16 Apr 2019

GEMPITA PEMILIHAN UMUM 2019

Kampanye Pamungkas Paslon 01 Jokowi/Ma'ruf, GBK 13/4/19
Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 adalah pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 sebagai dasar hukum penyelenaggaraan Pemilihan Presiden, DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten yang diselenggarakan secara serentak dalam satu waktu. 

Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Dan dalam menyelenggarakan pemilu, penyelenggara pemilu harus melaksanakan Pemilu berdasarkan pada asas sebagaimana dimaksud, dan penyelenggaraannya harus memenuhi prinsip mandiri, jujur, adil, berkepastian hukum, tertib, terbuka, proporsional, profesional, akuntabel, efektif, dan efisien.

Tahapan Pemilu kali ini sangat unik, Calon Presiden (Capres) dari Partai tertentu dan Calon Legislatif dari masing-masing partai berlomba merebut calon pemilih dalam satu kesempatan yang sama pada saat masa kampanye. Untuk pemilihan Presiden, sudah jelas mudah diketahui, diingat dan dikenal oleh Calon pemilih. Tetapi dipastikan calon pemilih tidak hafal para Calon Legislatif baik DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi maupun DPRD Kota/Kabupaten. Jelas Partai dimana pengusung Capres akan mendapatkan keuntungan karena sebagian besar warga pemilih tidak faham siapa calon wakil rakyat yang akan dipilih. Secara mudah pemilih akan memilih Calon legislatif dari partai yang sama dengan Capres peserta Pemilu.Oleh karenanya kampanye oleh Partai Peserta Pemilu juga tidak kalah penting, oleh karena amanat Undang-undang, keterwakilan Partai di DPR hanya diperbolehkan jika melewati 4% dari total pemilih Nasional atau sekitar 7,6 juta pemilih jika total pemilih seluruh Indonesia 190 juta orang (cukup berat). Dari 16 Partai kontestan Pemilu pasti ada yang terpental tidak bisa menduduki kursi DPR. 


Kesigapan TNI untuk antisipasi gangguan keamanan Pemilu
Keberpihakan adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Faktor kesukuan, almamater, ideologi, kedaerahan dan sentimen agama tidak bisa lepas dari suasana bathin masing-masing individu. Namun ada situasi yang menjadikan pemilih menaruh empati kepada Capres dan Cawapres, yaitu kepribadian, karakteristik, jejak pengalaman masa lalu, kinerja dan wawasan kedepan yang menyebabkan seseorang pemilih manjatuhkan pilihannya. Adapun faktor keturunan kebangsawanan "darah biru" tidak lagi menjadi faktor penentu jatuhnya pilihan seseorang terhadap salah satu Capres/Cawapres. 
Friksi dalam berfikir dan berperasaan atas perbedaan pilihan pasti ada. Diharapkan jangan sampai terjadi friksi secara fisik, apalagi sampai mengumpulkan massa untuk memerangi pendukung pilihan yang lain. Demi keutuhan NKRI, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan POLRI sigap mengantisipasi gangguan ancaman keamanan. 

Entah kebetulan atau memang sudah takdir seseorang, bahwa Aura Positif Capres/Cawapres merebak menular dan merajalela dari satu orang kepada orang lainnya. Itulah yang disebut "aura positip" sehingga menimbulkan magnet ketertarikan yang semakin kuat dan semakin kuat. Kampanye Akbar adalah representasi dari keterpengaruhan seseorang Capres/Cawapres, dalam mengumpulkan massanya. Hal tersebut tidak lepas juga dari peran Panitia Pemenangan masing-masing.

Capres/Cawapres Pemilu 2019 datang dari dua sudut antagonis. Capres 01 (Joko Widodo/KH Ma'ruf Amin) hadir dari representasi "wong cilik" yang mempunyai sejarah kelam di masa kecil sampai tumbuh dewasa berwiraswasta dan Cawapres dari golongan Rohaniwan berpengaruh di Tanah Banten. Sedangkan Capres/Cawapres 02 (Prabowo Subiyanto/Sandiaga Uno) datang dari keluarga berada, terdukung dengan kapital materi yang lebih dari cukup. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan jika diukur dari kapabilitas kepemimpinannya. 

