24 Jun 2015

Brayat Posong Sagotrah

POSONG SAGOTRAH (1)

PENGANTAR



Tulisan Posong Sagotrah disusun dalam rangka menelusuri garis keturunan keluarga besar dari induk keturunan keluarga besar Trah Mbah Posong yang dirasakan semakin hilang. Diharapkan tulisan ini dapat menjadi bahan untuk menjalin kembali tali silaturahim dan menjadi renungan bagi generasi sekarang untuk memetik hikmah serta manfaat adanya kekurangan dan kelebihan para leluhur pada masa kehidupan dan penghidupannya pada zaman itu.

Tercatat adanya beberapa informasi dari alur waris dan sumber terpercaya yang masih sugeng hingga tahun 2010 adanya kisah  nyata asal-usul Trah terkait  “Induk Posong Sagotrah” .  
Induk Trah yang disebut Mbah Posong dikisahkan sebagai kerabat Mataram pasca Perjanjian Giyanti yang mempunyai kawaskithan linuwih. Tanah Posong masih berupa hutan yang terletak di pertemuan S. Dadar dan S. Mangu. Adik-adiknya bermukim di Gading dan Kuncen, masih di sekitar Dusun Posong. Kehadirannya di Dusun Posong mlesit dari lingkungan kerajaan, sekedar memenuhi ketetapan hati ketidaksetujuannya dengan sikap Pangeran Sambernyowo memihak kepada Belanda, sementara diketahui Belanda banyak menggunakan tipu muslihat dalam mengembangkan kekuasaannya. 

Posong bukan daerah pengasingan bagi keluarga kerajaan, tetapi sekedar tempat menikmati hidup dalam situasi jauh dari hiruk-pikuk politik kerajaan yang mulai tahun 1500 - 1700 terjadi perang saudara di lingkungan kerajaan Mataram. Perang yang berkepanjangan boleh dibilang memakan jiwa ratusan ribu jiwa rakyat pengikut pihak-pihak yang bertikai. Posong zaman dahulu adalah sebuah Dusun kecil, hanya dihuni 20 KK dan hingga sekarang jumlah itu tidak bertambah dengan alasan satu dan lain hal.

Selama dalam masa kehidupannya di Dusun Posong, beliau menjalani hidupnya sebagai rakyat jelata dan tidak menunjukkan bahwa beliau adalah seorang berdarah biru. Dalam investigasi dengan pinisepuh, Induk Trah Posong, Gading dan Kuncen tidak ada yang tahu siapa sebenarnya nama aslinya.


Kenapa Mengasingkan Diri...?
Dikisahkan secara turun-temurun dari generasi kepada generasi berikutnya, bahwa 3 Induk Trah Posong adalah tokoh yang masih terkait dengan peristiwaa Perjanjian Gianti tgl.13 Februari 1755. Perjanjian ini merupakan kesepakatan antara VOC dengan Mataram yang diwakili Paku Buwana-II. Dalam proses penandatanganan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo VII (KGPA-VII) atau Pangeran Sambernyowo tidak dilibatkan padahal salah satu isi kesepakatannya ada penyerahan daerah kekuasaan pesisir utara kepada VOC dan pemerintahan eksekutif berada ditangan Pepatih Dalem (Bupati) dan Gubernur bukan ditangan Sultan. Di lain pihak Pangeran Mangkubumi yang tadinya sama-sama dgn Pangeran Sambernyowo memberontak VOC justru bersama-sama PB-II berbalik memihak VOC. Akhirnya malah memutar menjadikan Pangeran Sambernyowo menjadi musuh bersama (VOC/PB-II dan P. Mangkubumi). Keputusan Paku Buwono II (PB-II) yang sudah memberikan daerah pesisir utara tidak bisa dicabut oleh PB-III pengganti PB-II. Perjanjian ini dikendalikan oleh Pemerintah Penjajah Belanda dan bisa dikatakan hilangnya kedaulatan Kerajaan Mataram dan dimulainya penjajahan secara politis sejak tahun 1755. (Soedarisman Poerwokoesoemo, KPH, Mr, 1985). 
Inti perjanjian berpihak kepada VOC (Belanda) dari aspek perdagangan, kedaulatan menentukan Bupati dan hilangnya peisisir utara Jawa kepada VOC/Kumpeni, ditambah lagi PB-III yang terlalu dekat Kumpeni untuk menyingkirkan familinya sendiri (R.M.Said atau P. Sambernyowo), menuai pemberontakan bahkan bentrokan antar pendukung Pangeran Sambernyowo dan PB-III terjadi dimana-mana.
Inilah perkiraan sebab musabab para pengikut Pangeran Mangkubumi dan PB-III  melakukan tindakan mlesit dari kerajaan, menetap di suatu tempat yang dianggap nyaman dan tetap teguh tanpa henti berupaya mengusir Pemerintah Kolonial Belanda dari Bumi Nusantara.
 

Indikasi bahwa Induk Trah masih dari lingkungan Keraton adalah adanya hubungan baik yang tetap dipelihara dengan keluarga Mataram  yaitu ritual pisowanan rutin “sebo” ke keraton Mataram (Surakarta) yang dilakukan oleh 3 bersaudara bersama anak-anaknya setiap musim tertentu. Namun, ritual ini tidak pernah diceriterakan asal-muasalnya, maksud dan tujuannya, keterkaitannya dengan kerabat Kerajaan. Kesan feodalistis, sehingga lambat laun acara “sebo” tinggal kenangan hilang Ritual rutin sebo tidak terrekam, sehingga lambat laun acara tersebut tidak dilanjutkan oleh generasi berikutnya. 

 
Mitos Pedukuhan Margowangsan
Mitos Tokoh pedukuhan Margowangsan yaitu Kyai Soro, Kyai Margowongso, R. Dirgonegoro dan Nyi Sunti Aking yang pernah menempati Dusun Margowangsan hingga ajalnya tidak terkait erat dengan kehadiran Induk Trah Posong. Kyai Soro dan Kyai Margowongso adalah penduduk asli Dusun Margowangsan yang sudah eksis sebelum Sunan Kalijogo melakukan penyebaran agama Islam tahun 1500-an. Nyi Suntiaking dan R. Dirgonegoro hadir pasca perang Diponegoro tahun 1825 - 1830. Induk Trah Posong datang lebih duluan pasca Perjanjian Giyanti (tahun 1775) dan namun sulit ditelusuri karena tidak adanya situs tertulis. Penelusuran akhirnya ditempuh dengan menggabungkan masukan dari para pinisepuh satu dengan pinisepuh lainnya dikaitkan dengan situs peninggalan berupa batu nisan di Pekuburan Kidul Dsn Margowangsan dan Pekuburan Besar Dsn. Mudal. Di Pekuburan Mudal terdapat Nisan-nisan kuno yang dikenal dengan Nisan Nyi Suntiaking, R. Dirgonegoro dan Nisan R. Joyonegoro yang termasuk bentuk nisan modern. 

Kesimpulan, bahwa Induk Trah Posong adalah “warga pendatang” dari kalangan Laskar Mataram pasca ontran-ontran politik perang saudara Kerajaan Mataram tahun 1500 - 1700-an.

Induk Keturunan Posong terdiri dari 3 (tiga) orang bersaudara yang tinggal Posong, Kuncen dan Gadingsari yang tidak diketahui pasti asal muasalnya. Penuturan para sesepuh yang disampaikan secara turun-temurun, ketiga orang bersaudara tersebut adalah Laskar Mataram yang masih terkait dengan ontran-ontran politik Mataram pasca Perjanjian Gianti pada masa Pemerintahan Mataram tahun 1775 M. 
 
Bagan 1. Ilustrasi Asal-usul Induk Trah Posong (Thn 1775)  


Penulisan Induk keturunan dari Posong yang selanjutnya disebut “Posong Sagotrah" dan pada generasi tahun 2000-an ini merupakan generasi ke-enam.

Dalam hal ini Induk Trah Dusun Kuncen dan Gadingsari tidak banyak disinggung oleh karena minimalnya informasi. Silsilah Induk Trah Posong menampilkan sekilas petunjuk garis keturunan yang masih dapat diidentifikasi saat ini.

Dalam tulisan ini Penulis mengetengahkan keturunan yang terkait dengan generasi pertama dari Induk Trah Posong antara lain adalah Karto Wiryo yang diperkirakan hidup pada tahun 1880-an hingga 1930-an yang merupakan "cikal bakal" brayat  (keluarga besar) yang kemudian migrasi ke Dusun Margowangsan Dusun sebelah selatan Dusun Posong.

Induk Trah Posong mempunyai 9 orang anak yang akan dijelaskan pada tulisan berikutnya. Dengan semakin banyaknya anak keturunan yang mencari penghidupannya ke seluruh penjuru tanah air, maka tali silaturahmi dengan sendirinya semakin memudar.  Pudarnya tali silaturahmi tidak hanya faktor semakin banyaknya anak keturunan, tetapi juga karena dampak perkembangan sosial akibat kemajuan zaman yang menuntut profesionalisme dan individualistis, perbedaan tingkat kesejahteraan, keberpihakan kepada salah satu golongan dakam pencalonan pemimpin lokal (baca : pemilihan Kepala Desa/Lurah), tragedi politik nasional  dan keberpihakan kepada suatu golongan atau partai politik pada saat menjelang Pemilihan Umum. Adapun perbedaan keyakinan atau agama bukan merupakan sesuatu yang dipermasalahkan.

Sumber informasi adalah dari pelaku sejarah yaitu “mBah Sahli Slamet (alm)” yang berdomisili di Dusun Dampit, Mertoyudan, Magelang, mBah Udo Taruno (Amin) Dusun Bendan, Sawangan, Bapak saya Samidi, Pak Suharto Ngaglik nDuwur, Bapak Turmudi (Jakarta) dan lain-lain yang ditulis mulai tahun 2001 - 2007. Tulisan ini masih perlu penyempurnaan melalui klarifikasi dan konfirmasi dengan sumber-sumber yang masih ingat dan faham terhadap garis keturunan ini. Mohon dapat hubungi kami jika pembaca memiliki informasi untuk melengkapi tulisan ini.

Kepada Sesepuh dan Pinisepuh serta sumber informasi yang tidak dapat disebutkan satu per satu disampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan bagi mereka yang merasa memiliki data akurat tetapi belum tertampung, Penulis mengharapkan dapat membantu melengkapi guna perbaikan dan penyempurnaan lebih lanjut.

