Cimex pipistrella terutama merundung kelelawar, sementara Haematosiphon inodora, spesies Amerika Utara, terutama burung dan unggas.

Berikut beberapa tips sederhana untuk membasmi kutu busuk :
  • Jemurlah kasur atau tempat tidur maupun perabotan rumah tangga yang sering dijadikan tempat persembunyian kutu busuk atau bangsat, anda dapat menjemur dibawah terik matahari sekitar 5 jam.
  • Jika anda berada di pedesaan, gunakanlah bunga pandan atau "pudak" yang diaplikasikan dengan cara pudak ditaruh di tempat dimana kutu busuk bersarang, dibawah kasur dan bantal. Bunga pudak baunya wangi menyengat dan bau wangi tersebut akan membunuh serangga seperti kutu busuk dan kecoa.
  • Taruhlah kulit durian atau daun mindi (nimba atau neem) kering di bawah tempat bersarangnya serangga penghisap darah tersebut. Atau dapat juga dengan menggunakan buah asam segar yang telah dikupas kulitnya dan diletakan di tempat kutu busuk bersarang.
  • Campuran minyak tanah dan kapur barus juga dipercaya ampuh untuk mengatasi kutu busuk atau bangsat ini.
  • Menggunakan lilin, dengan cara meneteskan di celah-celah tempat kutu busuk atau bangsat berada, jumlah tetesan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, tetesan lilin ini dimaksudkan untuk mematikan telur-telur dan anak-anaknya.
  • Pergunakan air panas untuk menyiram tempat persembunyianya, karena kutu busuk atau bangsat sangat rentan terhadap kelembaban yang tinggi dan juga suhu 44-45 derajat celcius.
  • Gunakan insektisida khususnya obat untuk membasmi rayap. Obat ini sangat efektif untuk membunuh rayap termasuk kutu busuk, hanya saja harus hati-hati karena sifat racunnya (toxisitas) sangat keras. Anda bisa menggunakan produksi "Buyer" yang diaplikasikan dengan cara fumigasi.  Ikuti aturan yang tertera pada label. Biasanya insektisida hanya membunuh kutu busuk stadium nimfa dan dewasa, sedangkan telurnya cukup tahan. Oleh karena itu, lakukan penyemprotan sampai telur menetas.
  • Jangan memindahkan barang apapun dari kamar tanpa dilakukan sterilisasi terlebih dahulu,bila hal ini dilakukan penyebaran kutu busuk ke tempat lain/kamar akan amat mudah terjadi.
  • Kutu busuk atau bangsat dapat ditemukan di semua ruangan tempat tinggal, maka sebaiknya anda periksa tempat-tempat yang mempunyai kemungkinan untuk bersarangnya serangga tersebut. 
Demikian sekilas tips membasmi kutu busuk, semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Daftar Pustaka :

  1. ^ Goddard J, deShazo R (April 2009). "Bed bugs (Cimex lectularius) and clinical consequences of their bites". JAMA 301 (13): 1358–66. doi:10.1001/jama.2009.405. PMID 19336711.
  2. Reinhardt, Klaus; Siva-Jothy, Michael T. (Jan 2007). "Biology of the Bed Bugs (Cimicidae)". Annual Review of Entomology 52: 351–374.

1 Okt 2011

Penanggalan Jawa

Budaya Jawa: Penanggalan Jawa: Penanggalan Jawa Sistim Penanggalan Jawa Sistim Penanggalan Jawa lebih lengkap dan komprehensif apabila dibandingkan dengan sistim penang...

13 Sep 2011

Paromosastro = Tata Bahasa = Grammar




Para sutersna Basa Jawi, kepareng matur mbok menawi sutersna sedaya wa bil khusus ingkang ngancik yuswa sepuh lan pilenggahe ana ing sak njaban bebrayan masyarakat Jawi, mbak menawa isih pada kelingan piwulange Ibu/Bapak Guru rikala duk inguni.