Saat redup, ada sinar matahari mengenai punggung Jokowi yg sdg orasi
Gegap gempita pesta Kampanye Pemilu 2019 dari Kubu 01 berakhir dengan acara Konser #PutihBersatu di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta pada tanggal 13 April 2019. Lautan manusia memenuhi Tribun dan Lapangan GBK berikut ruang-ruang kosong diluar GBK. Semoga Pemilu 2019 akan terpilih Presiden yang dikehendaki oleh Sebagian Besar Warga Negara Indonesia dalam kondisi aman, tertib, lancar dan sukses.
Amin

Selesai pilpres tanggal 17 April 2019 sambil menunggu hasil penghitungan suara KPU, sistem hitung cepat (quick count) dari 4 Lembaga Survey sudah bisa menayangkan keunggulan perolehan suara.  Kecanggihan quick count dalam kiprahnya pada Pilpres 2019 telah menunjukkan hasil sementara berdasarkan data sampling. Akurasi penghitungan antara 1 - 5 % dengan perolehan 01 : 02 berkisar 55% : 45 %, membuat kedua kubu saling serang dengan narasi yang menegangkan, seakan-akan kedua kubu akan melakukan perang.

Ternyata setelah KPU mengumumkan hasil penghitungan manual, hasilnya adalah 55,5 % : 44,5 %, berarti
Hasil Penghitungan Riil KPU Pilpres 2019, menjelang akhir penghitungan
sistem hitung cepat bisa digunakan untuk menduga hasil penghitungan riil. Namun Kubu 02 (Prabowo/Sani Uno) tidak terima dan memilih menempuh jalur hukum dengan dalil-dalil yang diamanahkan pada Undang-undang Pemilihan Umum No.7 tahun 2017, yangmana ada celah menuntut keadilan atas hasil Pemilu 2019 yaitu dugaan Terstruktur, Sistematis dan Massif (TSM).

Upaya hukum Pasangan Prabowo/Sandi yang dialamatkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) ditolak artinya bukti-bukti dalil TSM tidak bisa dibuktikan secara fisik, saksi pelaku dan administratif yang meyakinkan. Gagal di Bawaslu kemudian ditingkatkan ke Mahkamah Konstitusi (MK). 
Pengadilan di MK pun kandas karena pemohon (02) tidak bisa membuktikan dalil TSM di persidangan. Berdasarkan hasil persidangan sengketa perolehan suara di MK, akhirnya tanggal 12 Juli 2019 Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan hasil Pilpres bahwa Pasangan Jokowi/Ma'ruf Amin sebagai Pemenang Pemilu 2019. Jokowi/Prabowo melakukan pertemuan informal di Moda Transportasi Massal MRT pada tanggal 13 Juli 2019 sebagai bentuk silaturahmi kembali kedua Tokoh Politik yang bersaing, berseteru selama masa kampanye 8 (delapan) bulan sebelumnya dan drama kompetisi Pilpres 2019 berakhir sampai disini. 

Pada tanggal 14 Juli 2019 Presiden/Wakil Presiden terpilih melakukan festival di Sentul Internasional Convention Center yang digalang oleh Tim Kemenangan Nasional kubu 01 yang diketuai Bapak Erick Tohir Jokowi menyampaikan rasa terimakasih kepada seluruh pendukungnya dan kepada seluruh rakyat Indonesia umumnya bahwa Pilpres 2019 telah dilaksanakan dengan aman, penuh kesadaran tinggi sampai terpilihnya Presiden/Wakil Presiden (Jokowi/Ma'ruf Amin) masa bakti 2019 -2024.