Catatan :
  1. Situs Batu Nisan tinggi menjulang sekitar 2 M di Pekuburan Mudal yang bertuliskan nama : R. Joyo Negoro alur silsilahnya tidak ditulis secara runut. Keluarga Ibu Saljum Margowangsan dan Ibu Mari Sawangan adalah beberapa keturunan R. Joyonegoro.
  2. Situs Batu Nisan di Pekuburan Mudal yang terbuat dari batu persegi, bentuknya sederhana dan lebih panjang (± 2,5 M) dari batu nisan di sekelilingnya, dipercaya oleh masyarakat sebagai kuburannya Nyi Sunti Aking, istri dari R. Dirgonegoro yang keduanya pernah tinggal di Dsn Margowangsan pasca Perang Diponegoro tahun 1830.

Bersambung ke tulisan berikutnya.

Referensi :
1. Anonim, 1985, Wikipedia, Perjanjian Gianti
2. Soedarisman Poerwokoesoemo, KPH, 1985, Gadjah Mada University Press.






 POSONG SAGOTRAH (2)
ASAL-USUL INDUK TRAH POSONG DAN IDENTIFIKASI KERABAT DARI KETURUNAN PERTAMA


1.       Maksud

Penulisan silsilah Posong Sagotrah  bermaksud ingin menelusuri alur keturunan langsung mBah Setro Saiman yang diambil dari pelaku sejarah dan sumber lain yang masih ingat dan faham garis keturunan. 

2.       Tujuan

Tujuan penulisan silsilah Posong Sagotrah dan khususnya Keturunan I pada Jalur Trah Karto Wiryo yang menurunkan a.l Setro Saiman di Dusun Margowangsan adalah untuk menelusuri jejak keturunan secara keseluruhan. Diharapkan tulisan ini dapat menjadi bahan penelusuran bagi generasi sekarang dan yang akan datang bilamana suatu saat berkeinginan menjalin kembali tali silaturahmi yang lebih akrab dan lebih indah. Sukur-syukur bisa membangun sebuah “Forum atau Lembaga” yang mengurusi tali silaturahmi Posong Sagotrah.  

3. Rererensi

Rererensi Silsilah Posong Sagotrah didapat dari :

Pelaku sejarah yang faham dan kuat ingatannya yaitu Mbah Slamet Sahli yang lahir di Margowangsan tahun 1929 dan wafat tahun 2005. Beliau bermukim di Dampit - Mertoyudan yang merupakan Buyut dari Kartowiryo, Cucu Setro Saiman dan anak Keempat dari 6 bersaudara dari Setro Saiman. Selama investigasi dengan beliau dari tahun 2003 sampai 2005, dicatat cukup banyak informasi dari Induk Trah, Canggah, Buyut, sampai beberapa generasi yang ada saat itu (2005). Namun, investigasi tidak menemukan nama Induk Trah, hanya disebut bahwa Induk Trah masih dari lingkaran Mataram.

Pelaku sejarah yang lain yang faham dan masih kuat ingatannya adalah keluarga saya sendiri yaitu Bapak saya Pak Samidi, Paklik Sugeng, Pakde Turmudi.

Disamping Mbah Sahli, sumber saksi hidup yang lain adalah catatan Pak Harto Ngaglik Nduwur tahun 2011. Data sama persis dengan investigasi dari Mbah Slamet Sahli. Menurut Pak Harto, sebagian tulisan bersumber dari Mbah Slamet Sahli.

Anonim, tamu yang datang ke rumah dan saya temui sendiri (tidak menyebutkan namanya) bahwa Induk Trah Posong adalah lingkaran Mataram yang menetap di pedesaan sebagai rakyat jelata, tidak ingin menampakkan sebagai keturunan darah biru.

Counter check, setelah digambarkan kedalam pohon silsilah, dimintakan konfirmasi kepada sanak famili bahkan yang tertulis bersangkutan apakah namanya, urut-urutan, tempat tinggal dan lain sebagainya sudah sesuai, atau ada kesalahan fatal dalam rangka perbaikan bagan silsilah.

Informasi lain terkait dengan sejarah Trah, adalah study keterkaitan situs leluhur berupa nisan-nisan di Pekuburan Margowangsan, Posong dan Mudal.


4.       Penuturan Pinisepuh Sekitar Induk Trah


Silsilah Posong Sagotrah ditulis bedasarkan informasi dari berbagai sumber pelaku sejarah dan sumber terpercaya lainnya yang mempunyai nilai-nilai adat dan karakter suatu keturunan. Implikasinya terhadap anak keturunan yang peduli terhadap arti Keluarga Besar atau Brayat adalah bahwa dokumen keturunan merupakan salah satu perangkat untuk menemukan mata rantai sanak saudara dan kerabat yang sudah tercerai berai tidak diketahui serta mengetahui siapa dan dari mana seseorang berasal.

Penulisan silsilah ini tidak ada maksud sedikit pun untuk melakukan dekomunitasi atau pemahaman yang  menjurus kepada kondisi ekslusif keluarga dengan menonjolkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh seseorang bahkan keinginan mengaku-aku sebagai keturunan Darah Biru. Sebaliknya improvisasi  penulisan juga bukan untuk memojokkan kekurangan seseorang yang mengarah kepada bentuk pembunuhan karakter terhadap anak keturunan seseorang.

Pencantuman Nama Individu, Brayat dan Keluarga Besar dalam tulisan ini adalah sekedar gambaran dari salah satu kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan sebagai sample suatu tindakan dengan harapan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua sebagai generasi penerus.

Dikisahkan secara turun-temurun dari generasi kepada generasi berikutnya, bahwa peristiwa Perjanjian Gianti adalah kesepakatan yang dilaksanakan antara Pemerintah Penjajah Belanda (VOC) dengan Kerajaan Mataram yang diwakili oleh Paku Buwono-II dan Pangeran Mangkubumi pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo VII (KGPAA-VII) atau Pangeran Samber Nyowo yang dilaksanakan di pedukuhan kecil Giyanti pada tahun 1775 M. Pada saat penandatanganan PB-II sudah dalam keadaan sakit dankemudian digantikan PB-III.
Pangeran Mangkubumi yang semula bersama KGPAA-VII menentang VOC berbalik mendukung VOC dan KGPAA menjadi musuh PB-III dan P. Mangkubumi.

Konon, mendengar salah satu isi perjanjian yang berisi keberpihakan Pangeran kepada Pemerintah Belanda (VOC), penyerahan pesisir utara Jawa Tengah dan juga penentuan Bupati dan Gubernur ada ditangan VOC, maka sebagian pengikut P. Mangkubumi yang tidak setuju terhadap sikap Pangeran memilih tidak ikut pulang ke kerajaan dan “mlesit”  tersebar di pedukuhan yang diinginkan.

Namun, mlesitnya Sang Laskar Mataram ke daerah Lembah Merbabu yang subur makmur itu dikisahkan hanya sekedar istirahata sejenak menenangkan pikiran untuk sementara, walaupun pada kenyataannya tinggal di Dusun Margowangsan sampai wafat. Yang menarik perhatian publik di sekitarnya adalah tidak diketemukannya barang wasiat miliknya yang menunjukkan seseorang adalah anak keturunannya. Yang ada adalah masyarakat di sekitar Pekuburan seperti Sawangan, Mudal, Maren, Butuh, Kebokuning dan Margowangsan tetap "nguri-uri" melestarikan ritual "Nyadran" setiap menjelang bulan Puasa Romadhon. Mereke yang datang adalah dari semua kelompok agama (Muslim & Kristen) duduk bersama memanjatkan doa (Islam) kepada Tuhan YME dengan menghadap "nasi tumpeng" dan seabreg kue basah. Tidak ketinggalan anak-anak dari Dusun sekitarnya ikut meramaikan acara "nyadranan", menambah ramainya acara ritual. 

Logika mlesitnya para Laskar Mataram pada Perpecahan dalam tubuh Kerajaan Mataram dibenarkan oleh W. van der Molen, 1997 dalam bukunya Twaalf eeuwen Javaanse literatuur dan R. Ng. Yasadipoera , 1892 dalam bukunya Babad Surakarta ingkang ugi nama Babad Gijanti bahwa sepanjang tahun 1746 – 1775 pasca dikabulkannya permintaan Van Imhoff (VOC) kepada Sunan Pakubuwana II untuk menguasai 2/3 pesisir utara Jawa dan keputusan Kerajaan untuk menunjuk Bupati  harus seizing VOC. Tercatat selama 9 tahun mulai dari peristiwa tahun 1746 tersebut diatas sampai Perjanjian Gijanti dan berakhir dengan Perjanjian Salatiga tahun 1775 terjadi Perang Saudara dalam Kerajaan Mataram dan 50 % penduduk Jawa tewas oleh saudaranya sendiri.  


      5. Bukti Petilasan 

Petilasan Para Kerabat dan Laskar Mataram yang "mlesit" dari lingkungan kerajaan adalah :

  1. Pangeran Dirgonegoro dikebumikan di Pekuburan Mudal dekat Sumber Mata Air "Mudal" dengan Nisan cukup besar dan diletakkan pada tatakan Nisan yang cukup tinggi (± 2 M).
  2. Nyai Suntiaking (perempuan) dikebumikan di Pekuburan yang sama dengan P. Dirgonegoro, namun posisi Nisannya terpisah terletak di pojok barat pekuburan dengan bentuk Nisan panjang, di sampingnya ditanam Pohon Kamboja.
  3. Mbah Posong (Pm), Mbah Gadingsari dan Mbah Kuncen, semuanya tidak diketahui namanya berturut-turut dikebumikan di Pekuburan Dusun Posong dan Gadingsari dan  menjadi satu dengan pekuburan masyarakat biasa. 


