27 Mei 2011

"Vegetarian" Kenapa Tidak...

Sayur-mayur Pilihan Vegetarian 

Salah satu tujuan hidup secara lahiriah adalah untuk mencari kesejahteraan.Setelah kita mencapai tujuan hidup, maka tujuan selanjutnya adalah memelihara kesejahteraan syukur-syukur mencapai umur yang lebih lama. Secara awam, kesejahteraan identik dengan terpenuhinya kebutuhan fisik termasuk makan. Tentunya makan makanan yang bergizi dan secara umum bahan makanan bergizi identik dengan kolesterol tinggi yang menjadi biang kerok badan menjadi menggelembung.
Alternatif upaya mengurangi penggelembungan badan adalah dengan pola makan non daging dan lemak (LDL) atau disebut "vegetarian".


Nabatiwan atau vegetarian adalah sebutan bagi orang yang hanya makan tumbuh-tumbuhan dan, tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari makhluk hidup seperti daging dan unggas, namun masih mungkin mengonsumsi makanan laut seperti ikan, atau produk olahan hewan seperti telur, keju, atau susu.
Istilah 'vegetarian' diciptakan pada tahun 1847. Pertama kali digunakan secara formal pada tanggal 30 September tahun itu oleh Joseph Brotherton dan lain-lain, di Northwood Villa, Kent, Inggris. Saat itu adalah pertemuan pengukuhan dari Vegetarian Society Inggris.
Kata ini berasal dari bahasa Latin vegetus, yang berarti keseluruhan, sehat, segar, hidup; (jangan dihubungkan dengan 'vegetable-arian' - mitos manusia yang diimajinasikan hidup seluruhnya dari sayur-sayuran tetapi tanpa kacang, buah, biji-bijian, dan sebagainya)
Sebelum tahun 1847, mereka yang tidak makan daging secara umum dikenal sebagai 'Pythagorean' atau mengikuti 'Sistem Pythagorean', sesuai dengan Pythagoras 'vegetarian' dari Yunani kuno.


Definisi asli dari 'vegetarian' adalah dengan atau tanpa telur dan hasil ternak perah, dan definisi ini masih digunakan oleh Vegetarian Society hingga sekarang. Bagaimanapun juga, kebanyakan nabatiwan di India tidak memasukkan telur ke dalam diet mereka, seperti juga mereka dari tanah Mediterania klasik, sebagai contoh Pythagoras.
Di Indonesia secara tradisional suku bangsa Jawa tidak terlalu banyak mengonsumsi daging dan gemar mengonsumsi tahu dan tempe dalam menu mereka sehingga dapat dikatakan menjalankan diet semi vegetarian.

Kendati sudah menjauhi daging, biasanya para vegetarian tetap mengkonsumsi makanan yang sebetulnya merupakan sumber protein lemak yang cukup tinggi, seperti keju dan selai kacang. Akibatnya tubuh para vegetarian tersebut tetap saja ‘menggelembung’ alias gemuk.

ALmond, sumber protein nabati
Berikut ini ada beberapa trik solusi dan saran khusus bagi Anda, para vegetarian:
  1. Pilihlah sumber protein yang baik, seperti kacang-kacangan, polong-polongan, tahu, tempe. Ikan dan telur boleh juga menjadi pilihan jika Anda masih bertoleransi untuk mengkonsumsinya.
  2. Jika tidak mengkonsumsi segala makanan atau minuman berbahan dasar susu, maka Anda bisa menggantikan kedudukan susu, keju dan yoghurt dengan produk-produk kedelai. Pastikan produk-produk tersebut mengandung kalsium, vitamin D, serta riboflavin yang cukup sehingga memberikan kontribusi optimal bagi kesehatan.
  3. Sekali lagi hati-hati dengan makanan-makan yang tinggi kandungan lemaknya, seperti keju, mentega, salad dressing, serta segala makanan yang digoreng.
  4. Untuk mengatasi rasa lapar yang berlebihan, pilihlah makanan yang berbahan dasar gandum, padi-padian, dan tepung terigu.
  5. Minumlah air dengan cukup.
  6. Jangan lupa untuk selalu mencatat apa saja yang telah dimakan dan diminum. Dengan begitu Anda bisa mengetahui seberapa banyak konsumsi makanan yang masuk. Juga mengetahui perubahan apa yang perlu dilakukan.
  7. Ada baiknya Anda melakukan perencanaan menu makanan, bahkan juga camilan untuk hari berikutnya. Cara ini bisa membantu memastikan makanan apa yang rencananya akan dikonsumsi.
  8. 
    Kedelai dalam berbagai bentuk makanan
    
  9. Hindari camilan yang berbau goreng-gorengan, seperti keripik, crackers, dan makanan yang manis-manis. Pasalnya, makanan tersebut bukan saja akan menambah jumlah kalori yang sebenarnya tidak dibutuhkan, tapi juga tidak memberikan bonus nutrisi sama sekali.
  10. Jangan lupa untuk berolahraga. Jalan, jogging, ataupun lari bisa menjadi olahraga pilihan bermanfaat.


Sumber Protein Nabati


Salad, sayuran kaya serat

Berikut beberapa pilihan makanan berprotein bagi vegetarian.

1. Yoghurt organik plain

Yoghurt polos atau rasa plain dan tambahkan beberapa buah-buahan dan kacang-kacangan untuk menambah kelezatannya. Yoghurt merupakan sumber protein yang baik. Probiotik dalam yoghurt juga baik untuk tubuh.

2. Tempe

Tempe adalah produk fermentasi kedelai yang kaya akan isoflavon yang sangat baik untuk jantung. Rasanya pun lezat.

3. Almond

Kebanyakan kacang dan selai kacang adalah pilihan protein yang baik, tetapi almon merupakan yang paling sehat dari semua jenis kacang yang ada. Bila Anda memang ingin menambah asupan protein, konsumsilah kacang almon.

4. Kacang

Kacang-kacangan seperti kacang tanah adalah sumber protein yang baik meskipun mereka juga mengandung banyak pati. Bonusnya, kacang juga mengandung banyak serat yang baik untuk pencernaan Anda.

5. Telur
Jika Anda adalah seorang vegetarian yang bersedia memakan telur, jadikanlah telur sebagai bagian rutin dari menu Anda. Ada banyak cara memasak telur yang tentunya menggugah selera. Terlebih telur adalah sumber protein nomor satu.

Belajar Menjadi Vegetarian
Tiga langkah mudah memulai vegetarian.
Pertama, pilihlah waktu setengah hari, pilihan waktu termudah setiap harinya.

Kedua, pilihlah tiga jenis daging hewan yang paling disukai untuk tidak dimakan pada waktu tersebut.
 
Langkah ketiga, jika langkah kedua dapat berjalan dapat ditempuh menjadi vegetarian 24 jam penuh.

Jika langkah ketiga telah berhasil, dicoba selama tiga bulan bisa dipastikan anda akan sukses menjadi vegetarian seterusnya.