Tulisan iki kaserat saka situs Buku Piwulang Basa Jawi lan situs-situs kang magepokan ing babagan piwulang basa Jawi sarto pangeling-eling duk nalika semana aku antuk piwulang Basa Jawa nalika ing pasinaon SMP Negeri Blabak udakara tahun 1972 -1974, yaiku saka Ibu Guruku ingkang asma Ibu Dra. Marfuah (almh). Kaleresan bejo-bejaning awak, aku tansah antuk angka 9 - 10 ana ing saben ulangan piwulang Basa Jawi. Sumonggo disimak paramasastro utawa Tata Bahasa (grammer) kasebut ing ngisor iki.




A. Tembung (Kata)
Tembung (kata) : Kumpulane wanda (sukukata) kang duweni teges. Tembung kang mung sakwanda diarani Tembung Wod (akar kata).


Jinise tembung
Tembung lingga (Kata dasar) : Tembung kang durung uwah soko asale

Tembung andhahan (Kata jadian) : Tembung kang wis owah saka asale kanthi diwenehi Ater-ater (Awalan), Seselan (Sisipan) utawa Panambang (Akhiran).


Ater-ater (prefik)
  • Ater ater Hanuswara (m, n, ny, ng), ngemu teges nindakake pagawean, tuladha :
m [m+bathik=mbathik]
n
[n+tulis=nulis]
ng
[ng+kethok=ngethok]
ny [ny+cuwil=nyuwil]



  • Ater-ater Tripurasa, yaiku awalan kang nuduhake bakal ditindakake, tuladha :

dak [dak+pangan=dakpangan]
ko
[ko+jupuk=kojupuk]
di [di+goreng=digoreng]

Catetan :
Ater-ater “dak” diucapake mawarna-warna dening masyarakat saka salah sawijining daerah lan daerah liyane, tuladha : dak tetep diucapake dak kanggone masyarakat Banyumasan ananging wiwit daerah Purworejo mangetan tumeka Jawa Timur, dak diucapake “tak”, tuladha : tak jaluk, tak openi, lsp.

  • Bawa Kuma, kami, kapi yaiku ater-ater liyane kang nuduhake kapilara (pelengkap penderita) tumraping tembung, tuladha :
kuma [kuma+wani=kumawani]
kami
[kami+tuwa=kamituwa, kamitenggengen]
kapi [kapi+temen=kapitemen]


  • Ater-ater liyane kang ora gumathok, warno-warno tegese, tuladha :

a [a+lungguh=alungguh]
ma
[ma+lumpat=malumpat]
ka
[ka+gawa=kagawa]
ke
[ke+sandhung=kesandhung]
sa
[sa+gegem=sagegem]
pa
[pa+lilah=palilah]
pi
[pi+tutur=pitutur]
pra
[pra+tandha=pratandha]
tar [tar+buka=tarbuka]

Catetan :
  • Ater-ater a asale saka “Ha” huruf Jawa. Mula saka iku, ana ing Tanah Jawa sisih kulon (Pasundan), akeh tembung kang migunaake ater-ater Ha, tuladha : andap dadi handap, arep dadi harep, lsp.

  • Seselan (insersi)
um [..um..+guyu=gumuyu]
in
[..in..+carita=cinarita]
el
[..el..+siwer=seliwer]
er [..er..+canthel=cranthel]

Catetan :
Seselan insersi “er utawa ra” ngemu teges akeh “multi” ana ing Tanah Pasundan dianggo ana ing saperangan tembung, tuladha : ..ra.. tembung aran [tahu = tarahu]; ..ra.. tembung kriya [bade = barade], lsp.

  • Panambang (akhiran utawa affix)
i [kandha+i=kandhani]
ake [jupuk+ake=jupukake]
ne
[teka+ne=tekane]
e
[omah+e=omahe]
ane
[jaluk+ane=jalukane]
ke
[kethok+ke=kethokke]
a
[dudut+a=duduta]
na
[gawa+na=gawakna]
ana
[weneh+ana=wenehana]
en
[lepeh+en=lepehen]
ku
[buku+ku=bukuku]
mu
[klambi+mu=klambimu]
e [omah+e=omahe]


Jinising Tembung

  1. Tembung aran (Kata benda) : Tembung kang nuduhake arane barang, tuladha : Omah, dalan, lsp

  1. Tembung kriya (kata kerja) : Tembung kang nuduhake pakaryan, tuladha : adus, mlaku, mangan, lsp

  1. Tembung wilangan (Kata bilangan) : Tembung kang nuduhake cacahing tembung aran, tuladha : Siji, sprapat, sepisan, lsp.