  1. Induk Trah
Ada petunjuk bahwa Induk Trah Posong adalah satu dari beberapa Laskar Mataram yang mlesit dari lingkungan Kerajaan (mohon periksa Bagan 1 pada tulisan sebelumnya Posong Sagotrah (1). Kisah selanjutnya, bahwa selama mlesit mereka tidak menunjukkan sebagai tokoh kerajaan, tetapi justru menjalani hidup sebagaimana orang awam dengan segala perlikau sebagai masyarakat kecil di pedesaan. Dalam kondisi hidup di pedesaan, hubungan baik dengan lingkungan Kerajaan tetap dipelihara dengan baik dengan melaksanakan ritual ‘sebo” ke Kasunanan di Solo (bukan Mataram Ngayogjokarto Hadiningrat) hingga tahun 1930-an (dikisahkan Mbah Mangun, Bengan Kidul, 1970).  Namun, ritual ini tidak pernah diceriterakan asal-muasal ritual, maksud dan tujuannya, keterkaitannya dengan kerabat Kasunanan. Ritual sebo tidak terrekam,  dan dipelihara sehingga lambat laun acara tersebut tidak dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Ibarat  atau pepatah “legi rembesing madu” kira-kira artinya bahwa  ketokohan yang melekat pada seseorang pada suatu generasi yang redup pada generasi berikutnya, diyakini pada suatu saat akan muncul  generasi  yang  mewakili ketokohan leluhurnya.

Alkisah, ada 3 (tiga) orang bersaudara yang dikenang sebagai asal-usul “Induk Trah” tinggal di Dukuh Posong, Gadingsari dan Kuncen. Mereka bertiga selalu melakukan kontak komunikasi. Dikisahkan, bahwa alat komunikasi  yang digunakan bilamana suatu saat akan bertemu untuk merencanakan sesuatu, cukup mengetuk “dingklik” tempat untuk duduk berjemur, maka mereka bertiga segera berkumpul untuk membicarakan sesuatu.  Namun, hingga sekarang siapa nama-nama Induk Trah tidak ada yang ingat dan tidak ada bentuk rekaman yang bisa menjadi bahan penelusuran untuk didokumentasikan. Saya pernah sowan kepada Mbah Parto Posong (1970-an), menanyakan siapa nama Mbah Posong yang sering disebut-sebut induk trah, beliau hanya ngendiko “pokoke Mbah Posong, aku ora ngerti”  Yang beliau ingat, bahwa Setro Saiman adalah keturunan pertama yang berdomisili di Margowangsan dan Mbah Parto adalah cucu dari adiknya Setro Saiman “anak enom, anak tuwa”.



  1. Generasi Pertama 

Bilamana ditelusuri, dari tahun 1775 sampai tahun 2000 sudah 225 tahun atau melewati 3 generasi kalau dihitung rata-rata umur generasi 70 tahun.  Generasi pertama, yang tercatat dengan baik adalah jalur Posong yang menurunkan 11 anak. Sedangkan  jalur Gadingsari dan Kuncen tidak banyak diketahui.

Ilustrasi silsilah Induk Trah (Bagan 1) dan Generasi pertama (Bagan 2), bisa dilihat bahwa jumlah dan penyebaran domisili anak keturunannya sudah sulit untuk ditelusuri. Jika pola pembinaan tali silaturahmi seperti halnya arisan, paguyuban dan sejenisnya sudah sulit dilakukan, maka upaya minimal adalah mengembangkan wacana “kunci petunjuk” dari suatu keluarga terhadap keluarga besar.  

Kunci Petunjuk penelusuran ini dimaksudkan untuk mempermudah pengenalan dengan menyebut tokoh keluarga yang lebih dikenal atau ditokohkan oleh masyarakat sekitarnya. Tentunya penyebutan tidak mengesampingkan tokoh lain yang bisa jadi lebih senior atau status sosialnya lebih tinggi. Diharapkan dengan petunjuk kerabat ini, bagi keluarga yang akan menelusuri lebih jauh kepada keluarga dekatnya, dapat mendekati langsung kepada tokoh yang bersangkutan. Sebagai gambaran, seseorang yang sudah jauh baik tempat maupun tali silaturahmi, suatu saat ingin mendekatkan diri kembali kepada sanak saudara dekatnya, namun yang ia kenal hanya nama nenek/kakek atau personal lainnya. Dengan adanya petunjuk penelusuran ini akan mempermudah identifikasi dan meyakinkan langkah pendekatan. 

Tahun 2010, keturunan yang masih bisa diidentifikasi adalah cucu dari Keturunan Pertama yang masih sugeng sudah berusia diatas 70 tahun-an atau buyut pada usia 50 tahun-an.

Berikut Kerabat Trah Jalur Induk Posong dan Kuncen yang masih bisa diidentifikasi. Sedangkan Jalur Gadingsari belum ditampilkan di Blog ini karena sangat kurang informasi.




Jalur Induk Trah Posong :


Bagan 2. Silsilah Induk Trah Posong 9 Keturunan, 35 Cucu + Pm (Thn 1800 -1930)
Jalur Induk Posong, oleh karena saya ada pada posisi jalur tersebut, maka pencatatan yang diperoleh dari mBah Sahli Slamet Dampit Mertoyudan dan rekam Bapak Suharto Ngaglik nDuwur tahun 2007 dapat diperiksa Bagan 2 Silsilah Induk Pertama Posong Sagotrah pada tulisan sebelumnya. 

Daftar Identifikasi Kerabat dari Jalur Induk Posong dan Kuncen pada tahun 2010, disajikan sbb :

1. Kerabat Canggah Karto Wiryo (Margowang-san/Gangsan)
   
    Canggah KartoWiryo punya 6 org anak 
(1)          Buyut Selar (Gangsan) : 

 Keluarga Buyut  Mbah Isah (Margowangsan/Gangsan), Mbah Marjono (Gangsan),Mbah Marsan (Gangsan)
(2)          Buyut Darmin (Gondang Lor) :

Buyut Dramin : Kurang faham
- Keluarga Mbah Harto, Mbah Suyono (Gondang Lor); Keluarga Pak Sarmadi, Pak Darsono (Wonolobo)
(3)          mBah Sri (Talaman) : Keluarga mBah  Jamal (Talaman), Rambeanak (Mbah Sri Help)
(4)          mBah Setro Saiman (Gangsan) : Keluarga Pak Guru Samidi (Gangsan), Suyatmi (Pondok       Gede Jakarta).
(5)          mBah Rus (Gangsan) : Hilang pada jaman perang kemerdekaan
(6)          mBah Tambeng/Supo (Gangsan) : Keluarga mBah Supo Taruno /mBah Minem (Gangsan).




2. Kerabat mBah Joyo (Posong)
(1)  Mbah Kuncung (Bendan) : Keluarga mBah Pak Santoso Bendan.
(2)  Mbah Mardi (Butuh Kulon) :Keluarga Mbah Parto (Butuh Kulon)
(3)  Mbah Cokro Kamto (Butuh Kulon) : Keluarga Pak ngGolo (Santan)
(4)  Mbah Sumini (Kebokuning) : Keluarga Pak Sukardi (Kebokuning)





3. Kerabat mBah Kartorejo (Posong)
(1)          Mbah Darmi (Bantul) : Keluarga mbah Wiro/Mayor (purn) Sunarno  alm(Gangsan)
(2)          Mbah Karto Atmojo (Magelang) : Tidak diketahui
(3)          Mbah Karto Wardoyo (Purworejo) : Tidak diketahui
(4)          Mbah Kus (Purworejo) : Tidak diketahui
(5)          Mbah Niti (Posong) : Keluarga Pak Kuntarto/Widodo (Butuh Kulon) 

4. Kerabat mBah Rusmin (Popongan) :
Keluarga Kontho Alm (Popongan)



5. Kerabat mBah Karto Diryo (Posong)
(1)          Rumini (ngLampu/Pager) : Belum dikonfirmasi
(2)          Mbah Mangun (Butuh Kln) : Kel. Bu Kusdiyah/Pak Nasikin (Butuh Kln) & Pak Kustoyo (Kbkuning)
(3)          Mbah Mul (Mungkidan) : Keluarga mBah Suwarno (Mungkidan)
(4)          Mbah Madi (Transmigrasi ke Sumatera) : Tidak diketahui
(5)          Mbah Parto (Posong) : Keluarga mBah Sutrisno (Yogyakarta)
(6)          Mbah Sardi (Purworejo) : Pm
(7)          Mbah Murman (Posong) : Keluarga Bu Titik (Smg), Carolina (Bekasi), Romo Iwan, Romo Riyo
(8)          Mbah Muryam/kembaran mBah Murman (Kebokuning) : mBah Harjo Surono (alm)          
(9)          Mbah Samini (Tampir Kulon) : Keluarga Pak Guru Rubiyoto, Ibu Sulisah (Tampir Wetan).
(10)        Mbah Parinem (Posong) : Keluarga Pak Harijanto (Smg), Bu Tatik (Posong), Pak Muk (Smg)
(11)        Mbah Suminem (Posong) : Keluarga mBah Projo (Posong).    

6. Kerabat pm (Mawungan)
Belum dikonfirmasi hubungannya dengan Mbah Sastro Rame Gunung Lemah



7. Kerabat Mbah Niti (Plalangan, Sawangan)
Tidak ada informasi



8. Kerabat Mbah Pawiro (Gadingsari)
(1)          Mbah Diro (Jetis Kaliwungu) : Tidak diketahui
(2)          Mbah Mul (Senden) : Tidak diketahui
(3)          Mbah Dalilah (Gading) : Keluarga Pak Koco (Gadingsari)
(4)          Mbah Saparman (Bengan Lor) : Keluarga mBah Guru Parman (Bengan Lor)
(5)          Mbah Mardi (Yogyakarta) : Pm

9. Kerabat mBah Karto Dimejo/Mbah Lurah (Posong)
(1)          Mbah Pawiro Gempol/Mbah Pucung (Ngaglik Ngisor) : Keluarga Pak Suherman (alm) (Ngaglik   Ngisor), Keluarga Pak Suparman (Bulu)
(2)          Mbah Karto Karsini (Ngaglik nDuwur) : Keluarga bapak Suharto, alm (Ngaglik nDuwur)





Jalur Induk Kuncen :

1.       Kerabat mBah Ireng (Kuncen, Bengan Lor)
(1)         mBah Darsi (Bengan Lor)


2.       Kerabat mBah Bagong
(1)          Keluarga Mbah Bagong (Gangsan, tinggal di Surabaya), Sri/Slamet (Gangsan)

(2)          Keluarga Bu Darsi (Kuncen)

 

Sumber Referensi Pustaka :

2)   Raden Ngabehi Yasadipura, 1885-92, Babad Surakarta ingkang ugi nama Babad Giyanti, Soerakarta : Toef & Kalf
3)   Raden Ngabehi Yasadipura, 1937-39, Babad Giyanti, Batawi-Centrum : Balai Pustaka
4)   Poerbatjaraka, 1952, Kepustakaan Djawa, Amsterdam/Djakarta : Djambatan
5)   W. Van der Nolen, 1997, Twaalf eeuwen Javaanse literatuur, Leiden.