Buat para vegetarian tidak dilarang mengkonsumsi suplemen multivitamin-mineral setiap harinya. Karena suplemen-suplemen tersebut akan mengganti kurangnya nutrisi yang sering menjadi satu permasalahan tersendiri bagi para vegetarian.
Mudah-mudahan trik di atas tersebut bukan saja membuat Anda  para vegetarian berhasil menurunkan berat badan, bertambah sehat dan juga bugar serta awet muda.

Referensi :
1. Anonim, Vegerarian, Ensiklopedi Bebas, 2010 
2. Panduan Trik Mengurangi Kegemukan http://ivillage.com , 2010
3. Prita Daneswari, Mei 2011, Sumber Protein untuk Vegetarian, Media Indonesia 

23 Mei 2011

Desa Mawa Cara Negara Mawa Tata

Pepatah Jawa "Desa mawa cara negara mawa tata" dalam Bahasa Indonesia adalah "lain padang lain belalang lain lubuk lain ikannya", yang berarti masing-masing lokasi dan komunitas memiliki aturan sendiri-sendiri. Demikianlah peribahasa yang tumbuh di dalam setiap komunitas di Nusantara ini. Beraneka ragam adat dan budaya membuat negeri ini seperti mozaik yang indah dan menghiasi setiap sudut kampung atau kawasan yang dihuni oleh sekelompok warga atau komunitas.

Bertamu, Meja Penuh Makanan (Swg 2009)
Kasus yang akan saya angkat dalam tulisan ini adalah tentang tatacara bertamu dan implikasinya terhadap keakraban dalam bermasyarakat, berbisnis sampai pada nepotisme dalam dunia birokrasi di lembaga usaha swasta ataupun dalam Pemerintahan.

Di Tanah Jawa khususnya di daerah pegunungan sekitar Merapi dan Merbabu, katakanlah wilayah Kec. Sawangan bagian pegunungan, Kec. Dukun bagian pegunungan jika kita lewat di muka rumah seseorang, maka jangan kaget walaupun sebelumnya kita tidak kenal, warga setempat yang kita lewati pastilah dia teriak dengan lantanag meminta kita singgah "mampir". "Pinarak mas......, tindak pundi..?" yang artinya "singgah mas, mau kemana?" warga menganggap hal tsb wajar dan harus dilaksanakan. Jika ternyata benar-benar kita singgah, maka dengan spontan mereka menawarkan sesuatu, apakah minum, makanan kecil bahkan makan.
Jangan heran, kalau peristiwa pertama kali kita singgah kemudian kita ditawari sesuatu dan kita menolak, maka selamanya tidak akan ditawari lagi. Namun, jika kita ditawari sesuatu kita makan, maka sewaktu-waktu kita singgah harus kita makan. Tidak jarang terjadi, seseorang karena keramahannya, biarpun ke rumah seseorang dalam rangka berdagang atau tujuan lain, maka dia harus makan sampai kekenyangan.

Suatu hal yang diluar kelaziman, jika seseorang sudah makan di beberapa tempat, diminta harus makan juga di tempat yang lainnya. Tetapi itulah adat kebiasaan suatu komunitas dalam "menempatkan tamu sebagai bagian dari dirinya". Dan pantang bagi seseorang jika sudah disuguhi sesuatu, justru kita tolak. Entah kebetulan atau tidak, maka setelah itu pasti ada kejadian yang membuat kerugian bagi yang bersangkutan. 

Makan Sederhana, Penuh Makna
Adat kebiasaan tsb diatas juga terjadi kemiripannya di Tanah Bugis (Enrekang, Shoppeng, Sidrap, dll, Sulawesi Selatan). Disana, tamu adalah berkah bagi yang punya rumah. Siapapun yang bertamu di rumah seseorang, dipastikan kita mendapat sambutan yang hangat. Pemilik rumah pun bergegas memasak apa yang ada di dapur dan kita diminta untuk makan. Jika sudah disuguhi makan, maka harus dimakan, minimal dicicipi. Suatu hal dianggap "pamali" atau tabu jika makanan atau minuman yang sudah disajikan tidak kita sentuh sekalipun dan suatu hal keanehan kecelakaan bisa terjadi dalam perjalanan pulang. 

Kemiripan adat kebiasaan tsb diatas juga terjadi di masyarakat Melayu dan Dayak di Kab. Sintang, Prov. Kalbar (yang aku kenal) dalam menerima tamu.

Dalam adab bertamu secara Islam, bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR.Bukhari). Adab bagi tamu yang  yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang diundang maka datangilah!”

Implikasi Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berusaha dan Bernegara 
Kasus tersebut yang pertama diatas, jika perasaan kekeluargaan sudah terpaut sedemikian rupa, maka urusan perdagangan hasil bumi pun akan terikat secara emosional. Maksudnya, jika seseorang seharusnya bisa menjual barang hasil bumi kepada pedagang lain (A) dengan harga yang lebih tinggi, oleh karena sudah terikat ikatan emosionalnya dengan pedagang (B) maka barang akan dijual kepada pedagang (B). Begitu seterusnya, sampai kepada persoalan hubungan kekeluargaan pun seseorang akan merasa sebagai satu kesatuan yang harus dihargai dan dibela mati-matian manakala seseorang yang dianggap sebagai "kemenakan" merasa diganggu oleh kepentingan lain. 

Bahkan, dalam dunia kelembagaan swasta ataupun birokrasi pemerintahan, tidak jarang kita jumpai bahwa karir seseorang melejit karena dibawa oleh Pejabat Seniornya yang masih atau dianggap sebagai "kemenakan". Orang lain walaupun dari sisi kemampuan dan prestasinya kalah dengan "Klik" sistem kemenakan tidak mendapatkan posisi yang diinginkan karena bukan kemenakan. 
Suatu hal yang tidak diinginkan oleh semua fihak adalah jika hal tersebut sudah berdampak "eksesive" negatif misalnya  jika suatu hubungan khusus sudah menyerempet kepada urusan finansial. Dampak yang lebih serius dari sistem kemenakan adalah terjadi Nepotik bahkan Korupsi yang merugikan suatu usaha atau keuangan negara oleh karena adanya klik berakibat terjadi korupsi yang disengaja dilakukan dan sebelumnya sudah disepekati bersama untuk kepentingan bersama "berjamaah". 

Sumber referensi :
1. Pengalaman pribadi
2. Admin Radiodagu, http://radiodagu.com/, Adab Bertamu, Mei 2011

21 Mei 2011

Ritual Kejawen Wiyosipun Jabang Bayi

Para kinurmat sutresno adat kejawen, kepareng kawula ngudarasa ingkang magepokan wiyosipun jabang bayi. Wiyosan punika wonten gandeng cenengipun dumateng kulowargo kawula piyambak, ingkang sunyatanipun wonten ing kulowarga kawula wonten 4 tiyang cacahipun ingkang wiyosipun sami kanthi petangan pasaran jawi (Selasa Pon) inggih punika (1) Bapak kawula, (2) kawula piyambak, (3) adhi kawula Budi Pranoto lan (4) putra kawula (Damar).