  1. Tembung kaanan (kata sifat) : Tembung kang nuduhake kaanan lan watak kang manggon ing sakmburine tembung aran, tuladha : Gedhe, sregep, abang, lsp.

  1. Tembung katrangan (kata keterangan) : Tembung kang nerangake sak liyanetembung aran, tuladha : Angler, cepet, rindhik, lsp.

  1. Tembung tetenger (kata sandang) : Tembung kang nyandhangi tembung aran, tuladha : Si, sang, lsp.

  1. Tembung ancer-ancer (kata depan) : Tembung kanggo nggandeng tembung ing sajroning ukara, tuladha : Lan, ing, awit, lsp.

Catetan :
Tembung sing rinaket mungguhe ancer-ancer, amung tinemu ana saperangan daerah Magelang lan sakiwo-tengene, yaiku tembung “ndak”, ngemu teges “apa bener” utawa “genea utawa ya gene”, tulodho : ndak ngene, ndak bener, lsp.

  1. Tembung panyambung (kata sambung) : Tembung kang wigatine kanggo nyambung ukara, tuladha : Dene, nanging, lsp.

  1. Tembung sesulih (kata ganti) : Tembung kang wigatine kanggo nyulihi jenenge barang utawa manungsa, tuladha : Aku, iki, apa, lsp.

  1. Tembung pangguwuh (kata seru) : Tembung kang nuduhake pangudarasa, tuladha : Adhuh, oh, edan tenan, lsp.


Ayahane tembung (jabatan kata)

Jejer (Subyek).
Wasesa (Predikat).
Lesan (Obyek).
Katrangan (Keterangan).

Kaidah :
(Subyek + Predikat + Obyek + Keterangan = SPOK) dadi (Jejer + Wasesa + Lesan + Katrangan = JWLK).



1.    Tembung Tanduk (aktif)
Tanduk kriya wantah :
Tembung sing diwenehi ater ater hanuswara tanpa panampang
[maju (m+aju)]

Tanduk i kriya :
Tembung sing diwenehi ater ater hanuswara lan panambang i
[nyirami(ny+siram+i)]

Tanduk ke kriya :
Tembung sing diwenehi ater ater hanuswara lan panambang ke utawa ake
[nyelehake(ny+seleh+ake)]


2.    Tembung Tanggap (Pasif)
Tanggap tripurusa :
Tembung sing diwenehi ater ater tripurusa lan panambang i utawa ke
[Dikandhani(di+kandha+i)]

Tanggap na :
Tembung sing wenehi seselan in
[Tinuku(tuku+in)]

Tanggap tarung :
Tembung dwilingga diwenehi seselan in
[Gebuk ginebug(gebug gebug+in)]

Tanggap ka :
Tembung sing diwenehi ater ater ka
[kathuthuk(ka+thuthuk)]

3.    Tembung Rangkep
Tembung rangkep yaiku sekabehing tembung sing diwaca kaping pindho, bias sakabehing tembung utawa mung sawandane bae.
Tembung rangkep ana telung werna, yaiku:
a.     Tembung Dwilingga, yaiku tembung sing diwaca kaping pindho kabeh linggane.
1)     Dwilingga padha swara
Tuladha:      bapak-bapak; bocah-bocah; Guru-guru
2)     Dwilingga salin swara
Thuladha:    bola-bali; mrana-mrene; wira-wiri
3)     Dwilingga semu
Thuladha:      ondhe-ondhe; Undur-undur; Andheng-andheng
b.     Tembung Dwipurwa, yaiku tembung sing diwaca kaping pindho mung wanda sing bagean ngarep
Thuladha:      laku-> lelaku; Jupuk-> jejupuk; Tuku-> tetuku
c.      Tembung dwiwasana, yaiku tembung-tembung sing diwaca kaping pindho mung wanda sing mburi.
Thuladha:      cekak-> cekakak; Cekik-> cekikik; Cenges-> cengenges           


4.    Tembung Camboran (Kata majemuk)
Tembung loro utawa luwih sing dirangkep dadi siji.
Camboran wutuh :Tembung loro dirangkep tanpa ngurangi wandane.
 Tembung saroja[Sanak kadang].
»
Yogaswara.[Dewa dewi].
»
Baliswara.[Mahabarata].