Bersambung pada tulisan berikutnya 







POSONG SAGOTRAH (3)



Silsilah Canggah Kartowiryo & Daftar Kerabat Kartowiryo Saat Ini


1.    Maksud

Penulisan  Kerabat Kartowiryo dalam "Pohon Keturunan" silsilah Posong Sagotrah  bermaksud ingin mengemukakan Nama-nama dan Domisili Kerabat yang ada saat ini (2010). Secara factual kerabat Kartowiryo relatif lebih jelas dan sering ketemu baik di Dusun Margowangsan maupun di Jakarta pada acara Lebaran dan atau Natalan.

 

2.    Ruang Lingkup

 Penelusuran jejak keturunan secara keseluruhan dalam Kerabat Kartowiryo sudah dalam tingkat “Canggah”. 

Kendala kesulitan terjadi pada identifikasi detail terhadap keluarga yang secara kebetulan merantau ke P. Sumatera, sehingga data tidak bisa secara utuh menyajikan data keluarga sampai pada anak cucu “canggah/anak buyut”.

Diharapkan tulisan ini dapat menjadi bahan penelusuran bagi siapa saja yang menjumpai Blog ini untuk menjalin tali silaturahmi yang lebih akrab dalam kerangka pembinaan keakraban antar keturunan Trah Posong.

 


3.    Referensi

         Penelusuran Kerabat Kartowiryo dilakukan dengan wawancara kekeluargaan terhadap Mbah Sahli Slamet Dampit – Mertoyudan (2006). Beliau ini terlihat sangat kuat ingatannya dalam merekam peristiwa-peristiwa masa lalu dan merupakan Pelaku Sejarah yang disegani dalam kerabatnya. Nama-nama pelaku sejarah untuk referensi pendataan adalah sbb :
a)    Mbah Sahli Slamet, Dampit Mertoyudan (2006)
b)    Bapak saya Pak Guru Samidi, Margowangsan (2009)
c)    Pak Lik saya Pak Sugeng, Purwokerto (1991)
d)    Pak Turmudi, Tangerang (2013)


4.    Penuturan Pinisepuh Sekitar Kerabat Kartowiryo 

Silsilah Trah Karto Wiryo, 1890 - 1940

 Canggah Kartowiryo adalah Anak sulung dari 9 bersaudara. Beliau bermukim di Dusun Margowangsan, sebelah selatan Dusun Posong.  


Ada apa dengan ilmu kanuragan?
       Jika zaman sekarang ketokohan ditunjukkan dari derajat formal sebagai Pejabat Negara, Pajabat Perusahaan Negara atau Swasta serta kesuksesannya dalam kewirausahaannya, maka kala itu ketokohan seseorang ditunjukkan dari kemampuannya oleh kanuragan dan kepiawaiannya menggaet Artis Tradisional (Ledek). Dikisahkan, bahwa suatu saat Mbah Karto menonton wayang kulit di Surabaya yang sebagian besar penontonnya adalah orang Madura. Pada saat Ki Dalang menampilkan Raja Mandura (Baladewa), maka adat orang Madura jika Baladewa dimainkan, maka seluruh penonton yang semula pada berdiri harus duduk, menghormati Sang Wayang Idolanya. Nah, Mbah Kartowiryo tidak mau duduk, maka seketika itu dihakimi massa dengan menggunakan senjata aslinya Clurit. Berkat keampuhan ilmunya, maka Mbah Karto tidak lecet sedikitpun dan massa pada mundur melihat manusia yang dikeroyok massa dengan senjata tajam kok tidak mati. Masih banyak lagi kisah-kisah yang tidak ditulis disini menyangkut sepak terjang peri kehidupannya Mbah Kartowiryo dan anak-anaknya yang masih menyukai ilmu kanuragan tersebut diatas. Silahkan disimak Bagan 4. Kerabat Kartowiryo.




Mbah Setro Saiman mempunyai 6 anak yaitu :
 Mbah Irah/Ngadinem (Gangsan) yang menurunkan Samidi (Gangsan), Kuru (Dampit), Sugeng (Purwokerto):
  1. Mbah Urip (Banyakan, Mertoyudan) tidak ada keturunan;
  2. Mbah Djuweni (Lampung), menurunkan Sukri (Lmpg), Sukir (Lmp), Suroso (Lmp)
  3. Mbah Slamet Sahli (Dampit), menurunkan Melik (Dampit, Melok (Purwokerto), Siswono (Purbalingga) dan Siswanto (Jakarta).
  4. Mbah Amin Udotaruno, menurunkan Siti (Jakarta), Suyatmi (Jakarta), Sukarni (Jakarta), Sarmini (Jakarta), Suyono (Bendan), Sudari (Padang) dan Sugi (Bendan)
  5. Kimpul, menurunkan Sudadi (Jakarta)


Keluarga Mbah Kartowiryo ini tersebar mulai dari Dusun Gangsan, Bendan, Mertoyudan, Lampung dan keluarga terbesar di Jakarta dari keluarga Mbah Amin Udotaruno. 
Silsilah Trah Setro Saiman 1930 - 1960
Pada tahun 2010, dari 6 bersaudara tersebut diatas yang masih sugeng tinggal Mbah Amin pada usia sekitar 90 tahun (kelahiran tahun 1920). Dengan "agemanipun" dan falsafah hidup "simply living" narimo ing  pandum" beliau diberi kesehatan dan usia cukup panjang. Namun, semuanya adalah upaya dan takdir Allah, semoga dalam usianya yang panjang tetap didampingi dengan kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarganya, amin.  


Kami mengharapkan adanya masukan tanggapan terhadap diagram tersebut. Bisa jadi ada yang belum tercover atau kurang lengkap. Llebih indah lagi jika ada keluarga yang memberikan masukan model IT yang bisa meningkatkan penampilan atau memudahkan akses komunikasi kepada seluruh keluarga besar.

Kerabat lainnya dari Kerabat Setro Saiman seperti Silsilah Mbah Selar dan Mbah Tambeng (Istri Mbah Supo Taruno) akan ditampilkan pada Tulisan berikutnya.

Catatan :
Adapun Kerabat Setro Saiman yang masih gelap belum bisa ditampilkan adalah Kerabat Mbah Darmin Gondang Lor Kec. Mungkid.


Berlanjut ke Tulisan berikutnya




POSONG SAGOTRAH (4)

PENELUSURAN TRAH SELAR

Penelusuran Posong Sagotrah pada Trah Selar sama dengan Petunjuk penelusuran Trah Kartowiryo yang sebagian besar berdomisili di Dusun Magowangsan. Trah Selar berasal dari Jalur Induk Posong yang merupakan anak sulung dari 6 (enam) orang anak Mbah Setro Saiman.

Saya tulis ulang, generasi pertama Jalur Induk Posong :
Jalur Kerabat mBah Setro Saiman (Margowangsan/Gangsan)
(1)      mBah Selar (Gangsan) : Keluarga mbah Isah, Pak Guru Tris (Gangsan)
(2)     mBah Darmin (Gondang Lor) : Keluarga Sarmadi bapaknya Hermanto (Wonolobo)
(3)     mBah Sri (Talaman) : Keluarga mBah Jamal  (Talaman)
(4)     mBah Kartowiryo (Gangsan) : Keluarga Pak Guru Samidi (Gangsan)
(5)     mBah Rus (Gangsan) : Hilang pada jaman perang kemerdekaan
(6)     mBah Tambeng (Gangsan) : Keluarga mBah Supo/mBah Minem (Gangsan)

Trah Selar menempati keluarga paling besar di dusun Margowangsan dan Kecamatan Sawangan, yaitu Famili Mbah Ali/Isah adalah Keluarga Pak Guru Sutrisno, Bu Guru Sadiyah (almh), Bu Saidah (almh), Pak Guru Sukasah, Pak Sarno, Pak Suparto, periksa pohon keturunan (silsilah). Dari Famili Mbah Marsan adalah Pak Guru Sumadi, Pak Turmudi (Jkt), Pak Rahmat (alm) dan Nedi. Dari Famili Mbah Marjono adalah Pak Suwito (Bdg). Lainnya, berdomisili di Kiyudan, Talaman, Banjengan (Dukun).

Keluarga Mbah Isah (Gangsan)

Di Jakarta, Trah Selar meliputi brayat Mbah Marsan yaitu keluarga Pak Dulrahman (alm) di Bintaro, famili Pak Turmudi di Komplek Merpati Mas, Tangerang. Famili dari Mbah Ali adalah Tri Yanjono (Guru SMA Kemurnian, Cengkareng).

Bersambung ke tulisan berikutnya.





 POSONG SAGOTRAH (5)
Penelusuran Trah Selar (Sulung) & Trah Tambeng
Penelusuran Posong Sagotrah pada Trah Selar dan Trah Tambeng kuranglebih  sama dengan Petunjuk penelusuran Trah Kartowiryo yang sebagian besar berdomisili di dusun Magowangsan. Trah Selar berasal dari Jalur Induk Posong yang merupakan anak sulung dan Trah Tambeng adalah anak bungsu dari 6 (enam) orang anak Mbah Setro Saiman.