Sajen Tingkeban


Menawi miderek adat Jawi, bapa kaliyan putra ugi wayah ingkang anggadhahi sami wiyosipun ing dinten pasaran dipun wastani “sengkala” ingkang kedahipun dipun ruwat kagem mbucal sukerto. Punapa inggih saestu menawi mboten dipun bucal sukerto dados pangalang-alangipun agesang? Menawi dipun nalar ritual kejawen kasebat ing nginggil kok mboten wonten gandheng-cenengipun kaliyan kasunyatan gesang wonten ing dunya wekdal punika.


Ritual adat bayi-an utawi “bayen” ngandhut angkah luhur nyadhong kanugrahan saking ngarsanipun Gusti Ingkang Akarya Jagad (Allah SWT) nalika jabang bayi taksih kawiwitan wonten kandhutan (7 wulan) ingkang nami tingkeban, nembe dipun lairaken ngantos bayi yuswa 7 wulan.


Ringkesipun, ritual adat kaperang dados tiga :
  1. tingkeban utawi mitoni utawi umur janin antawis 7 (pitung) wulan;
  2. nyambut wiyosipun jabang bayi, babaran utawi lairan;
  3. wilujengan bayi 7 (pitung) wulan.


A. Nalika Jabang Bayi Ing Jero Kandhutan
1) Upacara Tingkeban (Mitoni)
Siraman Tingkeban
Upacara tingkeban utawi mitoni punika katindakaken nalika calon ibu ngandhut putra pambarep yuswa pitung wulan. Wonten pinten-pinten perangan tatanan upacara tingkeban utawi mitoni ingkang dipun yakini dados sarana tolak balak utawi sarana kangge nyuwun pangayoman wonten ngarsanipun Gusti Ingkang Maha Kuwaos. Tatanan upacara tingkepan punika saged kaperang dados wolu: (a) adat blosot endhog/tigan, (b) adat medhot benang lawe, (c) adat nyebar beras kuning, (d) adat busana tingkepan, (e) adat cengkir gadhing, (f) adat pupus pisang, (g) adat siraman, saha (h) prosesi adat tingkepan.

(a) Adat Blosot Endhog/tigan
Blosot endhog/tigan punika teges­ipun pranatan nglebetaken endhog/tigan ayam wonten rasukanipun/kemben calon ibu wiwit saking dhadha ngantos dhawah saha pecah wonten bantala, kanthi donga makaten “Minongko jabang bayi sing dikandhung niat ingsun mblosokaken endhog prosat prusut slamet anggenipun nglairaken jabang bayi.”

(b) Adat Medhot Benang Lawe
Pranatan: benang lawe minangka sabuk (ikat pinggang) saha tigan ayam kalih dipun pangku dening calon ibu. Sakla­jeng­ipun benang lawe  dipun pedhot dening calon bapak ngan­tos salah setunggaling endhog/tigan pecah. Menika ngandhut pralambang supados jabang bayi  saged lair lancar lan gampil kados pecahipun tigan. Tigan ingkang mboten dhawah/pecah dipun paringaken calon ibu supados dipun dhahar kuningipun  (kuning telur) kangge kekiyatan saha kasantosan raga. Saksampunipun dhahar kuning endhog, calon ibu kedah ngunjuk jamu ramuan supados  payu­da­ra­nipun saged subur kebak toya susu kangge calon bayi.

(c) Adat Nyebar Beras Kuning
Pranatan: sakderengipun acara kawiwitan, tetua adat (sesepuh) maos donga dipunlajengaken nyebar beras kuning. Dhukun bayi ugi maos donga dipunlajengaken potong rambut calon ibu kanthi maksud tolak balak (mbuwang sangkal). Calon bapak mecah krambil gadhing, dipunpasrah­aken calon ibu supados digendhong kados bayi.

(d) Adat Busana Tingkeban
Pranatan: calon bapak ngagem sarung, calon ibu ngagem kain/kemben, tiang sepuh kakung ngagem kejawen, tiyang sepuh putri: ngagem  kebayak lurik/jarik lurik kemben, peng­apit putri ngagem rasukan cemeng/bathik, saha sesepuh/Pe­nyiram: ngagem kejawen. Panggenan pasiraman dipun hiasi tetanduran/pethetan kembang ingkang seger/wangi saha dipun cepaki genthong toya saking pitung sumber.

(e) Adat Cengkir Gadhing
Pranatan mecah cengkir gadhing/krambil degan. Cengkir dipun gambari tokoh wayang Dewi Ratih saha Bathara Kamajaya kanthi pangajab, upami lair putri kados Dewi Ratih ingkang sulistya ing warno saha umpami lair kakung saged bagus kados Bathara Kamajaya. Pecahipun cengkir ugi mawi teges: pecah tengah Insya Allah jabang bayi lair putri, pecah pinggir lair kakung.

(f) Adat Pupus Pisang
Pranatan: calon ibu diparingi sem­bong pupus pisang dening sesepuh. Cengkir gadhing ingkang sampun dipun  gambari dipun lebetaken wonten sembong pupus pisang. Cengkir gadhing dipun dhawahaken. Kawiwitan cengkir gambar Harjuna/Kamajaya ingkang dipun dhawahaken, sesepuh maos donga “Lanang-lanang-lanang… gantheng-bagus-ganteng-bagus”. Kalajengaken cengkir gambar Sem­badra/Dewi Ratih ingkang dipun dhawahaken, sesepuh maos donga: “Ayu-ayu-ayu… manis–manis–manis–luwes–gandhes”.

(g) Upacara Adat Siraman
Pranatan: wonten upacara siraman punika dipun wiwiti tata cara sung­keman dhumatheng bapak/ibu saha sesepuh. Adat siraman dipun tinda­kaken supados calon ibu saha calon bayi seger waras wiris saha wangi.

(h) Prosesi Adat Tingkeban
Prosesi upacara adat tingkepan punika dipun pimpin dening sesepuh minangka sutradara ngantos upacara purna. Calon Bapak/Ibu sakderengipun wudhu toya kendhi, kedah ngagem ron pupus pisang kanthi tujuan supados kelairan si jabang bayi saged lancar lan cepet kados toya mili wonten ing pupus pisang. Saklajengipun sesepuh mun­dhut kendhi kanti pangucap : “Ora mecah kendhi nanging mecah kelairane si jabang bayi… kendhi pecah ajur mumur lan para kadang sami rebutan kreweng kendhi minangka jimat/ gang­sar rejeki.