Camboran tugel :
»Tembung garba.
[Yaiku (iya+iku)].
»
Keretabasa.
[Wedang (ngawe+kadang)].

Camboran tunggal :Tembung loro dirangkep dadi siji tur ora kena dipisahake amarga duwe teges anyar.
[Sakaguru].
Camboran wudhar :Tembung loro dirangkep dadi siji nanging ijen ijene tembung isih duwe teges dhewe dhewe.
[Gedhe cilik].



B. Ukara  (Kalimat)
 
Ukara yaiku tembung sing rinonce miturut pranata basa kang maton.

Jinising ukara:

  • Ukara lamba :Ukara kang anduweni jejer lan wasesa.
    [Bapak sare(jejer+wasesa)].
    [Aku mangan tela(jejer+wasesa+lesan)].

  • Ukara elip :Ukara kang tanpa jejer utawa wasesa.
    [Klambiku anyar(jejer+katrangan)].
    [Nulisa!(wasesa)].

  • Ukara rangkepDiarani uga ukara rowa :
    Ukara lamba sing dirangkep loro.
    [Ibu lagi masak,bapak ngunjuk kopi].
    [Nalika bapak tindak,ibu tunggu omah].

  • Ukara crita (Kalimat tak langsung) :Ukara kang nuduhake kedadean kang dirasa,diweruhi,dirungu utawa pitutur.
    [Gula iku legi] Ukara kandha (kalimat langsung).
    Ukara crita bisa arupa :
a. Ukara pitakon (Kalimat tanya) :
Ukara kang kang kanggo ngudhar barang kang durung dingerteni.
[Jenengmu sapa?].

b.Ukara pakon (Kalimat perintah) :
Ukara kang kanggo murih wong liya nindakake pakaryan sing karepake.
[Adusa disik!]

c.Ukara pangajak (Kalimat himbauan) :
Ukara kanggo murih bebarengan nindakake pakaryan sing dikarepake.
[Becike perkara iki dirembug].

d.Ukara panjaluk (Kalimat permohonan) :
Ukara pakon kang ditembungake kanthi alus.
[Kulo aturi ngrantos sakuntawis].

e. Ukara pangupama :
Ukara kanggo ngudarasa lelakon kang wus kebacut.
[Umpama awakmu mampir,tak wenehi oleh oleh].

 f. Ukara pengarep-arep :
Ukara panjaluk kang kawiwitan tembung sepadhane muga muga.
[Muga muga basa jawa tetep lestari].
g. Ukara janji :
Ukara kang mengku pangebang-ebang.
[Sing sapa sregep ngibadah, bakal nemu begja]







C. Ilmu Ukara / Kalimat (Sintaksis)

Sawenehing winasis mratelaake menawa ilmu kalimat (sintaksis) yaiku organisasi samubarang unsur basa kang saben-sabene arupa wujud sing ngemu teges/bermakna ( Harimurti Kridalaksana, 2001: 203). Struktur sintaksis dumunung saka bentuk, fungsi, kategori, lan peran (Sudaryanto 1983: 13-14).