Saya tulis ulang, generasi pertama Jalur Induk Posong :

Jalur Kerabat mBah Kartowiryo (Margowangsan/Gangsan)
(1)      mBah Selar (Gangsan) : Keluarga mbah Isah, Pak Guru Tris (Gangsan)
(2)     mBah Darmin (Gondang Lor) : Keluarga Mbah Guru Suharto (Gondang Lor), Pak Sarmadi (Wonolobo)
(3)     mBah Sri (Talaman) : Keluarga mBah Jamal (Talaman), Mbah Sri (Gangsan) dari suami kedua Rambianak dan (pm, Kiyudan) dari suami pertama.
(4)     mBah Setro Saiman (Gangsan) : Keluarga Pak Guru Samidi (Gangsan)
(5)     mBah Rus (Gangsan) : Hilang pada jaman perang kemerdekaan
(6)     mBah Tambeng/Isteri Mabh Supo Taruno (Gangsan) : Keluarga mBah Supo/mBah Minem (Gangsan)

  1.  Trah Selar :
 
Trah Selar, Margowangsan











Trah Selar menempati keluarga paling besar di Kec. Sawangan. Mbah Selar mempunyai 3 (tiga) orang anak dan 18 (delapan belas) cucu, meliputi :

a)    Famili Mbah Ali/Isah, mempunyai 10 orang anak meliputi :
1.     Isah (Talaman), tidak ada anak
2.    Dulsujak (Talaman), 7 anak (Jilin, Trimah, Tinah, Sarno, Ning, Heru, Kun)
3.    Nah (Sukorini), Pm
4.    Yaminah (Dukun), Pm
5.    Suparto (Gangsan), 4 anak (Haryanto, Sri, Tutik, Tari)
6.    Sutrisno (Gangsan), 4 anak (Heny, Yanjono, Agus, Rahmat)
7.    Marsidah (Gangsan), 2 anak (Sis, Sus)
8.    Sadiyah (Gngsan, almh), anak tunggal (Kantri)
9.    Sukasah (Gangsan), 2 anak (Gunawan, Rini)
10. Marisah (Sawangan), 3 anak (Anto, Wawan, Uut)

b)   Famili Mbah Marjono, mempunyai anak tunggal yaitu Pak Suwito (Bdg).

c)    Famili Mbah Marsan (Mbah Mah), mempunyai 7 orang anak meliputi :
1.     Ahmad (Gangsan), 6 anak (Waliyah, Bitri, Budi, Wiwin, Ambar, Agus)
2.    Turmudi (Gangsan), 5 anak (Widaryadi/Ti, Budi, Junaedi, Ning, Joko)
3.    Sumadi/Sadiyah (Gangsan), anak tunggal (Kantri)
4.    Din (Sumbar), anak tunggal (Sumi)
5.    Dulrahman (Bendan), 3 anak (Arif, Nia, Rahman)
6.    Sumrihati (Kiyudan), 3 anak (Ita, Agus, Risa)
7.    Ari (Banjengan), 3 anak (Rin, Nanang, Andi)

Periksa pohon keturunan (Silsilah Trah Selar).
 Keluarga Mbah Buyut Selar dengan 3 anaknya ini sekarang sudah sangat banyak dan ntersebar mulai dari Dusun Gangsan sendiri, Talaman, Kiyudan, Banjengan (Dukun) dan Jakarta.













B. Trah Tambeng/Supo Taruno
Nama Tambeng diambil dari anak sulung yang bernama “Said” tetapi keluarga menyebutnya “Tambeng”, sehingga orangtuanya dipanggil Mbah Tambeng.

Anak bungsu Mbah Setro Saiman ini mempunyai 6 (enam) anak dan sebagian besar merantau keluar dari Dusun Margowangsan, meliputi :

a)    Famili Mbah Said atau Tambeng (Lampung) mempunyai 3 anak (Surti, Semarang), Sir (Semarang), Surahmat (Purwokerto), Siti (Semarang)
Keluarga Mbah Said, jarang menengok kampong halamannya di Gangsan, sehingga dalam tulisan ini belum tertulis.
b)   Famili Mbah Hilal (Muntilan), 2 anak (Din, Jumrodah) keduanya di Muntilan.
c)    Famili Mbah Minem (Gangsan), anak tunggal (Teguh) di Madiun
d)   Famili Mbah Tamyis (Salatiga), 3 anak yaitu Sumi (Gangsan), Tamyis (Salatiga), Dalmini (Gangsan).
e)   Famili Nap (Madiun), 3 anak yaitu Tatik/Teguh (Madiun), Agus (Madiun), Singgih (Muntilan).

Periksa pohon keturunan (Silsilah Trah Tambeng).

Demikian penampilan Posong Sagotrah (5), kepada pemirsa yang secara kebetulan membaca dan ada sesuatu yang kurang sempurna pada tulisan dan Diagram Pohon Keturunan tersebut diatas, mohon koreksi untuk kesempurnaan tulisan. 


Dari diagram Trah diatas, kami sangat berharap ada tanggapan yang bisa jadi salah tulis, kurang lengkap, dan lain-lain untuk menyempurnakan tulisan lebih lanjut.

Kepada Bapak saya (Pak Guru Samidi), Pakde Turmudi di Tangerang, Mbah Minem di Gangsan dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penyusunan diagram silsilah, saya dan keluarga menyampaikan apresiasi yang tinggi dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

Semoga bermanfaat.
Jakarta, September 2010  






Kumpul Brayat Lintas Generasi di Semarang, 
27 Desember 2014




Kumpul Brayat Trah Posong di rumah mbak Antin Jln. Imam Bonjol bulan Desember 2014 di rumah mbak Antin (Sundari) Semarang adalah kumppul brayat yang ke-4 (kurang faham). Luar biasa, kumpulan dihadiri sesepuh yang sudah sepuh-sepuh, generasi ke-2, ke-3, ke-4 dan ke-5 dari Induk Trah Posong subhanallah.

Mbah Buyut Murman (putri) adalah  satu-satunya  generasi ke-2 dari Induk Trah yang masih sugeng. Saya menyebut mBah Buyut dengan beliau (foto disamping), alhamdulillah pinaringan yuswo 95 tahun dan kondisinya masih segar bugar dan paningalipun jernih. Beliau melahirkan 8 (delapan) putra dan putri  dan hadir pada kumpul-kumpul ini, sbb :
  1. Bu Titik (SMg)
  2. Bu Carolina (Bekasi)
  3. Romo Iwan (Smg)
  4. Bu Murtiningsih (Kebumen)
  5. Romo Riyo Mursanto (Smg)
  6. Bu Muryanti (Antin) (Smg)
  7. Pak Indro (Yogya)
  8. Mbah Muk dan Saya
  9. Bu Wulandari (Bu nDari,  Jkt) 
Kumpul brayat Posong kali bisa dikatakan kumpul Canggah Kartodiryo Generasi-I dari Induk Trah. Mengulang kembali tulisan terdahulu, Canggah Kartodiryo adalah anak ke-4 dari Induk Trah yang mempunyai 11 anak sbb :
  1. Mbah Buyut Rumini (Lampung)
  2. Mbah Buyut Mangun ndalan (Butuh)
  3. Mbah Buyut Mul (Mungkidan)
  4. Mbah Buyut Madi (Gunung Sewu -Tanggamus - Lampung)
  5. Mbah Buyut Parto (Posong)
  6. Mbah Buyut Sardi (Purworejo)
  7. Mbah Buyut Murman (Mgl)
  8. Mbah Buyut Muryam (Kebokuning)
  9. Mbah Buyut Samini (Tampir Kulon)
  10. Mbah Buyut Parinem/Mbah Guru (Posong)
  11. Mbah Buyut Suminem (Posong)
 Kumpul brayat di Semarang yang hampir lengkap kedua adalah Brayat Mbah Parinem, kecuali keluarga Mbah Widiyanto (alm) di Malang. Keluarga Mbah Parinem mempunyai 5 keturunan sbb : 
  1. Mbah Widiyanto (alm) Malang
  2. Keluarga Mbah Hariyanto (Smg)
  3. Keluarga Mbah Hartatik (Posong)
  4. Keluarga Mbah Hari (Smg)
  5. Keluarga Mbah Harjanto Slamet /Muk (Smg) 
 
Mbah Carilne & Kerabat Mbah Guru Parinem











Kembali ke pembicaraan ke Sorosilah Induk, bahwa Induk Trah Posong adalah 3 bersaudara dengan Induk Trah Kuncen dan Gading. Induk Trah Posong mempunyai 9 keturunan meliputi :
  1. Canggah Kartowiryo, 6 keturunan (Margowangsan, Gondang lor, Talaman)
  2. Canggah Joyo,  4 keturunan (Bendan, Butuh, Kebokuning)
  3. Canggah Kartodiryo, 11 keturunan (tsb diatas)
  4. Canggah Kartorejo, 5 keturunan (Posong, Bantul, Magelang, Purworejo)
  5. Canggah Popongan, 1 keturunan (Popongan)
  6. Canggah Mawungan, (belum terkonfirmasi sambungan dgn Mbah Sastro Rame Gunung Lemah)
  7. Canggah Niti Plalangan, (belum terkonfirmasi keberadaannya)
  8. Canggah Pawiro (Gading), 6 keturunan (Jetis Kaliwungu, Gading, Bengan Lor, Yogya) 
  9. Canggah Kartodimejo/Mbah Lurah, 3 keturunan (Ngaglik nduwur, Ngaglik ngisor, Talun)

Kumpul brayat tangggal 27 Desember 2014 di Semarang dihadiri 3 Canggah :
  1. Canggah Kartowiryo diwakili saya sendiri dari Brayat Canggah Kartowiryo - Buyut Setro Saiman, Mbah Ngadinem - Margowangsan.
  2. Canggah Mawungan (Pm Pak Sastro Rame - Gunung Lemah)
  3. Canggah Kartodiryo diwakili oleh 6 Buyut sbb :
  • Buyut Murman seperti tersebut diatas, 
  • Buyut Mul diwakili oleh Sapto (Mungkidan),
  • Buyut Parto : Keluarga Mbah Tris (Yogya), Nana, Joko (Jkt), 
  • Buyut Parinem : Keluarga Mbah Yan, Mbah Hari dan Mbah Muk (Smg), 
  • Buyut Samini :  Keluarga Mbah Rubiyoto(Tampir Kulon) dan 
  • Buyut Suminem : Keluarga Mbah Projo (Posong).

Semoga upaya "ngumpulke balung pisah" Trah Posong dapat terwujud, amin.


 Alon-alon sambil membina tali silaturohim, sambil mencari bentuk komunitas.

Keluarga Mbah Buyut Mul (Sapto), Buyut Setro Saiman (saya), dll

Keluarga Mbah Tris dan Mabh Suti Posong




Mbah Sutrisno & Mbah Hari



Foto Lintas Generasi, Buyut, anak, cucu,cicit


Keluarga MbahBuyut Parinem









Keluarga MbahBuyut Samini/Mbah Rubiyoto


Keluarga Mbah Sulisah/Pak Tikno Mertoyudan







 


Bulik Nana (Jkt), Nunu (GnLemah), dll

Catatan : 
  • Tulisan ini pasti banyak yang belum masuk, jauh dari lengkap. Sumonggo dipun koreksi untuk mnyambung dan mempererat tali silaturahim.
  • Kisah-kisah leluhur kalau ada yang punya, silahkan tentunya yang baik-baik saja. Seperti diketahui bersama bahwa Brayat Kartowiryo Margowangsan pernah mengalami masa heroik pada zamannya walaupun termasuk agak kurang etis ditampilkan (pernah saya singgung pada Tulisan sebelumnya).