B. Kawiwitan Wiyos Jabang Bayi
2) Upacara Lairipun Bayi
Upacara lairipun bayi punika ka­wiwitan nalika bayi lair ngantos umur pitung dinten/ tigang dasa enem dinten (selapan) Umumipun, upacara adat lairipun bayi punika wonten enem pe­rangan inggih punika: (a) adat barokohan, (b) adat adi ari-ari, (c) adat cuplakan, (d) adat donga jabang bayi, (e) adat tibakan, saha (f) adat mbu­wang bayi.  Upacara adat wiyosipun jabang bayi kawedhar makaten :

(a) Adat Barokohan
Pranatan: adat barokohan dipun tindakaken nalika si jabang bayi lair. para sedherek/ tanggi (kaum ibu)  sami nyengkuyung/nyambut lairipun jabang bayi saha sami ngasta bingkisan arupi wedhak, sabun, lan kopi/teh. Sakla­jeng­­ipun dipun wontenaken  wilu­jengan “brokohan” ingkang dipun tindakaken dening para ibu saha di­pimpin dening dhukun bayi.

(b) Adat Adi Ari ari
Pranatan: miturut keyakinan, lair­-ipun si jabang bayi punika sesarengan kaliyan sedherek kembaranipun. Sedherek sepuh arupi toya kawah ingkang medal sak derengipun bayi lahir, lajeng dipun sebat “kakang kawah”. Sedherek anem arupi ari-ari (duluran), lajeng dipun  sebat “adi ari-ari” ingkang lair sak sampunipun si jabang bayi. Ari-ari punika lajeng dipun wadhahi kendil, ditanem wonten ngajeng griya sisih tengen, dipun siram ngangge toya kembang telon, diparingi lampu senthir, saha ditutup kranjang minangka pangayom/keamanan. Cok­-bakal lan tumbak sewu dipun pasang wonten ngajeng griya sebelah kiwa. Saklajengipun ron widara, alang-alang, lan pandan duri dipaku wonten saka/cagak griya.

(c) Adat Cuplakan
Pranatan: adat cuplakan “tali puser coplok” biasanipun katindakaken nalika jabang bayi watara umur gangsal dinten. Istilah cuplakan punika saged ugi kasebat istilah “sepasaran”, sepasar tegesipun gangsal dinten. Adat cuplakan punika mawi teges raos syukur wonten ngarsanipun Gusti Ingkang Maha Kuwaos.

(d) Adat Donga Jabang Bayi
Pranatan: jabang bayi digendhong, lajeng dhukun bayi matek aji “doa pengasihan”, kanthi pangajab jabang bayi mbenjang saged dados priyantun luhur, kebak ing sih katresnan, kormat marang tiyang sepuh, saha migunani tumprap keluarga, bangsa, lan agama.

(e) Upacara Adat Tibakan
Pranatan tibakan dan potong rambut: upacara kawiwitan dening rombongan santri maos sholawat nabi, kairing tabuhan terbangan (rebana). Si jabang bayi dipotong/dicukur rambut-ipun dening sesepuh/kyai, lajeng di-gendhong bapakipun, diajak muter nyambut para tamu, lan diolesi bedhak/tepung beras dicampur kembang telon. Para tamu/santri diaturi ngusap rambut-ipun bayi ngagem toya kembang telon.

3) Upacara Adat Wilujengan Bayi Pitung Wulan
Upacara adat wilujengan bayi pitung wulan punika dipun tindakaken nalika bayi umur watawis pitung wulan. ke-yakinan adat selametan sampun lumampah turun temurun. Upacara adat punika kaperang dados tiga : (a) adat banyu kembang setaman, (b) adat damar kembang, lan (c) adat bayi tetel.

(a) Adat Banyu Kembang Setaman
Pranatan: bayi pitung wulan dipun siram ngangge toya kembang setaman (manca warna) utawi “banyu gege”. Tegesipun supados si bayi enggal ageng lan pinter kangge ngadhepi maneka warni cobaning gesang wonten ing alam donya. Saklajengipun, dening sesepuh bayi dipun pasrahaken dhu-mateng bapak/ibunipun supados di-tuntun (latihan mplampah)

(b) Adat Damar Kembang
Pranatan: Damar Kambang (sumbu kapas kanthi bahan bakar minyak krambil) dipun pasang wonten kamar kanthi pralambang pepadhange gesang wonten ing alam donya. Beras kuning dipun sebar wonten ngajeng griya, kangge tolak balak supados jiwa tetep luhur dan wibawa.

(c) Adat Bayi Tetel
Pranatan: bayi dipun lenggahaken dening sesepuh supados mendhet dolanan ingkang dipun remeni. Teges-ipun, mbenjang bayi sampun dewasa saged dados priyantun jumbuh kaliyan cita-citanipun. Conto: bayi mendhet buku, mbenjang dados tiyang pinter, bayi mendhet arto, mbenjang dados tiyang sugih, lan bayi mendhet Alquran, mbenjang dados kyai/ulama.
Upacara adat “Bayen” kedah diuri-uri minangka pralambang gesang kagem katentreman, kawilujengan, ka-betahan spiritual, saha pelestarian bu-daya/adat leluhur.


C. Mbucal Sukerto
Ingkang dipun wastani pranatan mbucal sukerta "sengkala" inggih punika bilih pun jabang bayi lahiripun kaleresan sami kaliyan rama utawi biyungipun ing babagan wiyos dinten pasaran. Tuladha, Bapak kawula lairipun Selasa Pon, kawula ugi Selasa Pon, Adhik kawula Budi ugi Selasa Pon, ugi anak kawula Selasa Pon. Dinten wiyosan makaten punika kedahipun dipun ruwat kagem mbucal sukerto, ingkang pranatanipun kados ethok-ethokipun pin jabang bayi dipun bucal wonten ing pluruhan, salajengipun dipun openi kaliyan sesepah ingkang anggadhahi pangangkah mbucal  sukerto utawi sengkala utawi nafsu jahat pun jabang bayi.

Ngruwat mbucal sukerta punika saperlu pun jabang bayi dipun paringana kawilujengan ngantos ing tembe, tinembihna lir ing sambe kala.


Caranipun : Bapak utawi ibunipun madhahi jabang bayi wonten ikrak lajeng dipun selehaken wonten ing pluruhan (tempat sampah ngajeng griya) kanthi dipun sekseni para sepuh lan pinisepuh. Ing antawis wekdal, bayi dipun pendhet dening sesepuh lajeng kapasrahaken dumateng bapak lan ibunipun.

Kasunyatan kawula piyambak, punapa wonten gandheng cenengipun utawi mboten kaliyan "sukerto" ingkang dereng dipun bucal nalika taksih jabang bayi, kadadosan nalika kawula taksih alit yuswa antawis 3 tahun, kaleresan dolanan wonten ing ngajeng griya. Rikala semanten, bapa nyambut damel mulang wonten ing SD, biyung kawula saweg ribet wonten ing pawon. Wonten satunggaling sedherek ingkang kepingin nggendhong mendhet lare alit. Sanalika, kawula dipun pendhet lan sampun dipun wara-waraaken bilih kawula ical. Salajengipun, bapa biyung nanjehaken dumateng satunggaling piyantun pinunjul ing babagan kawaskithan supados kawula saged wangsul dumateng bapa biyung, Antawis 7 dinten lawasipun, sedherek mbangsulaken dumateng bapa biyungipun.