1. Wujuding Ukara / Kalimat

Wijud utawa bentuk kalimat yaiku pangejawantah / penampakan satuan basa utawa rupa/wujud saweneheing satuan paramasastro/gramatikal. Wujuding kaimat/bentuk dibedaake dadi 5 (limang) perkara yaitu: (1) bentuk asal, (2) bentuk dasar, (3) bentuk tembung, (4) bentuk bebas, lan (5) bentuk terikat (Harimurti Kridalaksana, 2001: 28-29). Ana ing bahasan ini bentuk sing disinaoni cara morfologis sawenehing tembung sing awujud polimorfemis. Disebut polimorfemis yen dalem sawenehing tembung ngemu luwih saka sak tembung / kata. Polimorfemis asale saka tembung polys ’banyak’ (Verhaar, 1992: 54). Verba polimorfemis dibentuk menganggo pirang-pirang proses morfemis, yaiku: (1) proses afiksasi kang ngasilake verba berafiks/awalan, (2) proses makaping/pengulangan ngasilake verba ulang, (3) proses pemajemukan ngasilake verba majemuk, dan (4) proses kombinasi ngaasilake verba kombinasi.
Mungguh bentuk dasar verba polimorfemis bisa arupa bentuk tunggal, ya bentuk bebas, ya bentuk terikat, lan bentuk kompleks. Sing arupa bentuk bebeas bisa digolongake verba, adjektiva, wilangan/nomina, utawa numeralia (Wedhawati dkk, 2006: 107).

2. Fungsi Ukara
Fungsi yaiku gandeng-cenenge antarane unsur-unsur basa sing bisa diwaspadaake saka cara carane anggone njlentrehake ing sawijining kalimat (Harimurti Kridalaksana, 2001: 62). Munggguh fungsi iku sifate gegandengan/relasional. Mungguhing fungsi salah sawinjining tembung ora bisa dingen-ngen tanpa digandengake karo fungsi liyane.
Kita bisa nyebutake salah sawijining fungsi iku P, tuladha mung ana ing gandengane S utawa O semono uga suwalike. Bagean fungsi dumunung saka Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap lan Katerangan. Ana ing basa Jawa subjek disebut Jejer, predikat disebut Wasesa, objek disebut Lesan pelengkap disebut geganep, dan keterangan disebut penerang (Wedhawati dikk, 2006: 49).

Subjek/jejer yaiku bagean saka klausa awujud nomina utawa frase nomina sing mratelaake apa kang kasebut dening pawicara. Tuladha, Ranti nyilih buku ’Ranti meminjam buku”. Tembung Ranti ing sajroning kalimat, Ranti fungsine subjek/jejer.
  1. Predikat/wasesa yaiku bagean klausa sing mratelaake apa sing disebut pawicara sahroning wasesa, tuladha : Ranti nyilih buku ’Ranti meminjam buku’. Tembung nyilih ’meminjam’ kasebut ngenggoni fungsi predikat/wasesa.
  2. Objek/lesan yaiku nomina utawa kelompok nomina sing nglengkapi verba-verba tertamtu ing sajroning klausa. Tulodho: Ani nyilih buku. Tembung ”buku” ing sajroning kalimat ngenggoni fungsi objek/lesan. Lesan, secara semantis yaiku konstituen/penderek akibat dituding solah bawaning wasesa kang dinyataake deining predikat/wasesa. Mungguhing objek/lesan dumunung ana ing kalimat aktif mawa wasesa verba transitif, ya tunggal transitif lan dwi transitif. Tuladha :
  • Konstituen/penderek pengisi objek/lesan, yaiku objek/lesan salah sawhijining kalimat arupa nomina utawa frase nominal.
  • Pelengkap/geganep yaiku bagean kalimat sing migunani tumraping predikat/wasesa.
  • Keterangan/panerang yaiku tembung utawa kelompok tembung sing dianggo ngelengkapi utawa mbatesi makna subjek/jejer utawa predikat/wasesa iang sahroning klausa.

Wasono cekap semanten atur kawula, kirang langkungipun muwun gunging samodra pangaksami. Sumonggo dipun simak, kawula suwun para pamirsa kersa paring pepenget amrih mbudidaya kasampurnanipun serat Blog punika.

 
Sumber Pustaka :

  1. www.http://sutresnojawi.com
  2. http ://sepuh.blogspot.com
  3. Harimurti Kridalaksana, 2001, Skripsi Ilmu Kalimat (Sintaksis), Yogyakarta.