Kumpul Brayat di Cilandak, Juni 2014



Kumpul Brayat Trah Posong baru dimulai beberapa bulan di tahun 2014. Saya bergabung dalam kumpul brayat dari anak keturunan Karto Diryo Posong yang mempunyai 11 anak. Posisi saya diluar brayat tsb karena saya berasal dari brayat Karto Wiryo Gangsan anak pertama dari Induk Trah Posong.

Kumpul Brayat di Cilandak kali ini sebagian besar dihadiri dari Brayat Karto Diryo Posong. Brayat lain yang hadir ada dari Brayat Kartowiryo Gangsan, Karto Dimejo Posong (Mas Eddy mBulu turunan Mbah Pawiro Gempol Ngaglik ngisor), Brayat Mbah Parinem, Mbah Parto, Mbah Murman, Mbah Muryam.

Kegiatan dalam bentuk Arisan yang dilaksankan setiap 3 (tiga) bulan sekali. Foto diatas diambil pada saat  kumpulan di Rumah Bapak Riyadi / Mbak Nana putra mbak Suti wayah Mbah Parto Posong di Cilandak - Pasar Minggu tgl. 22 Juni 2014 yang dihadiri oleh 35 orang. 

Terus terang saya mengucapkan banyak terimakasih atas diundangnya saya dalam Kumpul Brayat kali ini. Betapa tidak, saya tidak faham satu dengan lainnya yang hadi kecuali dengan Mbak Nana dan Mas Edy Mbulu. Mungkin karena merasa satu darah, maka pertemuan yang dimulai dengan perkenalan seperti mengenal orang asing pun berubah menjadi percakapan "rinaketan sedulur cedak". Percakapan mulai dari mengurut nama orang tua, mbah-mbah, paman, sesepuh yang masih di kampung, tempat tinggal, posisi rumah di kampung, pekerjaan, saudara dan perkembangan kampung saat ini.  

Pembicaraan untuk pertama kali bertemu pasti masih memilih dan memilah mana yang sekiranya enak didengar dan santun diutarakan. Ada satu kata yang tersimpan dalam benak masing-masing yaitu niat ingin menyatukan sanak keluarga sedarah yang sudah terserak kemanpun arahnya "ngumpulke balung pisah" yang semula sudah tidak tahu dimana dan kemana mereka hidup dalam mencari penghidupan masing-masing. Tentunya hidup menuruti nasib adalah kehendak Yang Kuasa. Ada yang menjadi Pemimpin dan Tokoh Agama, ada yang menjadi Pejabat, ada yang berprofesi sebagai guru, pekerja atau karyawan dan lain sebagainya. Syukur alhamdulillah diantara mereka tidak ada yang merasa "aku" yang lebih baik darimu, tetapi aku adalah sedarah, nunggal Induk, Trah Posong.


Semoga dapat ngremboko dan dilestarikan oleh generasi sekarang dan berikutnya.

Amin. 



KEMPAL BRAYAT 14 JUNI 2015
DI RUMAH MBAK BUDI (LAMPUNG) DI BEKASI  

Kempal Brayat kali ini dilaksanakan di Rumah mBak Budi (Lampung) di Komplek Perumahan Pondok Pekayon Indah XI/30. Posisi rumah bisa ditempuh dari Tangerang melalui Tol dalam kota lanjut Tol Cikampek, keluar di pintu Bekasi Barat.  Begitu keluar tol ketemu prapatan di depan Mal Bekasi Raya belok kekanan melangkahi jalan Tol Cawang - Cikampek. Dari posisi itu ketemu prapatan belok kekanan lurus ketemu Naga Mall, lurus sekitar 200 M di sebelah kanan ada Gerbang Pondok Pekayon Indah. 

Begitu masuk komplek perumahan, jalan mentok ketemu Jln Ketapang XIII belok kekanan dan diurut sebelah kanan akan ketemu Ketapang XI, posisi rumah di Pojok Ketapang XI.   
 

Anggota yang hadir cukup banyak sekitar 30 orang.

Putro-wayah Brayat Kartowiryo : Saya sendiri

Putro-wayah Brayat Kartodiryo yang hadir :
Buyut Parto Posong         :  Keluarga Mbak Nana, Mas Joko (Jkt)
Buyut Murman Semarang : Keluarga Kanjeng Mami Carolina (Bekasi selatan); Mas Indro (Jakarta)
Buyut Mangun Butuh Kulon : Keluarga Supriadi (Tangerang)
Buyut Samini Tampir Kulon : Mbak Tutik dan Cs (Bogor)
Buyut Madi Lampung          : Mbak Budi (pemilik rumah)

Acara cukup meriah dengan acara pokok arisan, sekedar sarana pengikat saja.

Pada masa perintisan dengan misi "ngumpulke balung pisah", perlu kehati-hatian mengingat sebelumnya satu dengan yang lain tidak saling kenal. Bersyukur bahwa masing-masing menyadari tanpa paksaan berasal dari Trah Posong.

Ada modal dasar yang cukup kuat untuk dapat dikembangkan menjadi lebih besar dan bermakna dalam menjalin tali silaturahim, yaitu "pengakuan diri berasal dari Trah Posong". Tentunya  konsolidasi sampai ke tahap "terorganisasi" akan memakan waktu cukup lama. Acara guyon, sekedar ketemu, salaman kehadiran dan salaman selamat jalan adalah sederhana namun mempunyai makna yang cukup besar. Forum perlu mengambangkan "spirit hadir" pada setiap acara serupa dan acara-acara penting lainnya yang terjadi pada masing-masing warga.
 Sumonggo pelan-pelan, sambil memperbaiki sistem komunikasi lewat media sosial WhattsApp, Group BBM dan saling sapa per telepon, kita berdo'a semoga perkumpulan akan berkembang semakin besar dan lebih bermakna lagi. Insya allah.
Rahayu ingkang pinanggih wonten ing kempal brayat ingkang bade dhateng, wulan September 2015. 
Nuwun 








2 Apr 2015

Batu Akik






Akik adalah salah satu jenis batu permata, yang merupakan sebuah mineral, batu yang dibentuk dari hasil proses geologi yang unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen kimia yang mempunyai harga jual tinggi, dan diminati oleh para kolektor. Batu permata harus dipoles sebelum dijadikan perhiasan (Wikipedia, 2010).


Di dunia ini tidak semua tempat mengandung batu permata. Di Indonesia hanya beberapa tempat yang mengandung batu permata antara lain di provinsi Banten dengan Kalimayanya, di Lampung dengan batu jenis-jenis anggur yang menawan dan jenis cempaka,di Pulau Kalimantan dengan Kecubungnya (amethys) dan Intan (berlian).

Permata yang paling diminati di dunia adalah yang berkristal yang selain jenis batu mulia seperti Berlian, Zamrud, Ruby dan Safir, batu-batu akik jenis anggur seperti Biru Langit, bungur atau kecubung.



Bahan Batu Giok

Beberapa macam batu permata






Tips Memilih Batu Akik




Memilih batu akik berkualitas tidak sederhana, diperlukan keterampilan dan kejelian yang diperoleh dengan cara latihan memeriksa secara terus-menerus untuk menajamkan tingkat kejeliannya.

Batu mulia, akik ataupun batu cincin dibuat dengan ukuran yang tidak besar, oleh sebab itu tentu memilih batu akik membutuhkan tingkat kejelian serta kecermatan dalam memeriksa secara detail.

Batu yang memiliki kualitas super apalagi kristal dengan penampakan yang terkesan basah dan berair umumnya memang dibanderol dengan harga yang cukup mahal, bahkan beberapa diantara jenis-jenis batu akik tertentu bisa dihargai hingga ratusan juta rupiah.



Bahan Batu Bacan sebelum digosok menjadi Akik
Untuk pemula, disarankan sebaiknya membeli batu cincin yang sudah jadi ketimbang membeli batu yang masih berupa bahan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Resiko terberatnya memilih batu dari bahan dasar bisa batu hancur saat dalam proses pemotongan pada saat pembentukan sehingga penampilannya akan terlihat kurang maksimal.



Meskipun dengan membeli batu yang sudah jadi akan mengurangi resiko saat memilih dan cara membedakan batu akik/batu mulia asli dan batu akik/batu mulia palsu, namun ada hal-hal lain yang sepatutnya bisa menjadi semacam parameter atau ukuran saat membeli batu yang sudah jadi. Apa saja yang perlu diperhatikan?. Berikut adalah cara memilih batu akik, batu mulia dan batu cincin berkualitas baik yang dapat Anda lakukan, terlebih lagi jika Anda berbelanja secara online via internet.



Ada 4 panduan dasar dalam memilih mana batu akik berkualitas dan mana batu akik yang tidak berkualitas, yaitu dengan 4 C (Color, Clarity, Cut dan Carat). 4 hal inilah yang dapat menjadi dasar pada saat Anda memilih sebuah batu.

Blue safir dihargai Rp.90 juta


Color (color)

Pastikan batu akik memiliki warna yang tajam dan menarik (eye-catching). Semakin tajam kedalaman warnanya, maka kualitas batu tersebut semakin baik.



Clarity (tingkat kejernihan/kecerahan batu)

Pastikan jika batu akik memiliki warna yang jernih, tembus cahaya (beberapa jenis batu) dan memiliki tekstur mengkilap seperti kristal. Meskipun dengan tingkat kejernihan yang tinggi, tidak ada batu asli yang bisa mulus dan sempurna 100%. Batu akik asli akan selalu memiliki inklusi atau ketidaksempurnaan yang merupakan pola alami dari batu akik meskipun hanya berupa titik.



Bahan Akik Rubi
Cut (bentuk potongan batu)

Perhatikan bentuk potongan batu akik secara seksama baik dari tingkat presisi ukuran maupun jenis potongannya. Carilah bentuk dengan potongan yang simetris baik tinggi, panjang maupun lebarnya. Beberapa batu dapat memiliki pakemnya sendiri dalam urusan bentuk, misalnya batu bacan yang cenderung memiliki pola model potongan yang disukai pria yaitu dengan pola oval cabochon yang cenderung tebal guna memaksimalkan keindahannya. Diamond atau berlian yang memiliki potongan brilliant cut yang menjadi bentuk standar berlian agar dapat memiliki kemilau.