Rahayu ingkang pinanggih,


Referensi :
  1. Anonim, Adat Kejawen, Wikipedia, 2010
  2. Anonim, Nguri-uri Upacara Adat Bayen, Panyebar Semangat, 2011. 

16 Mei 2011

Si Bolang “Bocah Blang-blangan”


Merdeka...!!! Mandi di Sendang  

Acara TV Trans-7 dengan Judul Si Bolang Bocah Petualang menjadi inspirasi saya untuk menggerakkan jari tangan menulis karena perilaku dan tindakannya benar-benar realita kehidupan anak-anak kampung dan terjadi juga pada pribadi saya dikala masih kecil pada tahun 1970-an. Perkampungan masih asri, kebon-kebon masih rimbun penuh buah-buahan di pekarangan orang. Irigasi dan saluran air jernih dan debit airnya masih relatif besar. Persawahan dengan tanaman padi dan palawija terus menerus bergantian menghiasi lahan di sekitar perkampungan. Masyarakat desa baru segelintir yang menjadi karyawan Pemerintah dan sebagian besar masih bertani. Kehidupan keluarga saya termasuk non pertanian, tetapi suasana pertanian sangat kental karena seluruh warga kampung dipastikan "gemruduk" bilamana tiba saatnya musim penanaman padi yang disebut "wiwit" atau menanam tembakau "wur mbako"  seluruh warga kampung baik yang petani maupun bukan petani ambil bagian dalam kegiatan itu. Kesatuan pendapat dalam bermasyarakat pun relatif homogen dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama (Islam), walaupun bisa disebut tidak terlalu fanatik dengan ajaran ke-Islam-annya. Orangtua dan anak-anak terlihat berkumpul dan bekerja di saat-saat seperti tersebut diatas dan sesampai di rumah pemilik sawah mereka menikmati makan bersama dengan sayur dan lauk yang pasti murah meriah "megono dan tempe besengek" yaitu tempe utuh yang dimasak pakai bumbu kunyit dan ada kuah sedikit, sudah.  Sejarah telah mencatat, kesederhanaan orangtua dan sarana umum untuk bermain anak-anak sangat minimal, mendorong anak-anak mencari permainan sesuai kondisi alam di sekitarnya, yaitu nglayap ke persawahan dan kemana yang dia senang atau blang-blangan mengenali alam dan masyarakat di luar kampungnya. 

Mandi di Grujugan Kali Krasak
Istilah Blang-blangan berarti bermain jauh dari rumah tanpa sepengetahuan orangtua yang bisa ke sawah, ke sungai, empang, kebon tegalan orang. Sudah dipastikan anak-anak di kampungku sekarang sudah tidak demikian karena sudah banyak sarana bermain yang produktif, barang mainan yang mudah dan murah dibeli di toko-toko. Perilaku bocah pada umur belasan tahun di masa kecilku benar-benar liar dan kendali orang tua sangat minimal. Kehidupan anak-anak demikian pada kenyataannya sangat rawan terhadap resiko bahaya baik berupa bahaya kecelakaan jatuh, sakit dalam, sakit perut karena salah makan, bahaya tenggelam di kolam bahkan terlalu rawan terhadap penculikan.

Soul-mate Tenggelam di Blumbang Mesjid
Kehidupan anak kampung Si Bolang benar-benar terjadi pada diri saya tahun 1964 s/d 1971 (umur 5 s/d 12 tahun). Teman akrab saya bernama Sidik (tidak tahu nama sebenarnya), anak Mbah Guru Saljum, adiknya Mas Kelik (Ir. Abdulsyukur) yang sekarang bertugas di Dinas Perkebunan Kaltim. Sidik adalah solu-mate aku yang baik tidak nakal dan mudah akrab dengan siapa saja. Peristiwa kecebur blumbang bukan karena kenakalannya tetapi kurangnya pengawasan orangtua saat itu. Cerita singkatnya, pagi hari saya belum sempat mandi dia sudah datang ke rumah mengajak bermain. Jarak dari rumah dia ke rumah saya tidak jauh sekitar 300 M melewati kolam "blumbang" Mesjid yang cukup luas dan dalam, sekarang sudah ditimbun, posisinya di samping selatan mesjid. Dia sering bermain di rumah saya karena Kakek saya sangat sayang kepada saya, apa saja yang saya inginkan kakek pasti membuatkan dari bahan yang mudah didapat di sekitar rumah (tidak dibeli), seperti halnya : barongan, sepeda roda tiga dari kayu, kuda-kudaan kayu, dll.

Suatu saat dia mengajak bermain keluar rumah karena dia baru saja dibelikan mainan gledhekan yang bisa bunyi “othok-othok”. Kakekku belum sempat membuatkan mainan seperti itu, sehingga sebentar-sebentar gantian memainkan gledhekan tsb. Ok, siang berganti malam, malam berganti siang dan pada saat siang hari baru asyik-asyiknya bermain gledhekan dengan saya di dekat rumah saya, dia berpamitan mau pulang karena hari sudah siang, dia merasa lapar. Dia berjanji akan segera kembali bermain ke rumah saya setelah usai makan.

Innalilahi wainna Ilaihi roji'un, tidak lama berselang kenthongan besar Pak Kebayan ditabuh 8 kali, berarti ada anak kecil meninggal. Berita menggemparkan bahwa Sidik soul-mate aku ditemukan mengambang sudah tidak bernyawa di kolam mesjid. Dia meninggal pada umur ± 5 tahun. Sejak itu kakekku memperingatkan aku untuk tidak bermain jauh-jauh apalagi mendekati kolam atau sungai. Disamping banyak kolam dalam di kampung, di kampungku termasuk masih banyak tempat angker yang sering membawa petaka bagi warganya. Waktu itu ada beberapa kolam untuk memelihara ikan yang kedalamannya membahayakan anak-anak kecil, yaitu (1) kolam mesjid, (2) kolam mbah Carik Kardanun dan (3) kolam mbah Guru Saljum. Selamat jalan soul-mate Sidik.

Bertambah Umur Soul-mate Berganti
Umur semakin bertambah, keingingan untuk mengetahui dunia luar semakin menggelora. Teman sepantaran yang dekat dengan rumah saya adalah : (1) Man, adiknya Sunarto cucu Mbah Rajak dan (2) Kenyot, anaknya Mbah Semi masih cucu Mbah Rajak juga, adik Mas Yanto.
Pertemanan banyak bermain outdoor, seperti adu wayang, main kelereng di depan rumah Si Man. Man, anaknya mudah diajak bicara dan bisa mengerti teman bermainnya. Kalau Kenyot anaknya agak minderan tetapi mudah marah jika tersinggung. Kasihan anak tsb karena di pahanya terdapat bekas luka kena solet panas. Konon ceritanya, Mbah Rajak yang sehari-harinya berprofesi memproduksi gorengan : gethuk goreng, slondhokan, tape, tempe goreng, kemplang, dll. Suatu pagi hari Mbah Rajak kakung sedang sibuk menggoreng, Si Kenyot datang merengek-rengek minta sesuatu kepada Mbah-nya. Kontan saja entah ada setan lewat dari mana, solet (alat untuk mengaduk gorengan) dipukulkan ke paha Kenyot dan terjadi luka, setelah sembuh bekas pukulan solet tidak hilang hingga anak tumbuh menjadi besar.
Sesekali mereka mengajak bermain ke sawah di sbelah timur Dsn. Klorengan.
Suatu saat Si Man bersama bapak dan ibunya transmigrasi ke Sumatera, maka selesailah pertemanan saya dengan teman dekat sepantaran.


Soul-mate berganti dengan teman yang sedikit lebih tua 2 tahun diatas umur saya yaitu Mas To anak Mbah Karjo anak Pak Kebayan. Dari teman baru ini saya mendapat masukan cukup banyak tentang etika bergaul dan menghargai keluarga orang lain. Mas To di besarkan dari seorang ayah Militer dengan kedisiplinan tinggi, tetapi kenakalan anak tetap melekat pada dirinya dalam dunia permainan anak-anak. Sekarang dia bekerja sebagai Polisi dan menamatkan Sarjana Hukum pada masa tugasnya di Solo. Dari dia lah banyak didapat inisiatif bermain yang berbeda dari permainan teman sepantaran, seperti membuat gledekan dari batang pepaya, mobil-mobilan dari kulit jeruk, sebulan karet, membuat batang "benthik", layang-layang dan bermain gundu. Sesekali dia mengajari aku menggambar wayang. Pada awalnya saya menggambar "ngeblat" wayang yang dibeli di jualan mainan, lama-kelamaan bisa menggambar sendiri, meniru gambar wayang yang sering digunakan untuk adu gambar wayang. 

 
Soul-mate aku Digigit Anjing
Sekali waktu ngalyap ke sawah bengkok sebelah barat ke Dsn. Bendan yang digarap Mbah Karjo, setelah selesai bermain di sawah terus "nglurug" bermain gundhu di pelataran Mbah Gendhuk (nenek Pak Santoso), bersama Mas Pras, Mas Yono, Mas Budi yang piawai bermain gundhu. Pulangnya lewat di depan rumah Pak Suwardi. Sudah dikenal orang banyak bahwa beliau memelihara anjing yang galak, Boy namanya. Pada saat lewat jalan dari arah Mbah Sapar menuju rumah Mbah Mah, di depan rumah Pak Wardi sudah menunggu Boy yang dalam posisi mendekam. Pada awalnya tidak curiga karena si Boy sekedar jalan mendekati kami berdua. Setelah dekat, si Boy langsung menerkam paha Mas To dan menggigit pahanya. Mas To memegang paha yang digigit dan menangis lari pulang ke rumah. Si Boy langsung dikerangkeng menghindari amuk massa. Pak Wardi mendatangi Mbah Karjo untuk mencari solusi pertanggungjawabannya. Namun, si Boy tetap diincar untuk dimusnahkan karena sudah menggigit orang. Tidak lama berselang, si Boy terlihat mati diracun orang. Mas To harus menjalani suntik "anti rabies" sampai berbulan-bulan kedepan. Pertemanan dengan Mas To berlanjut sampai umur dewasa, walaupun intensitas dan pola pertemanan tidak seperti pada saat masih anak-anak. 


Berteman dengan Teman yang Beda Umurnya Agak Jauh Diatas Umur Saya
Menjelang umur 7  tahun saya tidak mempunyai teman sepantaran yang dekat dengan rumah saya. Kakekku sudah meninggal pada saat saya berumur 6 tahun, sehingga tidak ada lagi yang saya anggap dekat dengan kehidupanku. Om saya sudah tingkat SMA yang kadang-kaang menjadi teman bicara seperlunya karena alam pikirannya sudah jauh berbeda. Hanya tetanggaku saja yang sesekali dapat aku samper sekedar mengeluarkan keinginan bermain. Namun, perbedaan usia yang cukup jauh dan kebiasaan yang kurang baik dalam keseharian hidup dia, membuat pola kehidupan menjadi liar. Pada umur itu saya mengenal “memet”, mencari ikan dengan cara mengarahkan aliran air “kalen” ke sawah orang, kemudian saluran air yang mampet dikeringkan. Kadangkala jika tidak mendapatkan ikan, melirik kolam orang untuk dipancing. Walaupun jarang mendapatkan ikan tetapi kegiatan tsb cukup berbahaya jika dipathuk ular berbisa.
Kegiatan bahaya pun kadang dilakukan dengan mandi di grujugan Tri Dono Tirto yang membendung Kali Krasak dengan melompat dari pelataran tanggul dam diatas "belik" sampai ke dasar air bendungan yang tingginya sekitar 8 M. Kadang sambil mandi di kali, sekaligus mencari ikan kecil (pethul), ucheng, atau udang sungai dan cukup dijemur diatas batu langsung dimakan.
Kadang juga dari rumah membawa garam kemudian ngeluyur ke kebon orang mencari buah “mlandingan” muda “kepek” dan jika ketemu, kepek digulung dikasih garam sedikit kemudian dimakan di tempat, ya ampuun, nggragasnya waktu itu.
Sekali-sekali mencari "terikan" yaitu ubi rambat yang tertinggal setelah dipanen yang punya sawah. Terikan sering diburu anak-anak karena rasanya lebih manis setelah ebberapa hari batang ubi terpotong dan mulai tumbuh tunas. Begitu mendapat terikan langsung dicuci dan dimakan mentah, kriuk..kriukk, "nggragas" rakus beneran kalau begini. 
Kadang diajak mencari “canggal” kayu kering, yang harus memanjat pohon nangka atau pohon lain di kebon orang, walaupun di rumah saya sudah cukup kayu yang dibuat oleh kakek dan ayahku. Kalau ketahuan saya memanjat pohon pasti kena marah.
Suatu saat pernah diajak memanjat buah duku yang mulai menguning milik tetangga di kebon Mbah Tekad yang sekarang menjadi pekarangannya Mas Sutrisno anak Mbokde Yem. Belum dapat buahnya sudah ketahuan mbah Tekad dan "nglarut" akhirnya dada saya babak belur. Memanjat rame-rame mengambil buah "wuni" yang warnanya merah menyala memenuhi seluruh tangkai di pekarangan Mbah Tarjimat, ini memang diperbolehkan karena buah tersebut tidak laku dijual. Cabang pohon patah, tetapi sempat nglarut cepat sehingga tidak sampai terjatuh.