Rubi Red Pigeon seharga Rp.37 juta


Carat (ukuran berat atau volume).

Sebelum membeli batu akik, sebaiknya Anda juga memperhatikan kesesuaian beratnya. Beberapa batu seperti bacan atau chalcedony memang cenderung lebih berat karena memiliki material berupa logam (ferium) yang terdapat didalamnya. Metode ini juga bisa meminimalisir Anda dari kemungkinan mendapatkan batu akik yang palsu (terbuat dari kaca) sebab material batu buatan pasti akan jauh lebih ringan daripada batu.



Untuk bisa memahami 4 C tersebut diatas perlu latihan pemahaman yang cukup, tidak sekedar membaca buku langsung bisa memilih.





Batu Akik Bertuah



Batu Giok Aceh yg bikin heboh
Cara memilih batu akik tersebut diatas adalah dalam arti fisik alami untuk mendapatkan batu akik. Namun ada sebagian masyarakat yang mempercayai adanya kekuatan di dalamnya, akik bisa didapat dari berbagai macam yang tidak lazim seperti halnya harus menjalani ritual puasa, harus tirakat, harus mengalahkan si penunggu akik, mendapatkan dari muntahan hewan, mengambil diatas kepala ular, dsb.

Setelah mendapatkan akik dengan cara tersebut diatas, tidak serta merta akik terus dibuatkan pegangan, cincin tetapi justru disimpan di suatu tempat dibungkus mori, bahkan ada yang dimasukkan ke dalam bagian tubuhnya sebagai “jimat”.



Batu Akik Lumut Sumbar
Sebagian masyarakat ada yang mempromosikan penjualan akik dengan harga selangit melalui tes kedigdayaan dengan cara akik diikatkan pada seekor ayam dan ayam ditembak, kalau ayam tidak mati, maka harga akik dipasang dengan harga selangit.



Bahkan sebagian masyarakat ada yang mengupayakan untuk dimasuki “khodam” yang menjadi tempat makhluk tertentu berada di dalamnya, sehingga disamping bernilai estetis juga dapat meningkatkan pengaruhnya terhadap psikologi seseorang.



Ekses yang tidak lazim adalah penipuan terhadap pengguna akik yang tidak faham batu akik, misalnya membuat batu tiruan (sintetis) seakan-akan sama dengan batu akik. Ada juga yang berpura-pura sebagai seorang “dukun” memberikan sebuah akik kepada muridnya sebagai tanda telah ditransfernya kesaktian dari si dukun kepada muridnya. Dan masih banyak lagi ekses dari batu akik. 


Batu Langka dari Mikroba

Jala Sutera Emas Sebelum dibentuk
Batu Jala Sutara Emas adalah batuan fosil mikroba yang mati dan terbentuk akibat polusi kehidupan pantai oleh lava gunung berapi yang terjadi berjuta-juta tahun yang lalu. Mikroba mati dan berkumpul menjadi satu membentuk bulatan bercampur lumpur kemudian mengenai lava yang terbungkus pirit, batuan besi berwarna keemasan (badar emas) kemudian mengeras dan tertimbun tanah. 

Koleksi batuan unik menraik dan langka ini dapat dipoles  menjadi batu akik yang menarik karena memiliki motif unik seperti batuan pyrus hitam dengan urat emas. Ukuran rata-rata 4 x 3 x 2 Cm yang dapat dijadikan ukuran akik yang menawan, seperti pada gambar dibawah.



 
Akik Jala Sutera Emas setelah dibentuk

Manfaat Batu Bertuah
Bagi yang mempercayai, batu bertuah bisa digunakan untuk :
  • Kanuragan atau kesaktian
  • Pengantar penyembuhan orang sakit
  • Ajimat pengasihan, maksudnya bagi pemakainya akan disayang orang lain
  • Membawa keberuntungan / rejeki
  • Awet muda
  • Keselamatan
  • dll
Batu bertuah tidak bersertifikat, hanya dipercayai kalau barang itu ada menfaatnya. Batu bertuah dinyatakan "ampuh" berkhasiat bagi pemiliknya hanya bisa dideteksi oleh paranormal yang ahli dalam bidang mistis. Khasiat batu bertuah tidak bisa dianalisis melalui uji fisik dan telaah scientifical, tetapi bisa dilihat bukti fakta yang telah terjadi pada pemakainya.

Sertifikasi Batu Mulia 
Badan Sertifikasi batu mulia memiliki "laboratorium gemonologi" yang memperkerjakan tanaga profesional dalam ilmu geologi (ilmu batuan) yang disebut gemologist. Badan resmi pemerintah ini menguji keaslian batu mulia dan menerbitkan sertifikat, sehingga berguna bagi jual-beli batu mulia. Pembeli tidak lagi membeli batu mulia mendapatkan barang tiruan.

Sebaiknya jika anda memiliki batu mulia termasuk akik dari bahan alami, lebih baik disertifikatkan, sehingga bermanfaaat bilamana akan diperjual belikan bahkan untuk dijadikan harta warisan anda memiliki kejelasan barang yang bernilai jual tinggi. Bisa anda googling dimana alamat dan berapa biayanya untuk sertifikasi batu mulia.

Demam batu mulia khususnya akik melanda seluruh lapisan masyarakat. Bahkan, fenomena ini mulai merambah ke dunia maya, melalui lapak-lapak secara online. Agar tidak tertipu calon pembeli sebaiknya melakukan uji gemologi, tidak cukup melalui tes pandangan kasat mata saja. Soal tarif sertifikasi, semakin berharga kualitas batu, tarif semakin naik.

Oleh karena batu bisa diperjualbeilkan atau digadaikan, maka Perum Pegadaian juga memiliki Laboratorium Gemologi yang memperkerjakan tenaga profesional (gemologist) yang mengoperasikan peralatan berstandard internasional dari Gemological Institute of America. Namun tidak setiap Kantor Pegadaian memiliki Laboratorium Gemologi. Ada juga Laboratorium Gemologi milik Swasta dalam pengawasan Pemerintah. Untuk menghubungi Lab, bisa diakses lewat telepon, faximile, website atau media sosial facebook. 

Berikut daftar Lab Gemologi di seluruh Indonesia :

NU Lab.Kompleks Pegadaian
Jln Dukuh V, no 13
Kp Dukuh, Kramatjati, Jak-Tim
081357575710
http://www.facebook.com/nugroho.gemologist


GRI - GEM RESEARCH INTERNATIONAL LABORATORY
Batu ceper IV No.6L Jakarta pusat 10120 Indonesia
Phone:(021) 3510132
Fax: (021) 3510133
http://www.facebook.com/GRILabPage?ref=ts&fref=ts


IGL - INTERNATIONAL GEMOLOGICAL LABORATORY
Suite 16A, Menara Imperium
Metropolitan super blok, Kaveling no 1
HR Rasuna Said, Jakarta Pusat
Telp: 021-8354050
Fax:021-8354037
E-mail: igl@igl-asia.net
http://www.facebook.com/batumuliashop?fref=ts
http://www.facebook.com/igl.asia?fref=ts


AVIANNOOR GEMS LAB
JL. Sumatera 16
Widoro Baru, Condong Catur
Yogyakarta
Telp: +62-274-7495081
Hp: +62-81-34965722
Faks: +62-274-4581363
http://aviannoorgemslab.com/


AGL - Adamas Gemological Laboratory
Apartemen Istana Harmoni, Lt1/A-2,
Kompleks Harmoni Plaza, JL. Suryopranoto,
Jakarta Pusat 10130
Telp: +62-21-6305547/6397470
Faks: +62-21-6305546
http://www.agl-igp.com/


FLAMBOYANT GEM LAB
Gajah Mada Plaza, Lt.1 No.61
Jakarta Pusat
Telp: +62-21-6344547/6339058
Faks: +62-21-6344547


Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batumulia (LPSB)
JL. Achmad Yani No.22-D Km40
Martapura, 70614
Kalimantan Selatan
Telp/Faks: +62-511-4723230


Pusat Promosi Batumulia IndonesiaJL. Pajajaran 128
Bandung 40173
Telp: +62-22-6075855/6038712
Faks: +62-22-6038712
E-mail: miko@melsa.net.id


ACC Gem Lab
Surya Tehnologi Indonesia
MTH Square Lantai 1 Room 118-119
Jl. MT Haryono Kav. 10 Jakarta Timur
Phone : 085290155558


BIG LAB (Ben's International Gemological Laboratory)Jl.Gajah Mada No.19-26
Jakarta Pusat (Gajah Mada Plaza, Lt. 1 No.11)
Phone : (021) 63861666


PEGADAIAN G-Lab Jl Kramat Raya 162 Jakarta Pusat
Phone : (021)31555550

KGL (Kian's Gemological Laboratory)
Jl. Kunir No.6 , Surabaya 60175
Phone : +6231 353 1570



Referensi :
  1. Anonim, 2015, Wikipedia, Batu Mulia
  2. Anonim, 2015, Berbagai berita mass media
 
 


10 Feb 2015

Mengenal Tembang Mocopat

Gambar Lilang Laras Jiwo, 2012, Penampilan Gendhing Jati Kendang
Macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata, adalah karya sastra puisi tradisional Jawa yang dilagukan atau dalam bentuk tembang. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sanjak akhir yang disebut guru lagu (Wikipedia, 2003).
Di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam. Sedangkan di Jawa Tengah, macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga pada masa Mataram Islam.
Macapat ternyata ditemukan dalam kebudayaan selain di masyarakat Jawa dengan nama lain yaitu di masyarakat Sunda Bali, Sasak (Lombok) dan Madura. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula.
Konon maca-sa termasuk kategori tertua dan diciptakan oleh para Dewa dan diturunkan kepada pandita Walmiki dan diperbanyak oleh sang pujangga istana Yogiswara dari Kediri. Ternyata ini termasuk kategori yang sekarang disebut dengan nama tembang gedhé. Maca-ro termasuk tipe tembang gedhé di mana jumlah bait per pupuh bisa kurang dari empat sementara jumlah sukukata dalam setiap bait tidak selalu sama dan diciptakan oleh Yogiswara. Maca-tri atau kategori yang ketiga adalah tembang tengahan yang konon diciptakan oleh Resi Wiratmaka, pandita istana Janggala dan disempurnakan oleh Pangeran Panji Inokartapati dan saudaranya. Dan akhirnya, macapat atau tembang cilik diciptakan oleh Sunan Bonang dan diturunkan kepada semua wali.
Karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa Mataram Islam, pada umumnya ditulis menggunakan pola susunan kata dalam baris puisi (metrum) macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya semacam 'daftar isi' saja.
Beberapa contoh karya sastra Jawa adiluhung yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat Wedhatama (Mangkunegara-IV, 1880), Serat Wulangreh (Paku Buwana-IV, 1820) dan Serat Kalatidha (Paku Buwana -VI, 1830).


Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi tiga macam :
  • tembang cilik,
  • tembang tengahan dan
  • tembang gedhé.
Macapat dimasukkan kepada kepada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan, sementara tembang gedhé berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, namun dalam penggunaannya pada masa Mataram Islam, tidak diterapkan perbedaan antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan.
Kalau dibandingkan dengan kakawin, aturan-aturan dalam macapat berbeda dan lebih mudah diterapkan menggunakan bahasa Jawa karena berbeda dengan kakawin yang didasarkan pada bahasa Sanskerta, dalam macapat perbedaan antara suku kata panjang dan pendek diabaikan.

Struktur macapat

Sebuah karya sastra macapat biasanya dibagi menjadi beberapa pupuh, sementara setiap pupuh dibagi menjadi beberapa pada.Setiap pupuh menggunakan metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak isi teks yang diceritakan.
 
Jumlah pada per pupuh berbeda-beda, tergantung terhadap jumlah teks yang digunakan. Sementara setiap pada dibagi lagi menjadi larik atau gatra. Sementara setiap larik atau gatra ini dibagi lagi menjadi suku kata atau wanda. Setiap gatra jadi memiliki jumlah suku kata yang tetap dan berakhir dengan sebuah vokal yang sama pula.


Aturan mengenai penggunaan jumlah suku kata ini diberi nama guru wilangan. Sementara aturan pemakaian vokal akhir setiap larik atau gatra diberi nama guru lagu.

Jenis metrum macapat

Jumlah metrum baku macapat ada limabelas buah. Lalu metrum-metrum ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhé.
Kategori tembang cilik memuat sembilan metrum, tembang tengahan enam metrum dan tembang gedhé satu metrum.
Jenis tembang Macapat 11 buah sbb :
1. Pucung : 4 gatra (12u, 6u, 8i, 12a)
2. Maskumambang : 4 gatra (12i, 6a, 8i, 8a)
3. Gambuh : 5 gatra (7u, 10u, 12i, 8u,8o)
4. Megatruh : 5 gatra (12u, 8i, 8u, 8i, 8o)
5. Mijil : 6 gatra (10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u)
6. Kinanthi : 6 gatra (8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i)
7. Durma : 7 gatra (12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i)
8. Pangkur : 7 gatra (8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i)
9. Asmaradana : 7 gatra (8i, 8a, 8e, 8a, 7a, 8u, 8a)
10. Sinom : 9 gatra (8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a)
11. Dhandhanggula : 10 gatra (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12e, 7a)



Di bawah ini disajikan contoh-contoh penggunaan setiap metrum macapat dalam bahasa Jawa beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Dijelaskan pula tokoh penciptanya menurut legenda dan watak setiap metrum

1. Dhandhanggula (Serat Jayalengkara, 10 gatra)

Prajêng Medhang Kamulan winarni, 10i
narèndrâdi Sri Jayalengkara, 10a
kang jumeneng nerpatiné, 8e
ambek santa budi alus, 7u
nata dibya putus ing niti, 9i
asih ing wadya tantra, 7a
paramartêng wadu, 6u
widagdêng mring kasudiran, 8a
sida sedya putus ing agal lan alit, 12i
tan kènger ing aksara. 7a




2. Maskumambang (4 gatra)

Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis, 12i
Sambaté mlas arsa, 6a
Luhnya marawayan mili, 8i
Gung tinamêng astanira, 8a

3. Sinom (9 gatra), Serat Kalatidha

Mangkya darajating praja, 8a
Kawuryan wus sunyaruri, 8i
Rurah pangrehing ukara, 8a
Karana tanpa palupi, 8i
Atilar silastuti, 7i
Sujana sarjana kelu, 8u
Kalulun kalatidha, 7a
Tidhem tandanging dumadi, 8i
Hardayengrat dening hardening rubeda, 12a

4. Asmaradana (7 gatra)

Aja turu soré kaki, 8i
Ana Déwa nganglang jagad, 8i
Nyangking bokor kencanané, 8e
Isine donga tetulak, 8a
Sandhang kelawan pangan, 7a
Yaiku bagéyanipun, 8u
Wong melek sabar narima.8a


5. Kinanthi (6 gatra) Serat Rama gubahan Yasadipura, metrum ini konon diciptakan oleh Sultan Adi Erucakra.

Karakter metrum Kinanthi ini memiliki watak gandrung dan piwulang.
Anoman malumpat sampun, 8u
Praptêng witing nagasari, 8i
Mulat mangandhap katingal, 8a
Wanodyâyu kuru aking, 8i
Gelung rusak awor kisma, 8a
Ingkang iga-iga kêksi. 8i


6. Pangkur (7 gatra, gubahan, Ranggawarsita)

Lumuh tukua pawarta, 8a
Tan saranta nuruti hardengati, 11i
Satata tansah tinemu, 8u
Kataman martotama, 7a
Kadarmaning narendra sudibya sadu, 12u
Wus mangkana kalih samya, 8a
Sareng manguswa pada ji. 8i



7. Durma (Langendriyan)

Damarwulan aja ngucireng ngayuda, 12 a
Baliya sun anteni, 7 i
Mangsa sun mundura, 6 a
Lah Bisma den prayitna, 7 a
Katiban pusaka mami, 8 i
Mara tibakna, 5 a
Curiganira nuli. 7 i


8. Mijil (Haji Pamasa, Ranggawarsita)

Jalak uren mawurahan sami, 10 i
Samadya andon woh, 6 o
Amuwuhi malad wiyadine, 10 e
Ana manuk mamatuk sasari, 10 i
Angsoka sulastri, 6 i
Ruru karya gandrung. 6 u


9. Pucung (4 gatra)

Tuladha :
Ngelmu iku kelakone kanthi laku --> u
Lekase lawan kas --> a
Tegese kas nyantosani --> i
Setya budya pengekesing dur angkara --> a




Tembang Tengahan (Sekar Madya)

1. Jurudemung (7 gatra, Serat Pranacitra)

ni ajeng mring gandhok wétan, 8a
wus panggih lan Rara Mendut, 8u
alon wijilé kang wuwus, 8u
hèh Mendut pamintanira, 8a
adhedhasar adol bungkus,8u
wus katur sarta kalilan, 8a
déning jeng kyai Tumenggung, 8u.



2. Wirangrong (6 gatra, Serat Wulang Rèh anggitan Pakubuwana IV)

dèn samya marsudêng budi, 8i
wiwéka dipunwaspaos, 8o
aja-dumèh-dumèh bisa muwus, 10u
yèn tan pantes ugi, 6i
sanadyan mung sakecap, 7a
yèn tan pantes prenahira, 8a


3. Balabak (6 gatra, Serat Jaka Lodhang anggitan Ki Ranggawarsita)

Byar rahina Kèn Rara wus maring sendhang, 12a
mamèt wé, 3e
turut marga nyambi reramban janganan, 12a
antuké, 3e
praptêng wisma wusing nyapu atetebah, 12u
jogané, 3e



4.
Gambuh (5 gatra, Ki Padmosukoco)
Sekar gambuh ping catur, 7u
Kang cinatur polah kang kalantur, 10u
Tanpa tutur katula tula katali, 12i
Kadaluwarsa katutuh, 8u
Kapatuh pan dadi awon, 8o.



5. Megatruh (5 gatra, Babad Tanah Jawi anggitan Ki Yasadipura)

"sigra milir kang gèthèk sinangga bajul, 12u
"kawan dasa kang njagèni, 8i
"ing ngarsa miwah ing pungkur, 8u
"tanapi ing kanan kéring, 8i
"kang gèthèk lampahnya alon, 8o





Tembang Gede/Sekar Ageng

Girisa (8 gatra)

Metrum ini memiliki watak megah (mrebawani). Metrum ini diambil dari metrum kakawin dengan nama yang sama.
Dene utamaning nata, 8 a
Berbudi bawa leksana, 8 a
Lire berbudi mangkana, 8 a
Lila legawa ing driya, 8 a
Agung dennya paring dana, 8 a
Anggeganjar saben dina, 8 a
Lire kang bawa leksana, 8 a
Anetepi pangandika. 8 a


Sumber pustaka

  1. Lilang Laras Jiwo, 2012, Gambar Penampilan Gendhing Jati Kendang oleh sinden pagelaran karawitan, Yogyakarta
  2. Karsono H. Saputra, 1992, Pengantar Sekar Macapat. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. ISBN 979-8184-02-5
  3. Poerbatjaraka, 1952, Kapustakan Djawi. Djakarta: Djambatan
  4. Prijohoetomo, 1934, Nawaruci : inleiding, Middel-Javaansche prozatekst, vertaling vergeleken met de Bimasoetji in oud-Javaansch metrum. Groningen: Wolters
  5. I.C. Sudjarwadi et al., 1980, Seni macapat Madura: laporan penelitian. Oleh Team Penelitian Fakultas Sastra, Universitas Negeri Jember. Jember: Universitas Negeri Jember.
  6. Bernard Arps, 1992, Tembang in two traditions: performance and interpretation of Javanese literature. London: SOAS
  7. Hedi I.R. Hinzler, 1994, Gita Yuddha Mengwi or Kidung Ndèrèt. A facsimile edition of manuscript Cod. Or. 23.059 in the Library of Leiden University. Leiden: ILDEP/Legatum Warnerianum
  8. Th. C. van der Meij, 2002, Puspakrema. A Javanese Romance from Lombok. Leiden: CNWS. ISBN 90-5789-071-2
  9. Th. Pigeaud, 1967, Literature of Java. Catalogue Raisonné of Javanese Manuscripts in the Library of the University of Leiden and other public collections in the Netherlands. Volume I. Synopsis of Javanese Literature 900 - 1900 A.D. The Hague: Martinus Nyhoff
  10. J.J. Ras, 1982, Inleiding tot het modern Javaans. Leiden: KITLV uitgeverij. ISBN 90-6718-073-4