Ajaran Kebenaran Pertama Kali
Suatu ketika dengan kebiasaan jelek bertemen dengan teman, aku mencoba jalan sendiri. Dunia anak-anak kampung tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Saya melihat buah jagung di sawah dekat rumah. Saya menganggap perbuatan sehari-hari dengan temanku adalah tindakan wajar. Tidak tahu kalau mengambil jagung orang adalah tindakan melanggar aturan, maka jagung saya bawa ke rumah, rencananya akan langsung dibakar didepan “luweng” perapian. Pas bapak saya duduk disitu, bapak bilang : “itu jagung dari mana?” Saya jawab saya ambil di sawah dekat rumah. Bapak menjelaskan, kalau perbuatan itu namanya mencuri barang milik orang lain. Itu tindakan melanggar aturan, bisa jadi kalau ketahuan yang punya sawah ditangkap dan dilaporkan kepada Pak Kebayan. Bapak bilang : "Sudah, jangan diulangi tindakan itu salah". Kalau ingin sesuatu, bilang kepada orangtua.
 
Saya Terserang Typhus 
Kemungkinan dari perilaku makan selama advonturir blang-blangan tak karuan, kebiasaan makan tidak mengenal kesehatan, pada usia 7 (tujuh) tahun saya terserang Typhus dan harus meringkuk di rumah selama 3 (tiga) bulan. Fasilitas dan Tenaga Medis masih minimal. Kalau berobat ke Klinik disana Manteri Kesehatan hanya bilang, karena badan panas, dia bilang "Malaria" maka diberi obat malaria, sehingga penyakit tidak sembuh. Saya akan dibawa ke RSU Muntilan tidak dana untuk berobat, terbatas sehingga hanya sekali saja berobat. Akhirnya Mbah Manteri Sutrisno Bengan Lor (ayahnya Bu Tun Bendan) datang dan memberi saran, agar hati-hati makan, setiap makan hanya nasi putih dengan lauk kuning telor. Diet ini saya jalani hampir 2 bulan lamanya.
Pada puncaknya penyakit menyerang tubuhku, saya sepanjang hari mengigau "ndleming". Dunia seperti sudah tidak aku kenali lagi apakah hari itu siang atau malam. Oleh karena sebelumnya saya diajak berwisata ke Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta, maka sepanjang hari saya seperti dikejar-kejar harimau, monyet, dll yang pernah aku lihat sebelumnya. Ayah dan ibuku sudah pasrah, badanku bertambah kurus dan rambut rontok.
Alhamdulillah Allah memberiku umur lebih panjang, saya dapat sembuh dan mulai sekolah kembali. Anehnya, hari pertama masuk setelah 3 bulan absen, nilai berhitung saya dapat 100. Teman-teman pada heran, kapan saya belajar wong ketinggalan 3 bulan sakit kok tambah encer berfikir. Alhamdulilah, setelah itu saya jarang terkena sakit serupa hingga sekarang.


 
Soul-mate “Bolang” Kebablasan
Waktu terus berlalu, selesai lulus SD, menginjak belajar SMP teman belajar dan bermain berganti pula. Teman soulmate saya yang paling dekat dan masih famili adalah “Ghen-thonk” dan beberapa orang “alm, Mas Hari” (kakak Mas Tadi)  dan “Mas Bitri” (adiknya Mbak Yah) yang umurnya 2 tahun dibawah saya dan selalu belajar di rumah jika malam hari tiba.

Bentuk permainan dan pola bermain hanyalah sekitar pelajaran, karena saya secara kebetulan sejak masuk Kelas I SMP selalu menduduki ranking atas hingga kelas III, sehingga waktu tidak banyak untuk bermain di luar. Namun demikian, bermain dan bermasyarakat dengan teman-teman yang jauh diatas umur sepantaran menjadi lebih sering, misalnya dalam permainan sepakbola, bermain kelereng antar kampung, bermain tanding layang-layang antar kampung dalam rangka mengembangkan mental dan bermasyarakat. Sekedar iseng, sekali waktu saya bersama soul-mate mencari buah-buahan  (nangka, dondong, jambu, tebu) di pekarangan tetangga tanpa merugikan secara materi dan finansial yang berarti.
Suatu saat orangtua dari soulmate saya diatas bercerai dan tidak lama kemudian meninggal. Sementara teman saya hidup bersama kakek dari Ibunya. Dari sanalah soulmate aku mndapatkan “pegangan” ajimat yang katanya tidak mempan logam tajam atau benda berat sekalipun. Keadaan ekonomi orangtua mendorong tindakan temanku semakin tidak terkendali.

Setelah tamat SMP, tahun 1975 saya cost di Kauman Muntilan dan soulmate sudah jarang komunikasi. Rumah cost saya dekat dengan Polsek Kec. Muntilan. Pada kesempatan tertentu saya pas belajar di rumah cost mendengar ada Copet ketangkap dan astaghfiirullah hal 'adhim, dia adalah soulmate aku "Ghen-thonk". Ya ampuun, katanya dia ketangkap tangan pada saat mengambil dompet orang di Pasar Muntilan.
Doaku, semoga Allah memberikan jalan yang baik kepada dia, semoga cepat sadar... . Setelah mendekam di sel Polsek Muntilan, dia dipindah ke sel Polres Magelang.
Setelah keluar dari sel Polres, sempat bekerja sebagai tukang kebon di Koramil Kec. Sawangan tempat om-nya bekerja. Namun, penyakit "clipto-mania" kumat, dia membawa kabur mesin ketik Kantor BKK dan dia kabur dari rumahnya. Setelah itu ada kabar dari tetangga Kecamatan, kalau dia ketangkap dan tangan serta kaki dilinggis hingga warga setempat sudah mefonis, kalau sembuh pun tidak akan bisa mencuri lagi. Dia langsung dibawa ke Polres Magelang. Ajimat dari kakeknya terbukti, walaupun tulang kaki dan tangan dipatahkan dengan linggis, setelah diperiksa dokter di sel Polres dia di-rongent, ternyata tulang tetap utuh.   
Sejak itu kepiawaian ber-maling ria semakin menjadi-jadi dan setelah keluar justru wilayah operasi semakin meluas hingga keluar kota bahkan kalau mendengarkan ceritanya sampai ke Sumatera dan Singapura. Suatu saat di tahun 1983, dia sempat menjadi target "penembak misterius" atau Petrus. Allah masih memberi umur panjang, dia lari entah kemana, yang akhirnya setelah operasi mereda, dia dikabarkan hidup di Solo, setelah melanglang hingga Jakarta dan P. Sumatera. 

Sekarang sudah tahun 2011, waktu sudah 36 tahun berlalu, syukur alhamdulillah soulmate aku tadi sudah sadar kembali ke jalan yang benar, sudah lolos dari operasi Petrus, sudah lolos dari pengejaran pihak yang berwajib. Dia sekarang menjadi penjaja Cafe di kampungku. Bandrek, dan makanan ringan ala kampung seperti tempe goreng, bakwan, dll, menambah penghasilan yang lumayan rutin. 


Tulisan di bulan purnama Waisyak, 16 Mei 2011

 Referensi foto :
  1. Andyfirmansyah, 2010.
  2. Sigitsubroto, 2009





Hutan Kemasyarakatan : "Hutan Lestari, Manusiawi walaupun Melupakan Efisiensi"

Hutan Kemasyarakatan atau sistem pengelolaan dengan melibatkan masyarakat sekitarnya populer dalam rangka program "hutan untuk kesejahteraan rakyat" seperti yang tertulis pada Uang Pecahan Logam Rp.1.000,- pada tahun 1990-an yang bergambar Simbol Ekosistem "Gunungan".


 

Hutan Harus Ada Untuk Mendukung Kehidupan 
Cow's Skidding (menyarad log jati, Cepu 2011)
Seramnya Hutan Lebat dengan segala makhluk hidup di dalamnya dalam pewayangan sering diucapkan oleh Ki Dalang "alas gung liwang liwung janmo moro janmo mati". Lantunan "suluk" Ki Dhalang masih bisa dirasakan semasa hutan belum terjamah. Pepohonan masih lebat dan cukup luas. Namun, di zaman modern ini tidak ada lagi kawasan hutan yang tidak dapat dijamah. Bahkan dengan hutan dengan kekayaan alam berupa kayu yang bernilai ekonomi tinggi, justru manusia telah menerobos ganasnya alam hutan dengan mesin gergaji, tractor, excavator, trailer truck dan alat berat lainnnya.



Tractor's skidding (menyarad log diameter 90 cm 
panjang 20 m tdk mungkin menggunakan sapi)   
Sejak dibukanya Investasi Modal Asing tahun 1970, alas gung liwang-liwung telah dan sedang dirubah oleh manusia menjadi uang, mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, daerah setempat dan Negara. Hutan yang semula dirasakan angker banyak syetan, binatang liar dengan pohon-pohon besar nan horor menakutkan, telah ditaklukkan oleh para cruiser, hutan mulai kehilangan jati diri. Hutan lebat berubah menjadi lapangan semak belukar (hutan sekunder). Diakui bahwa secara finansial, devisa dari hasil hutan telah menduduki ranking kedua setelah minyak dan gas selama dua dekade tahun 1970 hingga 1990. Hanya beberapa unit perusahaan saja yang bersikukuh dapat mempertahankan kelestariannya melalui pendekatan "lestari produksi, lestari sosial dan lestari lingkungan".
Kebijakan Pemerintah dalam mengantisipasi degradasi (penurunan kualitas) hutan sudah berjibun tidak terhitung lagi bentuk dan jenis peraturan baik yang bersifat teknis bagi pelaksana di lapangan maupun yang bersifat kebijakan pengaturan bagi para Penguasa Daerah. Hutan harus tetap ada. Agar hutan tetap ada maka harus diatur dan dikelola.  Diakui atau tidak, bencana banjir dan tanah longsor akhir-akhir ini adalah karena biomassa sumberdaya hutan sudah menurun. Fasilitas infrastruktur rusak dan sia-sia tidak berfungsi akibat rusaknya sumberdaya hutan.

Upaya Pendekatan Sosial
Pemanfaatan Lahan sblm panen dg penanaman
Jagung oleh masyarakyat setempat  
Dalam pengelolaan hutan upaya pendekatan sosial untuk melestarikan keberadaan sumberdaya hutan disebut hutan kemasyarakatan atau Social Forestry.  Bagi pengelola hutan di Kalimantan, Sumatera dan Papua bentuk pengelolaan semacam ini masih terbatas pada keterlibatan masyarakat sebagai karyawan dalam operasional perusahaan yang padat modal. Sedangkan keterlibatan dalam pengelolaan kelestarian hutan secara mandiri masih sangat terbatas pada Koperasi transportasi angkutan rakit, pemungutan hasil hutan ikutan.



Loading Secara Manual, Peluang Kerja Nyata

Hutan kemasyarakatan pada Hutan Jati di  P. Jawa telah sangat maju dan terbukti mendukung upaya minimalisasi degradasi hutan. Keterlibatan masyarakat dalam pelestarian keberadaan hutan sangat menyeluruh mulai dari penyiapan tenaga kerja pemeliharaan tanaman yang terhimpun magersaren, tumpangsari pemanfaatan lahan pra penebangan, penebangan, koperasi sarad & transport angkutan kayu gelondongan dari lokasi tebang ke Tempat Pengumpulan Kayu (TPK). Sifat pengelolaan hutan ini bercirikan : tradisional, murah meriah, terkoordinasikan, berpeluang kerja dan usaha relatif merata bisa dilakukan siapapun "labour oriented", bertipikal saling berinteraksi langsung antara hutan dan masyarakat (ada hutan ada rizki).

Loading Kayu Diameter Besar Perlu Alat Berat



Terlepas dari tipikal tersebut diatas secara keuangan pola pengelolaan ini tidak tepat bagi pengelolaan hutan yang masih memiliki potensi sumberdaya hutan (kayu) cukup tinggi karena sangat tidak efisien. Bisa dibayangkan, perlu tenaga kerja berapa ratus bahkan ribuan orang untuk mengangkat kayu gelondongan berdiameter 60 - 100 Cm panjang 25 M dari lokasi penebangan sampai di TPK. Pada prinsipnya pengelolaan hutan Padat Modal  harus menggunakan alat berat yang cukup, memanfaatkan tenaga profesional dalam permesinan, konstruksi jalan, mobilitas dan perencanaan yang tangguh untuk mengejar efisiensi pengelolaan hutan secara keseluruhan.  Kelestarian hutan dalam tipikal pola pengelolaan hutan ini sangat ditentukan oleh "commitment" penyelenggara manajemen.  Tingkat dan ukuran keberhasilan kelestarian pengelolaan hutan perlu difasilitasi dengan kebijakan tingkat makro berupa sertifikasi oleh Lembaga yang terakreditasi oleh Lembaga yg diakui  internasional dan manifestasi (pengejawantahan) pengaturan operasional di tingkat operasional lapangan.     


Hutan Bekas Tebangan thn 1990 Kembali Seperti
Semula Setelah 20 thn Tidak Terganggu Perambahan

Bilamana anda ingin melihat lebih jauh fasilitas kebijakan dalam upaya kelestarian hutan secara rinci bisa diakses melalui Guideline Forest Management Certification FSC atau Produk Peraturan Kementerian Kehutanan di www dot dephut dot go dot id.

Sekail lagi, komitmen manajemen, profesionalitas Tim dan kesunguhan adalah kunci keberhasilan. Kekhilafan dan kesalahan pasti terjadi dalam memperjuangkan keberadaan sertifikasi mulai dari hal yang sepele hingga yang sulit bahkan yang berakibat fatal sekalipun, namun semuanya menjadi pelajaran dalam menempuh keberhasilan lebih lanjut.   

Doa dari hutan belantara, Mei 2011